18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Asma binti Abu Bakar ra, Isteri yang Selalu Memikirkan Perasaan Suaminya

Asma binti Abu Bakar ra, Isteri yang Selalu Memikirkan Perasaan Suaminya


Fiqhislam.com - Para Istri Rasulullah dan Sahabat banyak yang dapat menjadi teladan bagi perempuan di zaman sekarang untuk menjadi istri sholehah. Salah satunya Asma binti Abu Bakar ra. Ia adalah anak perempuan Abu Bakar ra dan saudara Aisyah r.ha, istri Rasulullah SAW. Ia sangat tabah menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan selalu menjaga perasaan suaminya.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa ibu dari Abdullah bin Zubair ra sekaligus sahabiyah yang terkenal ini, telah masuk Islam sejak awal. Diriwayatkan bahwa Asma r.ha masuk Islam setelah tujuh belas orang masuk Islam, dan ia lahir 27 tahun sebelum Hijrah. Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra hijrah dan tiba di Madinah, Abu Bakar ra menyuruh Zaid dan beberapa orang lainnya untuk mengambil Asma dan keluarganya ke Madinah. Asma pun ikut hijrah bersama mereka.

Setibanya di Quba, ia melahirkan Abdullah bin Zubair ra, bayi yang pertama lahir setelah hijrah. Pada masa-masa itu terjadi banyak kesulitan, kesusahan, dan kemisikinan, dan kelaparan yang menimpa kaum Muslimin.

Dalam riwayat Bukhari, Asma r.ha menceritakan sendiri keadaan hidupnya. “Ketika pernikahanku dengan Zubair, ia tidak memiliki harta sedikit pun. Tidak ada harta benda, tidak ada pembantu, dan tidak ada apa pun kecuali hanya seekor unta dan kuda yang biasannya digunakan untuk membawa air serta rumput. Akulah yang menumbuk kurma untuk makan hewan-hewan tersebut. Aku yang mengisi tempat air sendirian. Jika embernya pecah, aku sendiri yang memperbaikinya,” ujar Asma r.ha.

“Aku yang merawat dan mengurus kuda, mencarikan rumput, dan memberinya makan. Semua pekerjaan rumah juga aku kerjakan sendiri. Dari semua pekerjaan yang paling sulit bagiku ialah memelihara kuda, dan aku kurang pandai membuat roti. Biasanya aku hanya membuat adonan roti dengan air, lalu akan aku serahkan kepada tetanggaku, seorang perempuan Anshar untuk memasaknya. Ia seorang perempuan yang sangat ikhlas dan suka memasakkan roti untukku,” lanjut Asma r.ha.

Ketika Rasululllah SAW tiba di Madinah, Zubair diberi sebidang tanah oleh Beliau. Jaraknya kurang lebih dua mil dari Madinah. Dari sana Asma r.ha selalu membawa biji-bijian kurma yang diusung di atas kepalanya. Pada suatu hari, ketika sedang berjalan dari kebun itu dengan keranjang di atas kepalanya, ia bertemu dengann Rasulullah SAW dan beberapa sahabat Anshar yang menunggang unta.

Begitu melihat Asma r.ha, Rasulullah menghentikan untanya dan mengisyaratkan agar ia menaikinya. Tetapi Asma r.ha sangat malu dengan laki-laki dan sangat khawatir terhadap suaminya, Zubair ra yang sangat pencemburu. Ia takut suaminya akan marah. Rasulullah SAW memahami perasaannya, sehingga Beliau meneruskan perjalanannya.

Asma r.ha segera pulang ke rumah. Setibanya di sana, ia menceritakan kejadian tersebut kepada suaminya. Betapa sangat malu dan khawatirnya ia akan rasa cemburu Zubair ra yang mungkin menyebabkannya marah. Zubair ra berkata, “Demi Allah, aku lebih cemburu kepadamu yang selalu membawa biji-bijian kurma di atas kepalamu. Sedangkan aku tidak dapat membantumu.” Sebenarnya Zubair ra melakukannya dengan terpaksa karena para suami sibuk berjihad dan urusan agama lainnya. [yy/republika]