11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Ibnu Taimiyah, Butuh Waktu Lama untuk Mengupas Kecerdasan dan Kejeniusnya

Ibnu Taimiyah, Butuh Waktu Lama untuk Mengupas Kecerdasan dan Kejeniusnya

Fiqhislam.com - Nama lengkapnya adalah Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah al-Harrani. Ulama yang dilahirkan pada 661 H dan wafat pada 728 H ini adalah seorang imam kaum Muslimin yang amat luas pengetahuan agamanya. Selain menguasai berbagai disiplin ilmu, ia juga menjiwai berbagai kebijaksanaan.

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai sosok yang kemasyhurannya mampu menutupi kemasyhuran orang-orang terkenal di zamannya. Keluhuran kepribadiannya pun selalu menjadi buah bibir umat manusia. Ulama yang juga dijuluki Syaikhul Islam ini adalah imam dalam kebaikan, juga Muslim teladan dalam pentunjuk dan ketakwaan.

Dr Muhammad bin Ibrahim al-Hamad dalam buku al-Himmah al-Aaliyah: Muawwiqaatuhaawa Muqawwimaatuhaa (dalam versi Indonesia diterjemahkan dengan judul Mental Juara, Red) mengungkapkan, diperlukan waktu yang lama untuk mengupas kecerdasan dan kejeniusan Ibnu Taimiyah. "Sebab, sisi-sisi kebesaran dalam kepribadiannya sangat banyak dan sulit dibatasi," tulis Dr al-Hamad.

Dalam buku yang sama disebutkan, jika orang-orang mendatangi Ibnu Taimiyah, niscaya mereka seolah akan mendapati air bah yang meluap dan lautan yang berombak. Itu dikarenakan keluasan dan limpahan ilmu yang Allah SWT anugerahkan kepada sang imam.

Al-Hafizh al-Bazzar menuturkan, di antara bukti keluasan ilmu Ibnu Taimiyah adalah pengetahuannya yang mendalam tentang berbagai disiplin ilmu Alquran. Termasuk metode pengambilan hukumnya secara terinci; penukilannya terhadap perkataan ulama ketika menafsirkannya, dan penukilannya akan berbagai dalil pendukung.

"Dilihat dari berbagai keistimewaannya, untaian hikmahnya, hal yang menakjubkan tentang dirinya, kefasihannya yang begitu mengagumkan, serta kebaikan-kebaikannya yang begitu jelas, maka sungguh ia (Ibnu Taimiyah) berada di puncak tertinggi dalam semua itu," ungkapal-Bazzar. [yy/republika]

 

Ibnu Taimiyah, Butuh Waktu Lama untuk Mengupas Kecerdasan dan Kejeniusnya

Fiqhislam.com - Nama lengkapnya adalah Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah al-Harrani. Ulama yang dilahirkan pada 661 H dan wafat pada 728 H ini adalah seorang imam kaum Muslimin yang amat luas pengetahuan agamanya. Selain menguasai berbagai disiplin ilmu, ia juga menjiwai berbagai kebijaksanaan.

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai sosok yang kemasyhurannya mampu menutupi kemasyhuran orang-orang terkenal di zamannya. Keluhuran kepribadiannya pun selalu menjadi buah bibir umat manusia. Ulama yang juga dijuluki Syaikhul Islam ini adalah imam dalam kebaikan, juga Muslim teladan dalam pentunjuk dan ketakwaan.

Dr Muhammad bin Ibrahim al-Hamad dalam buku al-Himmah al-Aaliyah: Muawwiqaatuhaawa Muqawwimaatuhaa (dalam versi Indonesia diterjemahkan dengan judul Mental Juara, Red) mengungkapkan, diperlukan waktu yang lama untuk mengupas kecerdasan dan kejeniusan Ibnu Taimiyah. "Sebab, sisi-sisi kebesaran dalam kepribadiannya sangat banyak dan sulit dibatasi," tulis Dr al-Hamad.

Dalam buku yang sama disebutkan, jika orang-orang mendatangi Ibnu Taimiyah, niscaya mereka seolah akan mendapati air bah yang meluap dan lautan yang berombak. Itu dikarenakan keluasan dan limpahan ilmu yang Allah SWT anugerahkan kepada sang imam.

Al-Hafizh al-Bazzar menuturkan, di antara bukti keluasan ilmu Ibnu Taimiyah adalah pengetahuannya yang mendalam tentang berbagai disiplin ilmu Alquran. Termasuk metode pengambilan hukumnya secara terinci; penukilannya terhadap perkataan ulama ketika menafsirkannya, dan penukilannya akan berbagai dalil pendukung.

"Dilihat dari berbagai keistimewaannya, untaian hikmahnya, hal yang menakjubkan tentang dirinya, kefasihannya yang begitu mengagumkan, serta kebaikan-kebaikannya yang begitu jelas, maka sungguh ia (Ibnu Taimiyah) berada di puncak tertinggi dalam semua itu," ungkapal-Bazzar. [yy/republika]

 

Jeruji Besi tidak Menghalangi Sang Imam untuk Berkarya

Jeruji Besi tidak Menghalangi Sang Imam untuk Berkarya


Fiqhislam.com - Pengetahuan dan ilmu yang dimiliki Ibnu Taimiyah mengenai sunah Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, ketetapan hukum, dan aktivitas sehari-hari Beliau SAW, juga sangat luas. Ia termasuk orang yang sangat teliti dalam mempelajari riwayat yang sahih maupun tidak sahih dari Nabi SAW dan para sahabat.

"Hampir tidak ada satu pun fatwa, penukilan, pendalilan, ataupun perkataan yang ia sebutkan dalam suatu kitab, melainkan pasti bisa dinisbatkan kepada literatur yang tepat," kata al-Bazzar.

Saat berada di Mesir, Ibnu Taimiyah pernah menghadapi ujian yang berat. Di negeri itu, ditangkap oleh penguasa setempat dan dijebloskan ke penjara. Namun, jeruji besi ternyata tidak menghalangi sang imam untuk berkarya. Sebagai bukti, selama berada di dalam penjara itu ia sempat membuahkan beberapa kitab, baik yang berukuran kecil maupun besar.

Di dalam kitab-kitab itu, Ibnu Taimiyah bahkan mampu mencantumkan hadis-hadis Nabi SAW, atsar para sahabat, perkataan para ulama, nama-nama ahli hadis, serta para penulis yang ia jadikan sebagai rujukan, lengkap dengan identitas mereka. "Semua kitab baru yang dia (Ibnu Taimiyah) tulis dalam penjara itu bersifat spontan dari hafalannya, karena pada waktu itu tidak ada satu pun kitab yang bisa dibacanya lantaran penguasa Mesir menghalanginya untuk mengakses bahan bacaandari luar," ucap al-Bazzar lagi.

Berbagai tulisan, karangan, dan fatwa Ibnu Taimiyah sungguh teramat banyak dan sulit sekali untuk diteliti. Oleh karenanya, jarang sekali kita temukan penulis sekarang yang tidak menjadikan karya-karya Ibnu Taimiyah sebagai rujukannya. Baik dalam masalah akidah, fikih, hadis, filsafat, logika, pendidikan, akhlak, politik, ekonomi, maupun disiplin ilmu agama yang lain. [yy/republika]

 

Kecintaannya pada Ibadah Luar Biasa dan Menakjubkan

Kecintaannya pada Ibadah Luar Biasa dan Menakjubkan


Fiqhislam.com - Ibadah Ibnu Taimiyah begitu luar biasa. Penyebabnya tidak lain adalah kesabaran yang menakjubkan dan kecintaannya pada ibadah yang Allah SWT berikan kepadanya.

Salah seorang muridnya, Ibnual-Qayyim al-Jauziyah menceritakan, satu ketika, aku bertemu dengan Syaikhul Islam di masjid dan melaksanakan shalat Fajar (Subuh) bersama-sama. Setelah itu, ia berzikir menyebut asma Allah SWT hingga menjelang tengah hari.

Kemudian, ia menoleh ke arahku dan berkata, "Inilah sarapanku. Sekiranya aku tidak melakukannya, niscaya kekuatanku melemah". Ia juga pernah berkata, "Tidaklah aku meninggalkan zikir kepada Allah kecuali untuk mengistirahatkan diriku. Ini dilakukan agar dengan istirahat itu aku bisa mempersiapkan diri untuk melakukan zikir yang lain".

Al-Bazzaryang juga murid dariIbnu Taimiyah mengatakan, sang guru mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk beribadah. Ibnu Taimiyah tidak pernah menyibukkan diri dengan kesibukan yang dapat melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT, baik yang menyangkut urusan keluarga maupun harta benda.

Pada malam hari, ia mengasingkan diri dari semua orang, menyendiri untuk beribadah dan menundukkan diri kepada Sang Pencipta, membaca Alquran, dan mengulangi berbagai bentuk ibadah siang maupun malam. Setelah malam berlalu, ia berkumpul dengan kaum Muslim dan melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah. Sebelum mengimami mereka, ia mengerjakan shalat sunat Fajar.

"Setiap orang yang pernah melihat Ibnu Taimiyah, terkhusus mereka yang sudah berada di dekatnya begitu lama, setuju bahwa tidak pernah melihat orang yang zuhud terhadap dunia seperti dirinya," ucap al-Bazzar.

Mengenai akhlak sang Syaikhul Islam, al-Allamah Imaduddin al-Wasithi mengungkapkan, "Tidak pernah aku lihat pada zaman ini orang yang benar-benar mengamalkan sunah Rasulullah SAW, baik pada perkataan maupun perbuatannya, kecuali pada diri Ibnu Taimiyah. Hati yang bersih pasti akan mempersaksikannya sebagai pengikut sunah Rasulullah SAW".

Ibnu al-Qayyim juga memaparkan keluhuran akhlak dan sikap sifat pemaaf yang dimiliki Ibnu Taimiyah. Bahkan kebaikan pekerti sang imam juga ia tunjukkan kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Sungguh, aku tidak pernah mendengar Syaikh (Ibnu Taimiyah) mendoakan keburukan untuk orang lain. "Justru sebaliknya, ia mendoakan mereka dengan dengan kebaikan," tuturnya.

Pernah pada satu hari, Ibnual-Qayyim menemui Ibnu Taimiyah untuk memberi kabar tentang kematian musuh terbesarnya atau orang yang paling memusuhinya. Bukannya menunjukkan rasa senang, Ibnu Taimiyah malah menghardik Ibnu al-Qayyim, mengingkari perbuatan sang murid, dan lalu mengucapkan istirja (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun).

Setelah itu, ia (Ibnu Taimiyah) langsung pergi ke rumah keluarga musuhnya itu, menghibur mereka, dan berkata Aku akan membantu memenuhi kebutuhan kalian. "Mendengar pernyataan tersebut, mereka senang sekali, sehingga mendoakan kebaikan untuk Syaikhul Islam dan memuliakannya," ungkap Ibnual-Qayyim.

Semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan meridhai Ibnu Taimiyah. Aamiin. [yy/republika]