19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Saat Sahabat Konsultasikan Hadits Multitafsir ke Rasulullah

Saat Sahabat Konsultasikan Hadits Multitafsir ke Rasulullah

Fiqhislam.com - Silsilah pemahaman hadits memang bermula saat Nabi Muhammad SAW masih hidup.

Musykilat hadits pada masa tersebut relatif belum kompleks, mengingat cakupannya hanya seputar pemahaman saja, jarang terjadi problem seputar validitas ataupun redaksi.

Najih Arramadloni dalam buku Daulah Islamiyah dalam Alquran dan Sunnah menjelaskan bahwa di masa Nabi apabila ada sahabat yang ingin mendapatkan pemahaman yang benar tentang sebuah hadits , mereka bisa langsung meminta penjelasannya dari Nabi.

Mereka pun dapat memperoleh pemahaman hadits dari majelis formal maupun non-formal sebagaimana yang pernah terjadi pada Uqbah bin Harits yang menanyakan langsung kepada Nabi perihal hukum menikahi saudara sepersusuan yang tidak dia ketahui sebelumnya.

Sedangkan apabila ada sahabat yang tidak dapat menemui Nabi secara langsung, mereka dapat menanyakannya pada sahabat yang lain. Hal ini sebagaimana kisah Sayyidina Umar bin Khattab dan seorang tetangganya yang secara bergantian mengikuti majelis Nabi untuk menerima penjelasan langsung dari sang kekasih Allah itu.

Meski demikian, Nabi tidak menutup adanya peluang kemungkinan ragam pendapat atas hadits yang beliau sampaikan. Terbukti, para sahabat sempat tidak sejalan dalam memahami hadits berikut, “Janganlah kalian sholat Ashar kecuali telah sampai di daerah Bani Quraidzah.”

Para sahabat saling berbeda pendapat, sebagian memahami bahwa secara substansial hadits tersebut merupakan perintah untuk bergegas dalam perjalanan agar dapat tiba di tempat tujuan pada waktu Ashar.

Sehingga jika waktu Ashar sudah tiba namun mereka belum sampai di tempat tujuan, maka boleh sholat Ashar di mana saja dan tidak harus menundanya sampai di perkampungan Bani Quraidzah.

Itu artinya, golongan sahabat ini tidak memahami hadits tersebut sebagaimana bunyi teksnya. Di mana terdapat larangan sholat Ashar kecuali telah tiba di perkampungan Bani Quraidzah. Sedangkan sebagian sahabat lainnya memahami berbeda.

Menurut sahabat di kalangan ini, hadits tersebut adalah pesan Rasulullah SAW untuk hanya sholat Ashar di perkampungan Bani Quraidzah dan tidak boleh sholat di lain tempat meski waktu sholat Ashar telah masuk.

Saat kembali dari Bani Quraidzah, para sahabat menceritakan peristiwa tersebut kepada Nabi untuk meminta penjelasan. Kemudian oleh Nabi, kedua pemahaman tersebut dibenarkan.

Kebiasaan para sahabat untuk memnta klarifikasi atas sebuah persoalan langsung kepada Nabi, di kemudian hari dikenal dengan nama metode kritik matan.

Yakni menjelaskan kebenaran atau ketidakbenaran penisbatan teks hadits kepada Rasulullah SAW. Kebenaran ini dalam ilmu hadits diperoleh dengan cara mengetahui apakah teks sebuah hadits itu bebas dari shuzuz (kejanggalan) dan illat (cacat).

Sejarah pemahaman hadits juga berlanjut hingga generasi setelah Nabi wafat. Masa ini ditandai dengan kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadits.

Hal ini dilatarbelakangi kekhawatiran para sahabat atas ancaman untuk orang-orang yang berani berdusta atas nama Rasulullah SAW, serta kekhawatiran tercampurnya Alquran dengan hadits .

Kehati-hatian yang sama juga dilakukan para sahabat dalam menerima suatu hadits sebagaimana yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar yang melakukan kroscek ke sahabat yang lain tentang validitas sebuah hadits. Sebab pascawafatnya Nabi Muhammad, situasi tidak lagi sama.

Para sahabat tidak lagi dapat secara leluasa menanyakan maksud suatu hadits secara langsung kepada sumbernya. Karenanya, interpretasi terhadap hadits pun semakin beragam.

Ditambah dengan kesenjangan kapasitas antar-sahabat dalam mencerna hadits , keragaman pemahaman terhadap suatu hadits semakin tidak mungkin untuk dibendung.

Belum lagi perbedaan kapasitas intelektual para sahabat. Maka tentang keragaman pemahaman ini, kalangan sahabat memberikan dua macam respons pertama, sebagian sahabat memilih untuk diam.

Dan kedua, sahabat memberikan komentar berupa kritik. Hal ini dilakukan dengan mengkonfirmasi sebuah pemahaman dengan nash Alquran atau dengan hadits -hadits yang lain. [yy/republika]