24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Mengenal Ummu Kultsum, Putri Rasulullah Saw

Mengenal Ummu Kultsum, Putri Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Kedua mata Rasulullah SAW berbinar bahagia atas keselamatan sang istri yang suci, Khadijah r.a karena telah melahirkan putri ketiga dari sulbi yang suci memancarkan cahaya dan iman. Sementara itu, kondisi Makkah dalam kekacauan akibat pertikaian kaum musyrikin dan para pengikut Islam.

Sang gadis kecil, Ummu Kultsum, tumbuh besar bersama saudarinya Ruqayyah. Keduanya selalu bersama-sama laksana dua anak kembar Rasulullah SAW.

Bahkan keduanya putri Rasulullah itu selalu bersama sampai tumbuh menjadi remaja dan memasuki ambang usia untuk menikah. Lalu datanglah Utaibah ibn Abi Lahab datang melamar dan mendapat persetujuan dari Rasulullah untuk menikahi Ummu Kultsum.

Ummu Kultsum berdebar senang dan bahagia. Ia membayangkan jika Abu Lahab mendatangi ayahnya, Rasulullah SAW untuk mengucapkan kalimat syahadat. Hal itu karena saudarinya, Ruqayyah, telah menjadi istri `Utbah ibn Abi Lahab sementara dirinya sedang menanti pernikahan dengan saudara Utbah, yaitu Utaibah.

Namun bayangan yang indah hanya jadi banyangan. Fakatnya perseteruan antara Rasulullah dan pamannya Abu Lahab justru semakin sengit.

Perseteruan itu semakin dikobarkan oleh Ummu Jamil si wanita pembawa kayu bakar, istri Abu Lahab. Ia berkata kepada kedua anaknya, “Kepalaku haram terhadap kepala kalian jika kalian tidak menceraikan kedua putri Muhammad.”

Kedua putri Rasulullah, Ummu Kultsum dan Ruqayyah akhirnya dikembalikan kepada Rasulullah. Namun alhamdullilah, keduanya belum dicampuri oleh suami mereka Utbah dan Utaibah.

Utaibah ibn Abi Lahab tidak hanya menceraikan Ummu Kultsum, tetapi ia juga pergi menemui Rasulullah untuk merendahkan beliau di depan umum. Oleh karena itu, Rasulullah berdoa agar Allah menguasakan seekor anjing terhadap dirinya.

Beberapa waktu kemudian, Utaibah diterkam oleh seekor harimau di tengah beberapa orang kawannya yang sedang tidur di sekelilingnya. Demikianlah, dengan perceraian itu selamatlah Ummu Kultsum dari kesengsaraan hidup suaminya yang jahat dan ibu mertuanya yang jahat pula, si pembawa kayu bakar.

Demikian juga Ruqayyah juga selamat setelah bercerai dengan Utbah ibn Abi Lahab anak si Abu Lahab. Apalagi setelah bercerai, Ruqyyah malah menikah dengan sahabat Nabi yang berakhlak mulia  Utsman ibn Affan. Akhirnya keduanya hijrah ke Habasyah.

Ummu Kultsum masih tinggal bersama adik kecilnya, Fathimah, dalam rumah sang ayah, Muhammad Rasulullah, di Makkah. Mereka menemani sang ibu Khadijah Ummul Mukminin r.a. dalam menanggung beban kehidupan dan meringankan kepedihan sang ayah karena gangguan kaum Quraisy.

Kebodohan kaum Quraisy telah mencapai puncaknya dalam bentuk penyiksaan terhadap Rasulullah dan kaum muslimin yang menjadi pengikut beliau.

Penyiksaan itu semakin keras setelah Hamzah ibn Abdul Muththalib menyatakan diri masuk islam lalu diikuti oleh Umar ibn Khaththab r.a.

Ketika telah kehabisan akal, kaum Quraisy menawarkan kepada Bani Abdi Manaf untuk menyerahkan Rasulullah kepada mereka dengan diyat yang berlipat ganda. Namun, Bani Abdi Manaf menolak tawaran tersebut.

Selanjutnya, mereka menawarkan kepada Abu Thalib bahwa mereka akan memberikan pemuda yang paling terhormat di antara seluruh pemuda Quraisy asalkan Abu Thalib mau menyerahkan keponakannya, Muhammad SAW kepada mereka.

Namun, Abu Thalib menjawab, “Aku heran kepada kalian, kalian berikan anak kalian untuk aku beri makan sementara aku berikan putraku untuk kalian bunuh!”

Setelah melihat sikap Abu Thalib, mereka sepakat untuk mengucilkan Bani Hasyim dan Bani Muththalib, dua anak Abdu Manaf, dan mengusir mereka dari bumi Makkah serta menekan kehidupan mereka.

Kaum Quraisy tidak boleh menjual kepada atau membeli apa pun dari Bani Hasyim sampai mereka mau menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Mereka menulis kesepakatan tersebut dalam sebuah dokumen yang digantungkan di pintu Kakbah.

Akibatnya, Bani Hasyim mengungsi ke tanah Abu Thalib, diikuti para Bani Muththalib, baik yang muslim maupun kafir, kecuali Abu Lahab yang bergabung bersama kelompok Quraisy.

Dalam pemboikotan ini, kaum muslimin dan Bani Hasyim yang berpihak kepada mereka mengalami kesulitan serta tekanan ekonomi dan sosial yang sangat berat.

Bahkan, mereka sampai memakan daun-daun pepohonan. Mereka bertahan dalam keadaan demikian sekitar tiga tahun tanpa ada bekal yang sampai kepada mereka, kecuali yang datang secara diam-diam.

Menggambarkan kelaparan ini, Sa`d ibn Abi Waqqash menceritakan, “Aku mengalami kelaparan sampai suatu malam aku menyentuh sesuatu yang basah lalu kuambil dan kumasukkan ke dalam mulut. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah sesuatu itu.”

Mereka menceritakan bahwa Hisyam ibn `Amar ibn Rabi`ah al-`Amiri pada suatu malam mengirim seekor unta yang mengangkut makanan. Ketika unta itu memasuki daerah kaum muslimin, Hisyam melepaskan tali kekang unta dan menghelanya.

Unta itu pun membawa masuk makanan yang diangkutnya ke tengah-tengah Bahi Hasyim dan Bani Muththalib.

Di tengah peristiwa pemboikotan itu, Ummu Kultsum r.a. harus memikul tanggung jawab yang paling berat. Sang ibu yang suci, Khadijah, jatuh sakit hingga terbaring di atas ranjang karena sakitnya kian parah.

Sementara itu, adik kecilnya, Fathimah az-Zahra, sangat membutuhkan perhatian dan perlindungan. Tidak ada orang lain selain dirinya yang mungkin memberikan perawatan kepada sang ibu dan memberikan perhatian kepada adiknya, ditambah dengan tugas untuk meringankan beban duka dan kesedihan sang ayah, Rasulullah.

Akhirnya, kaum muslimin keluar dari pemboikotan dengan iman yang semakin kuat. Pengalaman pahit itu pun justru semakin meneguhkan tekat mereka.

Di dalam rumah Nabi, di Makkah al-Mukarramah, Ummul Mukminin nan suci, Khadijah sedang menjalani detik-detik akhir masa hidupnya sementara ketiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah, mengelilinginya.

Sang suami tercinta, Rasulullah Muhammad turut berada di sisinya untuk meringankan beban sakarulmaut yang sedang ia alami dan menberikan kabar gembira atas nikmat yang telah menanti.

Ummu Kultsum menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia tidak sanggup memandang sang ibu nan suci yang sedang mengalami sakaratulmaut itu.

Beberapa mata yang berlinang berpaling kepada Khadijah seakan hendak menghentikan rintihan yang menyakitkan sang wanita suci itu. Ummu Kultsum meninggalkan ruangan dengan air mata yang terus mengalir.

Namun, ia bertemu dengan sang ayah, Rasulullah di ambang pintu, berdiri dengan air mata berlinang.

Setelah kepergian mendiang sang wanita suci, Ummul Mukminin Khadijah r.a., rumah itu pun menjadi sunyi seolah tiada berpenghuni meskipun Ummu Kultsum, Fathimah, dan Zainab masih mengisi rumah itu.

Rumah itu telah berubah menjadi rumah tanpa nyawa, pelita tanpa minyak, dan hati tanpa cinta. Himpitan duka semakin terasa saat Rasulullah memasuki rumah dengan lunglai, memeriksa ke seluruh sudut seakan sedang mencari pengurus rumah yang telah pergi.

Beberapa waktu setelah kepergian mendiang Ummu Mukminin nan suci itu, Rasulullah kembali tertimpa oleh musibah serupa, yaitu meninggalnya sang paman, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pendukung dalam dakwahnya, pelindung bagi dirinya, serta tameng dan penolong untuk menghadapi kaumnya.

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum Quraisy menimpakan kejahatan terhadap Rasulullah. Kejahatan yang tak terbayangkan pada masa hidup Abu Thalib.

Bahkan, seorang yang paling bodoh di antara kaum Quraisy pun sampai berani menghadang Rasulullah dan menyiramkan debu di kepala beliau. Rasulullah memasuki rumah dengan debu yang masih memenuhi kepala. Sambil menangis, Ummu Kultsum segera mendekati dan membasuh debu di kepala Rasulullah.

Selanjutnya, beliau bersabda, “Jangan menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah pasti melindungimu dan ayahmu.”

Ibnu Ishaq mengatakan, “Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama. Dengan kepergian Khadijah, Rasulullah mengalami musibah yang bertubi-tubi. Bagi Rasulullah, Khadijah adalah pendamping setia untuk mendakwahkan Islam dan tempat beliau mengadu.

Begitu juga dengan Abu Thalib yang merupakan pembela dan pelindung bagi beliau. Ia merupakan penjaga dan penolong beliau dalam menghadapi kaumnya. Semua ini terjadi tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Sabar telah menjadi sahabat Rasulullah yang paling setia ditemani oleh para putrinya dan orang-orang beriman kepada Allah saat beliau menghadapi berbagai kesulitan besar itu. Akhirnya, Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Yastrib terlebih dahulu. Setelah itu, disusul oleh beliau yang turut hijrah menuju Yastrib.

Rasulullah meninggalkan kediamannya di Mekah al-Mukarramah untuk hijrah. Beliau titipkan Ummu Kultsum dan Fathimah kepada istri kedua beliau, Saudah binti Zam`ah, yang beliau nikahi setelah kepergian mendinag Khadijah.

Setelah tiba di Madinah dan menetap di sana, Rasulullah mengutus beberapa sahabat agar pergi ke Makkah untuk membawa keluarga beliau beserta keluarga Abu Bakar yang beliau tinggalkan di Makkah.

Ketika para putri Rasulullah telah tiba di Yastrib (Madinah) bersama istri beliau, Saudah binti Zam`ah, serta putri-putri Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu Asma` dan Aisyah, para wanita Anshar menyambut mereka dengan hangat dan gembira.

Rasulullah sendiri menyambut para putri dan istri beliau dengan penuh kerinduan dan kehangatan. Beliau segera membawa mereka ke rumah yang telah dipersiapkan untuk keluarga seusai mendirikan Mesjid Nabawi yang mulia.

Setelah dua tahun berlalu dengan banyak peristiwa besar pascahijrah dan kemenangan kaum muslim dalam Perang Badar, terjadilah musibah besar dengan wafatnya saudari Ummu Kultsum, Ruqayyah, yang sedikit terlupakan oleh kebahagiaan atas kemenangan kaum Muslimin dalam memerangi kebatilan pada hari al-Furqan.

Berbagai kenangan mengerikan silih berganti dalam benak Ummu Kultsum sehingga kedua bibirnya melepaskan keluhan lemah seakan meluluhkan jiwanya. Ummu Kultsum memejamkan kedua mata dengan lemah lalu ia melihat bayangan sang ibu sedang menyerahkan nyawa kepada Allah di tengah peristiwa pemboikotan yang dialami.

Demikian pula bayangan saudarinya, Ruqayyah, saat jiwanya bergetar mendengar pekik kemenangan dalam Perang Badar yang menggema di luar sana.

Ummu Kultsum duduk menyendiri di sudut rumah sambil mengusap air matanya yang penuh duka karena berpisah dengan saudari tercinta. Sementara itu, Fathimah az-Zahra menghambur ke pembaringan saudarinya, menangisi kepergiannya.

Selanjutnya, sang ayah yang berduka memasuki ruangan dengan wajah yang meenyiratkan tanda-tanda kesedihan. Beliau hampiri Fathimah az-Zahra untuk menggendongnya dan mendekati sang kakak untuk menghapus air matanya dengan ujung kain selendang beliau.

Hari-hari berjalan begitu cepat dengan segala duka dan kepedihan sampai akhirnya Ummu Kultsum memasuki fase baru dalam hidupnya dalam menapaki pintu kebahagiaan, keceriaan, dan perkawinan.

Rasulullah menikahkan sang putri, Ummu Kultsum, dengan Utsman ibn Affan. Ummu `Iyasy, budak Ruqayyah, meriwayatkan bahwa dirinya mendengar Rasulullah bersabda, “Aku tidaklah menikahkan Utsman selain mengikuti wahyu dari langit.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Jibril mendatangiku kemudian berkata: ‘Sesungguhnya, Allah memerintahkanmu untuk menikahkan Utsman dengan Ummu Kultsum dengan mas kawin yang sama dengan Ruqayyah dan sahabatnya’.”

Ummu Kultsum menjadi istri yang mulia dan terhormati di sisi Utsman ibn Affan setelah saudarinya, Ruqayyah. Hal itulah yang menyebabkan Utsman ibn Affan mendapat gelar Dzun Nurain (pemilik dua cahaya) karena telah menjadi suami dari dua putri Rasulullah secara berturut-turut.

Pernikahan itu berlangsung pada bulan Rabi`ul Awwal tahun ke-3 H. Ummu Kultsum menjalani hidup bersama Utsman ibn Affan selama enam tahun tanpa dikarunia seorang anak pun.

Saat kepergiannya telah tiba. Ketika Bilal mengumandangkan azan, suaranya menembus ke telinga kaum muslimin laksana sihir. Pintu-pintu rumah segera terbuka dan kaum muslimin segera keluar menuju Masjid Rasulullah dalam belaian udara pagi.

Dengan pandangan penuh sayang, Utsman ibn Affan memandang sang istri, Ummu Kultsum, yang terbujur lemah tak berdaya di atas ranjang perpisahan. Selanjutnya, Utsman pun keluar untuk menunaikan salat di belakang Rasulullah.

Ummu Kultsum tampak pucat karena lemah dan sakit. Tubuhnya terbujur di atas ranjang seraya memusatkan pendengarannya pada suara azan Bilal yang telah mengetuk kedua telinganya dan membangunkan jiwanya.

Ummu Kultsum berusaha bangkit, tetapi tubuhnya sangat lemah hingga tidak mampu untuk berdiri. Pada saat itu ia pun mendengar suara takbir mereka yang sedang menunaikan salat. Kedua matanya berlinang, tenggelam dalam kebahagiaan saat mengalami detik-detik napas terakhir.

Ummu `Iyasy, Pelayan Rasulullah datang memasuki ruangan dan segera ia sadari Ummu Kultsum sedang mengalami sakaratulmaut. Ummu `Iyasy lantas memanggil kaum muslimin yang sedang berada di masjid. Sang suami Ummu Kultsum, Utsman ibn Affan, bergegas pulang ke rumah dan ia menemukan Ummu Kultsum yang sedang mengalami sakaratulmaut.

Dengan perasaan penuh iba, Dzun Nurain memanggil-manggil sang istri. Utsman sangat terpukul atas meninggalnya Ummu Kultsum. Pasalnya, dengan begitu, dirinya tidak bisa mendapat keturunan dari Rasulullah.

Datanglah Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibn Khaththab, dan Ali ibn Abi Thalib serta sejumlah sahabat lainnya. Rasulullah segera menghampiri sang putri yang sedang menghadapi sakaratulmaut. Kedua mata beliau pun berlinang sementara bibirnya tidak henti-hentinya memanjatkan doa keselamatan bagi putrinya.

Tidak lama kemudian, masuklah Asma` binti `Umais, istri Abu Bakar, dan Shafiyah binti Abdul Muththalib. Mereka pun menangis berlinang air mata penuh kasih.

Selanjutnya, Ummu `Athiyah menggendong jenazah Ummu Kultsum untuk dimandikan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Mandikanlah secara ganjil: tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu.”

Rasulullah memberikan kainnya kepada mereka untuk mengafani jenazah sang putri. Para sahabat kemudian memikul jenazah itu menuju masjid. Para istri Rasulullah menggiring keberangkatan itu dengan tangisan. Fathimah az-Zahra pun tidak bisa menahan tangis atas kepergian saudara tercintanya itu.

Di masjid, Rasulullah mensalatkan jenazah sang putri diikuti oleh para sahabat. Setelah itu, jenazah diiring menuju tanah Baqi` dan dimakamkan di sana.

Jenazah Ummi Kultsum telah dimakamkan. Sang suami, Utsman ibn Affan, tenggelam dalam duka. Para sahabat kembali dari tanah Baqi` dengan duka yang begitu mendalam.

Rasulullah melihat Utsman berjalan dengan menunduk sebagai tanda ungkapan duka hatinya atas kepergian sang istri. Beliau pun mendekatinya dan bersabda, “Wahai Utsman, andai aku memiliki putri ketiga, niscaya aku akan menikahkannya denganmu.”

Dikutip dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam: Ummu Kultsum Sosok yang Penyabar dan Tabah, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami.