pustaka.png
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Sarajevo, Sepotong Yerusalem di Eropa

Sarajevo, Sepotong Yerusalem di Eropa
Fiqhislam.com - Pengaruh peradaban Islam pernah membawa Sarajevo sebagai salah satu kota terbesar dan terkemuka di Eropa.
 
Sarajevo, ibu kota Bosnia Herzegovina, adalah kota cantik yang memiliki sejarah panjang. Kota berjuluk Yerusalem-nya Eropa ini juga sarat dengan keragaman budaya, pemandangan alam yang memukau, hingga kekayaan kuliner yang istimewa.
 
Yerusalem-nya Eropa? Ya, begitulah julukan indah yang sejak lama melekat pada kota ini. Disebut demikian karena adanya kerukunan etnis, budaya, dan agama di Sarajevo. Kerukunan itu setidaknya tergambar dari gema azan yang bersahutan dengan suara lonceng gereja.   
 
Azan memang bukan sesuatu yang asing bagi Sarajevo. Sebab, kota ini memiliki nuansa keislaman yang kental. Tak hanya bentuk-bentuk bangunan yang mencerminkan adanya sentuhan peradaban Islam. 
 
Perkembangan ekonomi dan perdagangan di Sarajevo pun tak lepas dari kegemilangan peradaban Islam pada masa lalu, khususnya di masa keemasan Kesultanan Turki Utsmani.
 
Sejarah mencatat, Kesultanan Turki Utsmani mendirikan Sarajevo pada 1450. Gubernur Isa-Beg Isakociv ditunjuk untuk memimpin kota ini.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai bangunan penting didirikan, mulai dari masjid, pasar, pemandian umum, jembatan, asrama, dan istana gubenur Sarajevo yang disebut Saray. 
 
Masjid yang terkenal pada masa itu adalah Masjid Carova. Masjid Carova yang disebut juga Masjid Tsar atau Masjid Imperial ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Turki Utsmani, Muhammad II.
 
Sarajevo menjelma menjadi kota besar yang cantik dan berbudaya setelah Gubernur Isakociv melakukan beragam langkah perbaikan. Dalam sebuah laporan disebutkan, kala itu banyak warga Nasrani yang beralih keyakinan menjadi Muslim. 
 
Hal itu terlihat dari nama keluarga sejumlah warga Sarajevo yang bernuansa Kristen. Misalnya, ada seorang warga bernama Mehmed Ivan.
 
Pada 1521-1541, pemerintahan di Sarajevo berganti. Isakociv digantikan Gubernur Gazi Husrev Beg. Ia adalah sosok yang paling berpengaruh dan terkenal di Bosnia-Herzegovina.
 
Ia dikenal pula sebagai pemimpin yang bijaksana dan berkontribusi besar bagi terbentuknya Sarajevo seperti saat ini.

Di bawah kepemimpinannya, setiap sudut Sarajevo tak ada yang luput dari perhatiannya. Tak heran pertumbuhan Sarajevo melesat cepat.

Pengaruh peradaban Islam pernah membawa Sarajevo sebagai salah satu kota terbesar dan terkemuka di Eropa.
 
Pada masa itu, Sarajevo terkenal di seantero Eropa sebagai kota yang memiliki bangunan-bangunan besar dan megah. Masjid-masjid indah bertebaran di kota ini. Bahkan pada pertengahan abad ke-16, jumlahnya mencapai ratusan.
 
Berkat pengaruh peradaban Islam, Sarajevo pernah bertengger gagah sebagai salah satu kota terbesar dan terkemuka di Eropa.
Selain dihiasi bangunan-bangunan besar dan megah, kota ini memiliki sistem air sendiri, pemandian, menara jam raksasa, dan sekolah-sekolah. Semua ini menjadikan pamor Sarajevo lebih mencorong dibandingkan kota-kota lain di Eropa. 
 
Berbeda dari kebanyakan kota lain di benua itu, sekolah-sekolah di Sarajevo terbuka bagi semua kalangan, tak hanya bagi orang kaya semata. 
 
Keberadaan pemandian di kota itu juga membuat Sarajevo terlihat lebih beradab dibandingkan kota lainnya. Kala itu, sebagian besar orang Eropa masih menganggap budaya mandi tidak sehat.
 
Karena itu, tak mengherankan bila penduduk Sarajevo yang disebut Sarayliyas merupakan orang-orang yang bersih dan sehat.
Bahkan, rakyat jelata di kota itu merupakan rakyat jelata terbersih dan berkebudayaan paling maju di benua tersebut. 
 
''Mengapa manusia yang hidup di Sarajevo bisa panjang umur, hal itu karena terdapat seribu tempat air mengalir di sana,'' kata seorang penyair terkenal menggambarkan Sarajevo.
 
Pada masa pemerintahan Gubernur Gazi Husrev-beg, dibangun pula banyak jembatan megah. Jembatan-jembatan itu sebagai bukti nyata meningkatnya urbanisasi pada masa itu. 
 
Jembatan-jembatan itu juga menggambarkan berkembangnya aktivitas perdagangan. Di antara sekian banyak jembatan itu, salah satunya yang fenomenal adalah jembatan Mehmed Pasha Sokolovic di Visegrad.
 
Dibandingkan kota-kota lain di Bosnia, pembangunan jembatan di Sarajevo terlihat lebih masif. Hal ini karena Sarajevo merupakan ibu kota negara dan kota ini terbelah oleh sungai. Hal itulah yang membuat jembatan menjadi sarana penghubung yang sangat penting.

Di bawah kekuasaan Turki Utsmani, Sarajevo membangun setidaknya tujuh jembatan. Dari jumlah itu, kini tinggal empat jembatan yang masih utuh, yakni jembatan Kozja Cuprija,  Seher-Cehaja, Latin (Latinska Cuprija), dan Rimski Most.

Pengaruh peradaban Islam pernah membawa Sarajevo sebagai salah satu kota terbesar dan terkemuka di Eropa.

Banyak sejarawan sepakat, abad ke-16 merupakan puncak masa keemasan Sarajevo. Pada saat itu, hampir seluruh bagian kota ini terbangun dengan sempurna. 
 
Pada abad itu, penduduk kota ini hidup berkecukupan, bahkan Sarajevo disebut sebagai kota terkaya di Balkan Barat setelah Dubrovnik.
 
Produksi senjata
 
Hal lain yang patut dicatat dari Sarajevo adalah tingginya aktivitas produksi persenjataan. Pada saat itu, kota ini telah memproduksi dan mengembangkan bagian-bagian untuk meriam. 
 
Ada pula aktivitas industri untuk memproduksi dan mengolah bahan-bahan pembuat senjata. Beberapa sejarawan yakin, aktivitas produksi senjata ini merupakan titik awal gerakan industri di kawasan Balkan.
 
Meningkatnya standar ekonomi dan sosial di Sarajevo mengundang banyak orang dari berbagai latar belakang agama dan etnis berimigrasi ke Sarajevo. 
 
Termasuk di antara mereka adalah orang-orang Kristen Ortodoks dan Yahudi. Mereka berbondong-bondong ke Sarajevo pada awal abad ke-16. 
 
Meski memiliki keragaman agama dan budaya, kehidupan di Sarajevo tetap harmonis. Hal itulah yang membuatnya dijuluki Yerusalem-nya Eropa.
 
Sali Shahsivari, seorang peneliti budaya di Balkan, mengatakan, hingga saat ini pun keragaman itu masih ada di Sarajevo.
''Bahkan, saat ini lebih beragam dari sebelumnya. Hal itu bisa memberikan manfaat, tapi bisa juga mendatangkan bahaya bila tidak dikelola secara baik dan benar,'' katanya.

Agar tidak menimbulkan petaka, menurut Sali, keragaman itu harus dibarengi dengan upaya mempromosikan nilai-nilai kebersamaan dan mendorong generasi muda untuk mencintai warisan kebudayaan. [yy/nabawia.com/ROL]