<
pustaka.png
basmalah.png

Orangtua, Dua Pintu yang Mengantarkan Kita Menuju Surga

Orangtua, Dua Pintu yang Mengantarkan Kita Menuju Surga

Fiqhislam.com - Seorang generasi Tabi’in Iyas bin Mu’awiyah menangis penuh keharuan ketika meninggalnya salah seorang dari orangtuanya. “Mengapa engkau menangis sedemikian rupa?,” kata para sahabatnya.

Beliau menjawab: “Tidaklah aku menangis karena kematian, karena yang hidup pasti akan mati. Akan tetapi yang membuatku menangis karena dahulu aku memiliki dua pintu ke Surga, maka tertutuplah satu pintu pada hari ini dan tidak akan di buka sampai hari kiamat. Aku memohon pada Allah Ta’ala agar aku dapat menjaga pintu yang kedua…

Kedua orangtua adalah dua pintu menuju Surga. Karena merekalah kita dapat menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang.

Rasulullah SAW bersabda:

الوالد أوسط أبواب الجنة فأضع ذلك الباب أو احففظه

Orangtua (ibu bapak) adalah pintu Surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi)

Pintu Surga yang paling tengah, yang paling indah, yang paling elok. Maka masihkah engkau sia-siakan pintu itu? Bahkan engkau haramkan dirimu untuk memasukinya? Apalagi kita masih mengangkat suaramu di hadapannya? Apalagi membentaknya di kala tulang-tulangnya semakin lemah karena di makan usia?

Sementara tubuhmu yang berotot mekar, dahulu telah di basuh kotoranmu dengan tangannya yang kini tak bertenaga? Duhai sungguh ruginya.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu ‘anhu, telah bersabda Rasulullah SAW

أَلاَ أُنَبِّئُكُم بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ : أَلأِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّوُرِ، فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا : لَيْتَهُ سَكَتَ

Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, ‘Baiklah, ya Rasulullah’, bersabda Nabi. “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orangtua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong”. Maka Nabi selalu megulangi, “Dan persaksian palsu”, sehingga kami berkata, “semoga Nabi diam.” (HR: Bukhari dan Muslim).

Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda:

إِنَّاللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ اْللأَمَّهَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ اْلبَنَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَشْرَةَ اْلسُّؤَالِ، إِضَاعَةَ اْلمَالِ

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR: Bukhari & Muslim).

اللهم ارزقنا البر بوالدينا و اجمعنا بهم في جنات النعيم

Ya Allah, berilah kami rezeki untuk berbakti kepada kedua orangtua kami, dan kumpulkanlah kami bersama mereka di SurgaMu. Aamiin. [yy/ahmad/hidayatullah]

 

top