1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Kebenaran

Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Kebenaran

Fiqhislam.com - Seperti halnya Firaun yang khawatir terhadap salah seorang keturunan Bani Israil yang akan menghancurkan diri dan kerajaannya, Raja Namrudz juga mengalami hal serupa. Karena itu, ia memerintahkan seluruh pengawalnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

Khawatir akan pembunuhan terhadap bayinya, ibunda Ibrahim dan ayahnya Azar (ada pula yang menyebut pamannya) pun meninggalkan Ibrahim kecil di sebuah gua. Namun, atas izin Allah, ibunda Ibrahim senantiasa bisa menemui dan menyusui Ibrahim serta memeliharanya hingga dewasa. Adapun ayahnya Azar adalah seorang pembuat patung.

Sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, Ibrahim AS telah melakukan pencarian siapa Tuhan sebenarnya. Ketika masih di dalam gua, saat menyaksikan bintang, Ibrahim mengira itulah tuhannya. Demikian pula saat melihat bulan pada malam hari dan matahari di siang hari, Ibrahim mengira itulah tuhannya.

Namun, ketika pada waktu-waktu tertentu; bintang, bulan, dan matahari itu tenggelam, Ibrahim mengeluh dan mencari tuhan yang menciptakan bintang, bulan, dan matahari, yakni Allah SWT. Dan, ia percaya, tidak ada tuhan selain Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Selanjutnya, ketika menyaksikan orang tuanya membuat patung dan masyarakatnya menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri, Ibrahim berusaha untuk menghentikan perbuatan mereka.

Maka, ketika tiba saatnya perayaan untuk penyembahan terhadap berhala-berhala tersebut, Ibrahim mendahului mereka masuk ke dalam haekal-haekal tempat ibadah kaumnya itu. Di dalam haekal tersebut, Ibrahim segera menghancurkan patung-patung tersebut dan menyisakan sebuah patung besar.

Ketika kaumnya mendapati kerusakan pada berhala tersebut, tuduhan pun langsung dialamatkan padanya. Ibrahim menjawab bahwa yang membuat kerusakan itu adalah patung besar yang dilehernya tergantung sebuah kapak. Atas penjelasan tersebut, kaumnya berkata, ''Bagaimana mungkin sebuah patung yang tidak bernyawa dan tak mampu bergerak bisa menghancurkan patung-patung lainnya?''

Jawaban ini makin membuat Ibrahim merasa menang. ''Jika memang tidak bisa berbuat apa-apa, lalu mengapa kalian menyembah dan memuja-mujanya.'' Dari sinilah kemudian, Ibrahim ditangkap dan akhirnya dimasukkan ke dalam api yang besar. Atas kehendak Allah, Ibrahim selamat dari panasnya api tersebut. Kisah selengkapnya dapat dilihat dalam Alquran, di antaranya pada surah Al-An'am ayat 74-83, Al-Anbiya ayat 51-70, Albaqarah ayat 124 dan 258, Alsyuara ayat 69-89, Ibrahim ayat 35-41, dan Hud ayat 69-76.

 

Kisah Nabi Ibrahim AS Mencari Kebenaran

Fiqhislam.com - Seperti halnya Firaun yang khawatir terhadap salah seorang keturunan Bani Israil yang akan menghancurkan diri dan kerajaannya, Raja Namrudz juga mengalami hal serupa. Karena itu, ia memerintahkan seluruh pengawalnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir.

Khawatir akan pembunuhan terhadap bayinya, ibunda Ibrahim dan ayahnya Azar (ada pula yang menyebut pamannya) pun meninggalkan Ibrahim kecil di sebuah gua. Namun, atas izin Allah, ibunda Ibrahim senantiasa bisa menemui dan menyusui Ibrahim serta memeliharanya hingga dewasa. Adapun ayahnya Azar adalah seorang pembuat patung.

Sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, Ibrahim AS telah melakukan pencarian siapa Tuhan sebenarnya. Ketika masih di dalam gua, saat menyaksikan bintang, Ibrahim mengira itulah tuhannya. Demikian pula saat melihat bulan pada malam hari dan matahari di siang hari, Ibrahim mengira itulah tuhannya.

Namun, ketika pada waktu-waktu tertentu; bintang, bulan, dan matahari itu tenggelam, Ibrahim mengeluh dan mencari tuhan yang menciptakan bintang, bulan, dan matahari, yakni Allah SWT. Dan, ia percaya, tidak ada tuhan selain Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Selanjutnya, ketika menyaksikan orang tuanya membuat patung dan masyarakatnya menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri, Ibrahim berusaha untuk menghentikan perbuatan mereka.

Maka, ketika tiba saatnya perayaan untuk penyembahan terhadap berhala-berhala tersebut, Ibrahim mendahului mereka masuk ke dalam haekal-haekal tempat ibadah kaumnya itu. Di dalam haekal tersebut, Ibrahim segera menghancurkan patung-patung tersebut dan menyisakan sebuah patung besar.

Ketika kaumnya mendapati kerusakan pada berhala tersebut, tuduhan pun langsung dialamatkan padanya. Ibrahim menjawab bahwa yang membuat kerusakan itu adalah patung besar yang dilehernya tergantung sebuah kapak. Atas penjelasan tersebut, kaumnya berkata, ''Bagaimana mungkin sebuah patung yang tidak bernyawa dan tak mampu bergerak bisa menghancurkan patung-patung lainnya?''

Jawaban ini makin membuat Ibrahim merasa menang. ''Jika memang tidak bisa berbuat apa-apa, lalu mengapa kalian menyembah dan memuja-mujanya.'' Dari sinilah kemudian, Ibrahim ditangkap dan akhirnya dimasukkan ke dalam api yang besar. Atas kehendak Allah, Ibrahim selamat dari panasnya api tersebut. Kisah selengkapnya dapat dilihat dalam Alquran, di antaranya pada surah Al-An'am ayat 74-83, Al-Anbiya ayat 51-70, Albaqarah ayat 124 dan 258, Alsyuara ayat 69-89, Ibrahim ayat 35-41, dan Hud ayat 69-76.

 

Kesombongan Namrudz dan Menara Babilonia

Kesombongan Namrudz dan Menara Babilonia


Fiqhislam.com - Kisah Menara Babel melambangkan keangkuhan, kesombongan manusia, yang disebut-sebut dalam Kitab Kejadian, Kitab Suci Perjanjian Lama. Pembangunan menara ini diprakarsai oleh Nimrodz, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, sebelum zaman Nebuchadnezzar. Orang tua Nimrodz adalah Cush, putra Ham.

Bahkan, demikian menurut cerita, Kota Babilon dan Niniwe juga pertama dibangun oleh Nimrodz. "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi," demikian antara lain bunyi ajakan Nimrodz kepada orang-orangnya, seperti yang ditulis dalam Kitab Penciptaan.

Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel dan The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban, mengapa mereka membangun menara seperti itu. Untuk apa menara itu dibangun? Mencari kepuasan diri dan kemegahan diri. Itulah jawaban singkat Lambert Dolphin.

Dalam Alquran, pembangunan Tower of Babel (Menara Babilonia) ini serupa dengan cerita Firaun yang bermaksud ingin melihat Tuhannya Nabi Musa AS. Dalam surah Alqashash ayat 38 disebutkan, ''Dan, berkata Firaun, ''Hai, pembesar kaumku, aku tidak mengetahuai tuhan bagimu, selain aku. Maka, bakarlah, hai Haman, untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Dan, sesungguhnya, aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang yang pendusta.'' Pernyataan serupa juga terdapat dalam surah Almu'min ayat 36-37.

Pembangunan sebuah kota, seperti yang dilakukan Nimrodz ketika itu, melambangkan dambaan manusia untuk terus berkumpul. Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal, apalagi berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota--Babilon dan Niniwe--sebagai pusat kegiatan, sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Akan tetapi, ketika mereka membangun menara itu, mereka berkata, ''Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri.'' Di saat itulah, kemanusiaan yang berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu, dapat memanah matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri.

Inilah, yang menurut kisah, yang menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak bisa memahami bahasa mereka satu sama lain.

Sindrom Menara Babel itu pula, menurut para sejarawan, merasuki Nebuchadnezzar II, yakni dengan membangun Taman Gantung dan Menara Babel di kompleks istananya. Ia membangun kompleks istana begitu megah yang sekarang sisa-sisanya masih bisa dilihat dan memerintahnya dengan tangan besi.

Kota Babilonia selama masa pemerintahan Nebuchadnezzar II, yang memerintah pada tahun 605 SM-562 SM, mencapai puncak keemasannya. [yy/republika]