24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Alasan Mengapa Kita Harus Memuji Nabi Muhammad Saw

Alasan Mengapa Kita Harus Memuji Nabi Muhammad Saw

Fiqhislam.com - Hari Senin, 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah momen paling membahagiakan bagi Abdul Muttholib. Beliau membuai sosok bayi mulia yang tak lain adalah cucunya. Beliau mendekapnya penuh cinta.

Raut wajahnya memancarkan sinar bahagia. Warga Makkah kala itu memberi ucapan selamat dan alam semesta bergembira menyambutnya. Bayi itu dinamai Muhammad ibn Abdillah (Saw). Lahir di Makkah tempat berdirinya rumah Allah pertama di muka bumi dan menjadi utusan Allah dan penutup para Nabi.

Setelah diangkat sebagai Rasul, Nabi Muhammad tampil sebagai sosok yang terpuji. Akhlaknya benar-benar agung dan orang yang melihatnya dibuat terpesona.

Tubuhnya indah, wajahnya menawan, fisiknya gagah, wataknya tenang, lembut tuturnya, luhur budinya, mulia akhlaknya, santun dan berwibawa, murah hatinya, dermawan, pemalu dan cerdas, penyabar dan tegas, penyayang, cinta fakir dan anak yatim. Karena sifat kenabiannya, Beliau dijuluki Al-Amin (orang yang jujur lagi terpercaya).

Allah sendiri memuji beliau sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung." (QS Al-Qalam: 4).

Akhlaknya Adalah Al-Quran Ketika Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

"Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran" (HR Ahmad).

Dari hadits di atas disimpulkan bahwa Rasulullah seperti Al-Quran berjalan. Al-Quran sendiri merupakan firman Allah yang merupakan sumber dari segala sumber ilmu dan rahmat Allah Ta'ala.

Islam menempatkan akhlak sebagai ruhnya orang beriman karena Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Abu Darda berkata: 'Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Tak ada yang lebih berat pada timbangan (mizan, pada hari pembalasan) dari pada akhlak yang baik. Sungguh orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat." (HR At-Tirmidzi).

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah pernah ditanya mengenai hari Senin yang beliau jadikan sebagai hari berpuasa. Lantas beliau menjawab, "Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku." (HR. Muslim).

Semoga dengan keberkahan dan kedudukan terpuji Rasulullah Saw, kita diberi taufik untuk meneladani akhlak Baginda Rasulullah. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]