1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Tradisi Otodidak Lahirkan Sosok Intelektual Berotak Cerdas

Tradisi Otodidak Lahirkan Sosok Intelektual Berotak Cerdas

Fiqhislam.com - Tradisi otodidak yang berkembang di tengah masyarakat Muslim pada akhirnya melahirkan banyak sosok intelektual berotak cerdas. Mereka bahkan mampu menorehkan pretasi besar melalui pemikiran dan karyanya. Salah satu ilmuwan cemerlang yang belajar otodidak adalah Ali ibn Syahak al-Bayhaqi. Ia seorang filsuf. 

Kisah Ali ini termuat dalam karya penulis biografi bernama al-Bayhaqi. Menurut al-Bayhaqi, Ali telah buta sejak kecil dan merupakan penghafal Alquran. Keterbatasan fisiknya itu tak menghalanginya menguasai materi pokok dan cabang kajian sastra serta tata bahasa. Ia pun mendalami filsafat tanpa bimbingan seorang guru. 

Saat seseorang membacakan buku tentang logika pada Ali, ia menghafal, mengulangi, dan menelaahnya hingga ia memahami benar materi tersebut. Hal yang sama ia lakukan dalam mempelajari bidang ilmu lainnya. Sosok lainnya adalah Abu al-Fath al-Mishri yang meninggal dunia pada 952 Masehi. 

Al-Mishri beberapa kali harus kehilangan bukunya karena terbakar. Di sisi lain, ia gemar membeli buku, terutama yang belum ia pelajari di bawah bimbingan seorang guru. Ia kemudian mempelajarinya secara otodidak hingga memahami sepenuhnya isi dalam buku yang dibacanya. Demikian pula dengan ilmuwan bernama Abu al-Hasan al-Adami. 

Berdasarkan sejumlah catatan biografis tentang cendekiawan cemerlang yang menguasai beragam disiplin ilmu, Ibnu Sina mengungkapkan bahwa ia mendapatkan sebagian besar ilmu pengetahuan yang mengantarkannya menjadi filsuf dan dokter ternama secara mandiri tanpa bimbingan guru.

Ibnu Sina, dalam catatan biografis tersebut, menjelaskan bagaimana ia menguasai ilmu logika. Ia memulai membaca dan mempelajari sendiri  komentar-komentar mengenai sejumlah karya tentang logika. Hingga kemudian, ia benar-benar menguasainya. Lalu, ia pun tertarik mempelajari ilmu kedokteran. 

Ketertarikan itu menggerakkanya untuk membaca buku-buku yang memuat ilmu kedokteran. Ibnu Sina mengatakan, ternyata ilmu kedokteran bukanlah termasuk cabang ilmu pengetahuan yang sulit. Ia mempelajarinya dalam waktu singkat hingga sejumlah dokter terkemuka belajar melalui bimbingannya. 

Pada saat yang sama, Ibnu Sina mengikuti kuliah dan perdebatan dalam bidang hukum. Hal itu ia lakukan saat usianya masih sangat belia, 16 tahun. Memang, terkadang ia menghadapi kendala. Setiap kali tersandung masalah yang membingungkan, misalnya tak menemukan solusi dalam silogisme, ia mengatakan akan segera beranjak menuju masjid. 

Lalu, ungkap Ibnu Sina, ia bersujud di hadapan Sang Pencipta alam semesta hingga Dia menyingkapkan hijab yang menghalangi dirinya dan kemudian segala persoalan pun menjadi mudah. Sambil mempelajari ilmu hukum di lembaga pendidikan, ia mempelajari sendiri apa yang tak diberikan di lembaga pendidikan yang ia ikuti.

Masih ada figur terkenal lainnya yang juga belajar secara otodidak, yaitu Fakh al-Din al-Razi. Seorang cendekiawan yang bernama Ibn Abi al-Ushaybiah menceritakan kisah yang disampaikan oleh seorang hakim di Marrand kepada dirinya, terkait ihwal pendidikan yang ditempuh oleh al-Razi. 

Hakim yang dikutip al-Ushaybiah mengatakan, ketika Syekh Fakhr al-Din al-Razi menetap di Marrand. Ia merupakan murid di perguruan yang jabatan guru besar hukumnya di pegang oleh sang hakim. Al-Razi belajar ilmu hukum di bawah bimbingan guru besar tersebut.

Setelah itu, kata hakim tersebut, al-Razi memilih untuk mempelajari ilmu filsafat secara mandiri. Walaupun tanpa bimbingan seorang guru, al-Razi mampu menguasai bidang itu dengan baik dan lebih unggul dibandingkan ilmuwan lainnya. Ia menjadi sosok alim yang tak ada tandingannya pada masa itu.

 

Tradisi Otodidak Lahirkan Sosok Intelektual Berotak Cerdas

Fiqhislam.com - Tradisi otodidak yang berkembang di tengah masyarakat Muslim pada akhirnya melahirkan banyak sosok intelektual berotak cerdas. Mereka bahkan mampu menorehkan pretasi besar melalui pemikiran dan karyanya. Salah satu ilmuwan cemerlang yang belajar otodidak adalah Ali ibn Syahak al-Bayhaqi. Ia seorang filsuf. 

Kisah Ali ini termuat dalam karya penulis biografi bernama al-Bayhaqi. Menurut al-Bayhaqi, Ali telah buta sejak kecil dan merupakan penghafal Alquran. Keterbatasan fisiknya itu tak menghalanginya menguasai materi pokok dan cabang kajian sastra serta tata bahasa. Ia pun mendalami filsafat tanpa bimbingan seorang guru. 

Saat seseorang membacakan buku tentang logika pada Ali, ia menghafal, mengulangi, dan menelaahnya hingga ia memahami benar materi tersebut. Hal yang sama ia lakukan dalam mempelajari bidang ilmu lainnya. Sosok lainnya adalah Abu al-Fath al-Mishri yang meninggal dunia pada 952 Masehi. 

Al-Mishri beberapa kali harus kehilangan bukunya karena terbakar. Di sisi lain, ia gemar membeli buku, terutama yang belum ia pelajari di bawah bimbingan seorang guru. Ia kemudian mempelajarinya secara otodidak hingga memahami sepenuhnya isi dalam buku yang dibacanya. Demikian pula dengan ilmuwan bernama Abu al-Hasan al-Adami. 

Berdasarkan sejumlah catatan biografis tentang cendekiawan cemerlang yang menguasai beragam disiplin ilmu, Ibnu Sina mengungkapkan bahwa ia mendapatkan sebagian besar ilmu pengetahuan yang mengantarkannya menjadi filsuf dan dokter ternama secara mandiri tanpa bimbingan guru.

Ibnu Sina, dalam catatan biografis tersebut, menjelaskan bagaimana ia menguasai ilmu logika. Ia memulai membaca dan mempelajari sendiri  komentar-komentar mengenai sejumlah karya tentang logika. Hingga kemudian, ia benar-benar menguasainya. Lalu, ia pun tertarik mempelajari ilmu kedokteran. 

Ketertarikan itu menggerakkanya untuk membaca buku-buku yang memuat ilmu kedokteran. Ibnu Sina mengatakan, ternyata ilmu kedokteran bukanlah termasuk cabang ilmu pengetahuan yang sulit. Ia mempelajarinya dalam waktu singkat hingga sejumlah dokter terkemuka belajar melalui bimbingannya. 

Pada saat yang sama, Ibnu Sina mengikuti kuliah dan perdebatan dalam bidang hukum. Hal itu ia lakukan saat usianya masih sangat belia, 16 tahun. Memang, terkadang ia menghadapi kendala. Setiap kali tersandung masalah yang membingungkan, misalnya tak menemukan solusi dalam silogisme, ia mengatakan akan segera beranjak menuju masjid. 

Lalu, ungkap Ibnu Sina, ia bersujud di hadapan Sang Pencipta alam semesta hingga Dia menyingkapkan hijab yang menghalangi dirinya dan kemudian segala persoalan pun menjadi mudah. Sambil mempelajari ilmu hukum di lembaga pendidikan, ia mempelajari sendiri apa yang tak diberikan di lembaga pendidikan yang ia ikuti.

Masih ada figur terkenal lainnya yang juga belajar secara otodidak, yaitu Fakh al-Din al-Razi. Seorang cendekiawan yang bernama Ibn Abi al-Ushaybiah menceritakan kisah yang disampaikan oleh seorang hakim di Marrand kepada dirinya, terkait ihwal pendidikan yang ditempuh oleh al-Razi. 

Hakim yang dikutip al-Ushaybiah mengatakan, ketika Syekh Fakhr al-Din al-Razi menetap di Marrand. Ia merupakan murid di perguruan yang jabatan guru besar hukumnya di pegang oleh sang hakim. Al-Razi belajar ilmu hukum di bawah bimbingan guru besar tersebut.

Setelah itu, kata hakim tersebut, al-Razi memilih untuk mempelajari ilmu filsafat secara mandiri. Walaupun tanpa bimbingan seorang guru, al-Razi mampu menguasai bidang itu dengan baik dan lebih unggul dibandingkan ilmuwan lainnya. Ia menjadi sosok alim yang tak ada tandingannya pada masa itu.

 

Tradisi Otodidak Mengakar di Dunia Islam

Tradisi Otodidak Mengakar di Dunia Islam


Tradisi Otodidak Mengakar di Dunia Islam


Fiqhislam.com - Tak semua ilmuwan mendapat bimbingan seorang guru. Ada sebagian dari mereka, dengan beragam alasan, memilih untuk memuaskan dahaga ilmunya dengan belajar secara mandiri. Mereka menelaah semua sumber ilmu yang menarik minatnya hingga menguasainya dengan mendalam. Mereka belajar secara otodidak. 

Biasanya, belajar secara otodidak menjadi pilihan bagi mereka yang tak cukup memiliki uang. Terutama, untuk membayar perkuliahan atau pengajaran privat di rumah seorang pakar ilmu. Namun, alasan keuangan tak selalu dominan. Ada sejumlah orang yang berkecukupan lebih tertarik belajar secara mandiri. 

Tradisi otodidak dalam mempelajari beragam ilmu pengetahuan telah dikenal luas dan mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim. Sejarawan Muslim asal Baghdad, Irak, Abd Latif al-Baghdadi, bahkan secara khusus membahas tradisi ini. Ia melihat praktik otodidak merebak. 

Pada mulanya, al-Baghdadi mendorong para pelajar mengkaji ilmu di bawah bimbingan guru yang menguasai bidangnya. Beberapa waktu kemudian, ia memandang bukan sebuah masalah jika seseorang yang ingin menguasai sebuah kajian ilmu melakukannya secara mandiri. Syaratnya, orang itu hanya konsisten dan semangat baja. 

Ia meralat pandangan yang dilontarkan sebelumnya. George A Makdisi, dalam Cita Humanisme Islam, mengatakan, langkah al-Baghdadi itu kemungkinan dipengaruhi pula oleh kapasitasnya sebagai seorang ahli agama dan profesor ilmu hukum di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Ia memahami bahwa belajar bisa dilakukan dengan beragam cara. 

Bahkan, al-Baghdadi dalam sebuah nasihatnya kepada para pelajar mengatakan, saat seseorang membaca sebuah buku, mestinya ia mengerahkan seluruh kemampuan untuk mempelajari dan dan menguasainya. Bayangkanlah buku itu telah lenyap dan engkau bisa menyingkirkannya dan tak terpengaruh oleh kehilangannya. 

Ketika seseorang mengerahkan seluruh kemampuannya dengan semangat tinggi untuk memahami sesuatu, jangan pernah tergoda melakukan hal lain. Ia pun memberi saran agar seseorang yang belajar secara otodidak tak mempelajari dua bidang kajian ilmu dalam satu waktu. 

Menurut al-Baghdadi, seseorang fokus pada satu kajian dalam satu hingga dua tahun atau dalam beberapa waktu yang diperlukan. Jika seseorang telah menguasai satu bidang yang dipelajarinya, ia bisa mempelajari bidang lainnya. Ia menegaskan, orang itu juga tetap memelihara kepiawaiannya dalam bidang yang telah dikuasainya.

 

Berdebat tentang Autodidak

Berdebat tentang Autodidak


Berdebat tentang Autodidak


Fiqhislam.com - Meski telah mengantarkan sejumlah orang ke puncak pencapaian ilmu pengetahuan, metode belajar autodidak tak luput dari kritik. Metode ini dianggap sering menimbulkan salah penafsiran. Sangat berbeda jika seseorang belajar dengan bimbingan seorang guru yang ahli di bidangnya. 

Salah satu cendekiawan yang mengkritik metode ini adalah Abu Ali al-Dinawari. Ia mengatakan, al-Mubarrad lebih ahli dalam membahas karya Sibawayh berjudul al-Kitab dibandingkan Tsa’lab. Penyebabnya, kata al-Dinawari, al-Mubarrad mempelajari karya itu melalui bimbingan seorang guru. Sementara itu, Tsa’lab belajar sendiri. 

Pada masanya, Tsa’lab yang dikenal sebagai ahli tata bahasa mazhab Kufah banyak mempelajari tata bahasa mahzab lainnya, yaitu Basrah, secara autodidak. Ia enggan belajar tata bahasa mazhab tersebut di bawah bimbingan guru-guru dari Basrah yang menjadi pesaingnya. 

Ibnu al-Dahlan, seorang ahli filologi, memiliki pandangan yang sama dengan al-Dinawari. Dia mengungkapkan pandangannya itu dalam syair berikut ini. 

Janganlah engkau mengira buku-buku itu akan membantumu

Jangan pikir, dengan membacanya, kau akan jadi seperti kami

Karena ayam pun memiliki sayap-sayap yang berbulu

Tapi, dengan bulu-bulunya itu, ia tak dapat terbang tinggi

Selanjutnya, metode autodidak ini pun menyulut perdebatan sengit antara dua dokter ternama, yaitu Ibnu Ridwan dan Ibnu Buthlan. Ibnu Ridwan belajar ilmu kedokteran secara autodidak. Ia mengatakan, belajar seperti itu lebih efektif daripada harus mendapatkan bimbingan dari seorang guru. 

Salah satu buku kedokteran yang pernah ia dalami secara auitodidak adalah Kitab al-Nafi’ fi Kayfiyyati Ta’alum al-Shina’ah al-Thibb atau buku penting tentang cara mempelajari kedokteran. Sementara itu, Ibnu Buthlan menulis sebuah buku yang menentang pandangan rekannya itu. 

Menurut Ibnu Buthlan, seseorang yang belajar ilmu pengetahuan melalui seorang guru akan menguasai lebih baik ilmu tersebut dibandingkan mereka yang belajar sendiri. Ia mengungkap sejumlah kelemahan belajar secara autodidak, di antaranya potensi kekeliruan dalam memahami kalimat karena banyak kata yang ambigu. 

Hal lainnya, kata dia, munculnya kesalahan yang disebabkan gangguan penglihatan dan pengetahuan yang tak memadai tentang perubahan akhiran kata. Kendala lainnya terkait istilah teknis dalam sebuah disiplin ilmu. Termasuk, kata-kata asing yang tercantum dalam sebuah karya yang dipelajari. [yy/republika]