12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Ketika Nasab tak Menjamin Surga

Ketika Nasab tak Menjamin Surga

Fiqhislam.com - Allah SWT memandang seorang hamba dari kualitas iman dan ketakwaannya. Garis keturunan seseorang tak akan menyelamatkannya kelak pada hari kiamat.

Kisah yang termaktub dalam buku Mereka adalah Tabiin ini menegaskan tentang fakta tersebut.

Seperti diteladankan oleh Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau yang dikenal dengan sebutan Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah), cicit Rasulullah SAW. Perasaan masih banyak kekurangan dalam mengerjakan ibadah membuat orang yang berilmu, seperti Ali bin Husain takut bila kelak Allah SWT tidak menerima ibadahnya.

Terutama, ibadah shalat. Dia khawatir, bahkan bila shalat yang dia kerjakan justru menjadikannya termasuk pada golongan orang-orang yang munafik karena lalai saat mengerjakan shalat. "Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat." (QS al-Maa'uun : 4) .

Padahal, menurut Ibnu Abbas RA, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik karena mereka selalu memamerkan shalat mereka di hadapan orang-orang mukmin secara ria, sewaktu orang-orang mukmin berada di antara mereka. Tetapi, jika orang-orang mukmin tidak ada, mereka meninggalkan shalat, juga mereka tidak mau memberikan pinjaman barang-barang miliknya kepada orang-orang mukmin.

Namun, karena penghayatan yang mendalam dan rasa takut terhadap Allah, Zainul Abidin tetap tawadhu dan mengambil pesan tersirat dari ayat itu.

Suatu hari, Thawus bin Kaisan pernah melihat Ali bin Husain berdiri di bawah bayang-bayang Ka\'bah, gelagapan seperti orang tenggelam, menangis seperti ratapan seorang penderita sakit, dan berdoa terus- menerus. Dia menyadari bahwa kualitas ibadahnya masih perlu perbaikan yang menyeluruh.

Setelah Ali bin Husain selesai berdoa, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata, "Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian, padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut," katanya.

Mendengarkan perkataan Thawus Zainul Abidin meminta penjelasan. "Apakah itu wahai Thawus?"

Thawus dengan sigap menjelaskan, "Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah. Kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari kakek Anda dan ketiga, rahmat Allah bagi Anda."

Mendengarkan penjelasan Thawus seperti tadi, Zainul Abidin tidak menyembunyikan kegembiraanya ketika Thawus menyebut nama Rasulullah dan kewenangannya sebagai pemberi syafaat.

Namun, dia sedih kerena tiga hal juga. Dengan penuh ketegasan, Zainul Abidin menjelaskan satu per satu dari tiga hal keitimewaan yang disampaikan Thawus tadi. 

"Wahai Thawus, garis keturunanku dari Rasulullah SAW tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah. `Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu," kata Zainul mengutip keterangan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat ke-99.

Adapun tentang syafaat kakekku, kata Zainul Abidin, Allah telah menjelaskannya dengan menurunkan Alquran surah al-Anbiya ayat ke-28. "Mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah," katanya.

Mendengar penjelasan itu, Thawus mengangguk tanpa kata. Dan, Thawus pun tertunduk.

Mengenai rahmat Allah, Zainul Abidin menjelaskanya seperti yang ditulis dalam Alquran surah al-A'raf ayat ke-56. "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik," katanya.

Mendengar jawaban itu, kali ini Thawus tidak lagi mampu memandang wajah Zainul Abidin. Dia sadar pernyataanya tetang hal tadi bukan cerminan orang yang berilmu.

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib merupakan keturunan Rasulullah SAW. Dia tidak lalai dalam mengerjakan amalan-amalan saleh agar Allah SWT menghendaki dia diberi syafaat oleh kakeknya, Rasulullah SAW, pada hari akhir.

Sosok pemaaf Selain dikenal dengan ketakwaan dan ahli ibadah, Ali bin Husain juga dikenal karena kebijakan, kedermawanan, sifat sabar dan kelapangan dadanya.

Di antara contohnya adalah riwayat dari Hasan bin Hasan bin Ali. Dia menceritakan bahwa pernah terjadi perselisihan antara Hasan dan putra pamannya yaitu, Zainul Abidin. Hasan mengakui bahwa dia telah memaki Zainul Abdin habis-habisan, tapi dia hanya diam membisu sampai Hasan pulang.

Begini kira ceritanya, ketika itu matahari belum terlalu panas memancarkan cahanya. Sehingga banyak aktivitas yang dilakukan pada saat itu.

Pedagang sibuk dengan dagangannya, petani sibuk dengan lahan garapannya dan ibu dan anak sibuk mengurusi keluarganya.

Namun, di kawasan itu ada sebagian orang yang sedang berdiskusi ringan di salah satu tempat yang sering digunakan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Di antara sekelompok orang tadi, terdapat Ali bin Husain.

Namun, entah apa masalahannya, Zainul Abidin mendapatkan perkataan yang tidak mengenakan dari saudara dekatnya sendiri. Selama perkataan kasar itu tertuju kepadanya, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Zainul Abidin, hanya membela atau meminta kesempatan untuk menjelaskanya. Sampai selesainya perkataan yang memaki Zainul Abidin, bantahan tetap tidak keluar.

Bahkan, Zainul Abidin itu malah lebih memilih meninggalkan saudaranya yang sedang memarahinya.

Ketika Hasan sedang berada di rumah sendiri setelah memaki saudaranya dia mendapati ada orang yang mengetuk pintu. Dan, Hasan buru-buru membuka pintu. Ternyata, tamu yang berada di balik pintu tersebut adalah Zainul Abidin.

"Aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang," kata Hasan.

Hasan mengira bahwa Zainul Abidin pasti akan membalas perlakuannya tadi. Namun, ternyata dia hanya berkata demikian, "Wahai saudaraku, bila apa yang engkau katakan tadi benar, semoga Allah mengampuniku. Dan, jika yang engkau katakan tidak benar, semoga Allah mengampunimu."

Hasan mengisahkan, setelah Zainul Abidin mengutarakan kalimatnya tadi, dia bergegas mengucapkan salam lantas berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Merasa bersalah, akhirnya Hasan segera mengejarnya Zainul Abidin dan memegang tangannya kemudian berujar, "Sungguh, aku tak akan mengulangi kata- kata yang tidak Anda sukai."

"Lupakan! Saya telah memaafkan Anda," kata Zainul Abidin sambil memeluknya penuh kasih sayang.

Itulah sekelumit dari kisah tentang Ali bin Husain yang mudah-mudah menjadi penyemangat kita untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, terutama shalat lima waktu. Karena amalan yang paling pertama mendapatkan hisab adalah shalat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW riwayat Abu Hurairah RA, "Sesungguhnya, amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Jika shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah SWT mengatakan, "Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunah? Maka shalat sunah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya, seperti itu. Bila shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya dan jika shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya." (HR ath-Thabarani). 

"Garis keturunanku dari Rasulullah SAW tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah. `Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka hari itu.'" [yy/republika]