21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Persiapan Menjelang Usia 40 Tahun

Persiapan Menjelang Usia 40 Tahun

Fiqhislam.com - Jika umur manusia diibaratkan kouta dalam modal kehidupan dunia ini, maka rentang usia 40 tahun menandakan garis warning berwarna kuning. Kouta tersebut tidak akan lama akan habis berakhir limitnya pada persentasi angka 80% kehidupan telah dijalani.

Mau tidak mau, sadar atau tidak, kouta itu akan berakhir jika jatah pemakaian kouta berhenti pada titik penggunaan 100% dengan bonus atau dengan tanpa bonus. Atau boleh jadi, tidak sampai sempurna pada pencapaian angka 100% tersebut.

Maka, telah menjadi tradisi para ulama sejak zaman dahulu, manakala mereka mulai memasuki usia kematangan di usia 40 tahun, mereka mulai berbenah dan mulai bersiap menarik diri dari banyak aktivitas kehidupan duniawi ini.

Berangkat dari hadits baginda Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang telah melampaui usia 40 tahun, akan tetapi kebaikannya tidak melebihi keburukannya, maka bersiap-siaplah dia memasuki api neraka."

Hadits ini banyak sekali diriwayatkan dan dikutip oleh para ulama, di antaranya Al-Imam al-Ghazali terutama dalam kitab nasehatnya yang populer "Ayyuhal Walad".

Memang boleh dikatakatan usia 40 tahun menjadi awal tonggak penentuan kualitas demi menyempurnakan sisa-sisa umur selanjutnya, apakah dia termasuk golongan ahli dunia atau ahli akhirat.

Oleh karena itulah, pada catatan kehidupan sirahnya, baginda Rasulullah SAW manakala memasuki usia 37 tahun, beliau lebih banyak bertahanuts dan bertafakur menjauhi aktivitas keramaian dunia, menyepi ke gua Hira hingga memasuki usia 40 tahun. Hal ini menjadi isyarat sekaligus pelajaran penting bagi kita semua yang mengharapkan kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik lagi.

Lantas apa hal yang harus kita persiapkan menjelang memasuki usia 40 tahun?

1. Meyakini bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik dari kehidupan dunia ini. Dengan demikian, tak ada yang perlu kita kejar mati-matian demi dunia fana ini.

2. Meyakini bahwa kematian itu pasti. Kapan pun dan dimana pun kita berada kematian iti mutlak dan pasti adanya terjadi pada diri kita, meski tidak harus mencapai usia senja atau tua. Bukan kematian yang kita khawatirkan, tapi bagaimana kondisi kesiapan kita untuk mempersiapkan menghadapi bekal kematian yang akan dibawa dalam perjalanan selanjutnya.

3. Meyakini bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah perjalanan transit sementara, dan ada stasiun akhir yang sedang dan akan kita tuju. Dunia ini tidak lebih dari perjalanan seorang musafir yang hanya sekadar berteduh manakala terik matahari dan akan melanjutkan perjalanan di sore harinya.

4. Mulai mempersiapkan ilmu menghadap Allah kelak. Ilmu yang harus dipersiapkan dan dipelajari, yaitu ilmu-ilmu mengenal Allah seperti ilmu Tauhid beserta sifat-sifat 20 yang Wajib dan Mustahil bagi Allah serta sifat Jaiz bagi-Nya.

5. Mulai menekuni dan memperdalam ilmu-ilmu kebersihan hati dan jiwa dengan mempelajari sifat-sifat akhlak Mahmudah dan Mazmumah dalam ranah ilmu Tasawuf.

6. Mulai memperbanyak istighfar menyesali dosa-dosa masa lalu. Usahakan membaca minimal 100 hingga 1.000 kali istighfar setiap hari.

7. Mulai merutinkan membaca wiridan-wiridan surah dalam Al-Qur'an, misalnya Surah Yasin, Al-Waqi'ah, Al-Mulk, minimal Surah Al-Fatihah atau Surah Al-Ikhlas setiap malam, sebab amaliah tersebut akan bisa menjadi syafa'at di alam Barzakh.

8. Mulai memperbanyak membaca shalawat Nabi minimal 300 kali hingga 1.000 kali dalam sehari agar memperoleh jaminan syafa'at dari Habibuna baginda Rasulullah SAW.

9. Mulai menggadha sholat-sholat wajib 5 waktu di kala ada kesempatan luang serta memperbanyak shalat-shalat sunnah rawatib, dhuha, tahajud, tasbih dan lain sebagainya.

10. Memperbanyak amaliyah kebaikan lainnya, seperti: sering menghadiri majelis ilmu, membaca zikir zahir maupun zikir sirr, sedekah, serta amal kebaikan lainnya.

11. Sering-seringlah meminta maaf dan ridha mereka terhadap orang-orang yang sepergaulan dengan kita. Dengan demikian, kita telah mengurangi beban dosa terhadap sesama makhluk yang kelak bisa saja menghabiskan amal kebaikan kita di akhirat.

12. Perlahan mulai menarik diri dari pergaulan dan aktivitas kehidupan duniawi. Membatasi pergaulan dengan orang-orang awam dan mulai mendekatkan diri pada para ulama akhirat dan ahli bait Rasulillah.

13. Meredam serta menahan syahwat duniawi dalam hasrat kenikmatan duniawi seperti keinginan-keinginan memperoleh jabatan pangkat kedudukan terhormat, kekayaaan, populiritas dan sebagainya yang tentu semua itu akan menjadi beban terberat menuju jalan akhirat.

14. Lebih banyak membaca kisah-kisah para Nabi, kisah para Auliya serts perjalanan orang-orang shaleh agar melembutkan hati.

15. Jalani kehidupan dengan ikhlas.

Semoga nasehat diri ini dapat menjadi pengingat bagi kita untuk menjadikan diri kita siap menjalani sisa-sisa 20% atau lebih kurang dari itu. "Allahumma tawwafana ala tha'atika wa amitna ala sunnati wal jama'ah." [yy/sindonews]

Ustaz TGH Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an, Pensyarah Kitab Dalail Khairat