11 Rajab 1444  |  Kamis 02 Februari 2023

basmalah.png

Saat Al-kindi Terapi Pasien dengan Musik || Daya Magis Musik dalam Kitab Al-Farabi

Saat Al-kindi Terapi Pasien dengan Musik || Daya Magis Musik dalam Kitab Al-Farabi

Fiqhislam.com - Islam memberikan sumbangsih signifikan dalam sejarah peradaban umat manusia. Fakta mencatat, cukup banyak buah pemikiran tokoh-tokoh Islam yang sangat mempengaruhi berkembangnya suatu disiplin ilmu. Mulai filsafat, matematika, astronomi, medis, sastra, hingga musik.

Khusus untuk bidang musik, Islam mencatatkan dua nama penting dan sangat berpengaruh, yakni Abu Yusuf Yaqub Ibn Ishaq as-Sabbah Al-Kindi dan Nasir Muhammad bin Al-Farakh Al-Farabi atau lebih dikenal dengan nama Al-Farabi. Keduanya mempunyai peranan cukup signifikan dalam mengekplorasi dan mengembangkan seni musik.   

 Al-Kindi dikenal sebagai filsuf pertama yang berasal dari kalangan Islam. Ia dilahirkan di Kufah pada tahun 801 masehi dan wafat pada 873 masehi. Selain mengerti bahasa Arab, ia juga pandai berbahasa Yunani. Tak pelak hal itu membuatnya cukup banyak menerjemahkan karya-karya filosof Yunani ke dalam bahasa Arab, seperti karya Aristoteles dan Plotinos.

Semasa hidupnya, Al-Kindi telah menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu. Antara lain bidang metafisika, logika, matematika, astrologi, psikologi dan lainnya. Selain itu, ia memliki pengetahuan cukup luas tentang musik. Ia diyakini sebagai tokoh pertama yang meletakkan dasar teori musik, yakni ketika dirinya membicarakan dan membahas tentang konotasi kosmologikal musik.

Al-Kindi juga dikenal sebagai tokoh pertama yang memanfaatkan musik sebagai media terapi untuk menghilangkan penyakit. Pada masa itu Al-Kindi telah menyadari bahwa musik memiliki khasiat untuk memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, serta spiritual.

Terapi musik tersebut dipraktikkan oleh Al-Kindi untuk menyembuhkan salah satu pasiennya yang menderita quadriplegia atau tetraplegia. Yakni sebuah kelumpuhan yang disebabkan oleh cedera atau penyakit yang diderita manusia dan mengakibatkan hilangnya fungsi gerak badan.

Al-Kindi diyakini memiliki 15 karya yang khusus mengulas tentang musik. Namun, dari 15 karya tersebut, hanya lima karya saja yang masih eksis. Salah satu judul kitab atau karya miliknya adalah “Musiq”. Judul kitab ini yang dipercaya menjadi cikal bakal lahirnya kata “musik”. [yy/republika]

Saat Al-kindi Terapi Pasien dengan Musik || Daya Magis Musik dalam Kitab Al-Farabi

Fiqhislam.com - Islam memberikan sumbangsih signifikan dalam sejarah peradaban umat manusia. Fakta mencatat, cukup banyak buah pemikiran tokoh-tokoh Islam yang sangat mempengaruhi berkembangnya suatu disiplin ilmu. Mulai filsafat, matematika, astronomi, medis, sastra, hingga musik.

Khusus untuk bidang musik, Islam mencatatkan dua nama penting dan sangat berpengaruh, yakni Abu Yusuf Yaqub Ibn Ishaq as-Sabbah Al-Kindi dan Nasir Muhammad bin Al-Farakh Al-Farabi atau lebih dikenal dengan nama Al-Farabi. Keduanya mempunyai peranan cukup signifikan dalam mengekplorasi dan mengembangkan seni musik.   

 Al-Kindi dikenal sebagai filsuf pertama yang berasal dari kalangan Islam. Ia dilahirkan di Kufah pada tahun 801 masehi dan wafat pada 873 masehi. Selain mengerti bahasa Arab, ia juga pandai berbahasa Yunani. Tak pelak hal itu membuatnya cukup banyak menerjemahkan karya-karya filosof Yunani ke dalam bahasa Arab, seperti karya Aristoteles dan Plotinos.

Semasa hidupnya, Al-Kindi telah menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu. Antara lain bidang metafisika, logika, matematika, astrologi, psikologi dan lainnya. Selain itu, ia memliki pengetahuan cukup luas tentang musik. Ia diyakini sebagai tokoh pertama yang meletakkan dasar teori musik, yakni ketika dirinya membicarakan dan membahas tentang konotasi kosmologikal musik.

Al-Kindi juga dikenal sebagai tokoh pertama yang memanfaatkan musik sebagai media terapi untuk menghilangkan penyakit. Pada masa itu Al-Kindi telah menyadari bahwa musik memiliki khasiat untuk memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, serta spiritual.

Terapi musik tersebut dipraktikkan oleh Al-Kindi untuk menyembuhkan salah satu pasiennya yang menderita quadriplegia atau tetraplegia. Yakni sebuah kelumpuhan yang disebabkan oleh cedera atau penyakit yang diderita manusia dan mengakibatkan hilangnya fungsi gerak badan.

Al-Kindi diyakini memiliki 15 karya yang khusus mengulas tentang musik. Namun, dari 15 karya tersebut, hanya lima karya saja yang masih eksis. Salah satu judul kitab atau karya miliknya adalah “Musiq”. Judul kitab ini yang dipercaya menjadi cikal bakal lahirnya kata “musik”. [yy/republika]

Daya Magis Musik dalam Kitab Al-Farabi

Daya Magis Musik dalam Kitab Al-Farabi


Fiqhislam.com - Sepeninggal Al-Kindi, Islam kembali memunculkan seorang tokoh lainnya yang mengembangkan seni musik, yakni Al-Farabi. Ia lahir di Farab, Kazakhstan pada tahun 870 masehi dan wafat pada 950 masehi. Sama seperti Al-Kindi, selain bidang musik, Al-Farabi juga menguasai beberap disiplin ilmu lainnya, seperti filsafat, matematika, ilmu alam, dan lainnya.

Pada masa awal pendidikannya, Al-Farabi, sebagai seorang Muslim, terlebih dulu mempelajari pelbagai hal tentang Islam. Mulai membaca Alquran, mempelajari ilmu fikih, tafsir, hingga hadis. Selain ilmu agama, pada masa awalnya, ia juga meluangkan waktu untuk belajar tata bahasa, kesusastraan, serta aritmetika dasar.

Ia pun melanjutkan dan memperdalam ilmu agamanya di Bukhara, Uzbekistan. Di kota ini pula Al-Farabi mulai berkenalan dan menimba berbagai ilmu yang berkaitan dengan musik. Kendati tak begitu diketahui siapa gurunya, namun setelah belajar di sana, ia menjadi tokoh paling berpengaruh dalam berkembangnya seni musik.

Serupa dengan Al-Kindi, untuk mengabadikan wawasannya dalam bidang musik, Al-Farabi menulis beberapa kitab khusus, salah satunya berjudul “Kitabu al-Musiq al-Kabir”. Kitab ini merupakan karyanya yang paling fenomenal.

Dalam kitabnya tersebut, Al-Farabi memperkenalkan dan membahas tentang sistem pitch.  Yakni perihal tinggi atau rendah nada dalam suatu bunyi dan getaran yang dihasilkan oleh instrumen maupun suara manusia. Semakin banyak getaran, maka nada yang akan dihasilkan akan semakin tinggi.

Selain hal tersebut, dalam kitab al-Musiq al-Kabir, Al-Farabi juga menulis tentang daya magis musik yang mampu mempengaruhi dan mengendalikan aktivitas emosi. Misalnya, ketika mendengar nada yang riang, pendengarnya akan cenderung merasakan hal serupa. Begitupun ketika terlantun nada yang sedih, pendengar secara tak sadar akan terbawa arus kesedihan.

Pengaruh karya Al Farabi berlangssung hingga abad ke-16. Kitab al-Musiq al-Kabir kemudian diterjemahkan oleh Ibn Aqnin (1160M-1226m) ke dalam bahasa Ibrani. Sedangkan terjemahan dalam bahasa Latin diberi judul De Scientiis dan De Ortu Scientiarum.

Selain kedua tokoh tersebut, Islam masih memiliki nama penting yang mengembangkan seni musik. Misalnya, Abu Hamid Al-Ghazali yang menyatakan bahwa musik dapat membantu seseorang meningkatkan perasaan religiusnya dan mengalami pengalaman mistik. Ada pula Jalaludin Rumi yang menyatakan bahwa musik merupakan media untuk mencapai penyatuan mistik dengan Tuhan. Ia bahkan memadukan musik dengan tari untuk mencapai pengalaman spiritual. [yy/republika]