22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Rahmat Tuhan, Rahmaniyah dan Rahimiyah

Rahmat Tuhan, Rahmaniyah dan Rahimiyah

Fiqhislam.com - Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar dalam buku Mimbar Jumat edisi 1123 terbitan Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), menerangkan, rahmat rahmaniyah dan rahmat rahimiyah.

Kiai Nasaruddin mengatakan, di dalam kitab-kitab tafsir, dibedakan sifat-sifat rahmat Tuhan ke dalam dua bagian. Yaitu rahmat rahmaniyah dan rahmat rahimiyah. Yang pertama bersifat memberi rahmat kepada seluruh makhluk-Nya tanpa membedakan jenis dan tingkatan (maratib). Mulai benda-benda alam, tumbuh- tumbuhan, binatang, dan manusia tanpa dibedakan antara beriman atau kafir, semua mendapatkan rahmat rahmaniyah, sebagaimana dijelaskan di dalam ayat ini.

"Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS Al-A'raf: 156).

"Dari ayat ini dipahami bahwa rahmat rahmaniyah melimpah kepada seluruh makhluk dan hamba-Nya tanpa dibedakan kafir atau beriman. Siapa pun yang berusaha untuk mendapatkan rahmat-Nya, akan dipenuhi-Nya, sungguhpun orang itu kafir atau pendosa. Yang penting mereka sudah memenuhi persyaratan universal sudah berhak untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya banyak kita jumpai orang- orang selayaknya mendapatkan azab, tetapi mendapatkan rezekinya," kata Kiai Nasaruddin dalam buku.

Kiai Nasaruddin mengatakan, Alquran konsisten selalu mendahulukan kata al-Rahman baru al-Rahim untuk mengisyaratkan bahwa perjuangan menuju ke puncak tujuan harus melalui anak tangga pertama. Untuk mencapai maqam makrifat lebih tinggi, tidak bisa meninggalkan fiqih dan syariat.

"Orang yang berusaha mencapai puncak maqam spiritual tanpa mengindahkan aspek fiqih dan syariat sulit dibayangkan akan mencapai tujuan tersebut," ujarnya.

Ia menerangkan, kalangan sufi menunjukkan tiga jalan menuju puncak, yaitu syariat, tarikat dan hakikat. Ketiga jalan ini harus terintegrasi satu sama lain. Sehubungan dengan ini, Imam Malik pernah mengingatkan.

"Barangsiapa yang bertasawuf tanpa berfiqih, maka ia zindik. Barangsiapa yang berfiqih tanpa bertasawuf, maka ia fasik. Barang siapa yang menggabung keduanya, maka ia mencapai hakikat kebenaran.” (Imam Malik).

Kiai Nasaruddin menjelaskan, didahulukannya kata al-Rahman daripada al-Rahim, menurut kalangan mufasir, untuk menggambarkan makna generik kasih sayang Allah SWT kepada siapa pun penghuni alam semesta ini, termasuk manusia tanpa dibedakan jenis kelamin, etnis, kewarganegaraan, dan agama. Sedangkan, kata al-Rahim lebih spesifik kepada hamba-Nya yang Mukmin.

"Bisa juga ditafsirkan rahmat rahmaniyah lebih banyak diberikan dalam waktu yang terbatas atau terukur, sedangkan rahmat rahimiyah lebih bersifat permanen, di dunia sampai di akhirat kelak," jelasnya. [yy/republika]