15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Tafsir dan Makna yang Terkandung dalam Tahmid

Tafsir dan Makna yang Terkandung dalam Tahmid

Fiqhislam.com - Tahmid atau kalimat pujian umat Islam kepada Allah SWT tertulis pada Surah Al-Fatihah ayat kedua. Bunyinya Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Umat Islam sering mengucapkan tahmid ketika mengungkapkan rasa syukur atas nikmat dan pujian kepada pemberi nikmat tersebut yakni Allah SWT. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan makna yang terkandung dalam kalimat tahmid tersebut.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam." (QS: Al-Fatihah: 2).

Mengutip Tafsir Kementerian Agama, maksud dari ayat itu adalah "Segala puji kita persembahkan hanya untuk Allah semata, Tuhan Pencipta dan Pemelihara seluruh alam, yaitu semua jenis makhluk."

Pada ayat ini Allah mengajarkan kepada hamba-Nya agar selalu memuji-Nya. Al-hamdu artinya pujian, karena kebaikan yang diberikan oleh yang dipuji atau karena suatu sifat keutamaan yang dimilikinya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang menjadi sumber bagi semua nikmat.

Hanya Allah yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji. Orang yang menyebut al-hamdu lillah bukan hanya mengakui bahwa puji itu untuk Allah semata, melainkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah.

Rabb artinya pemilik, pengelola dan pemelihara. Di dalamnya terkandung arti mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaan yang sempurna dengan berangsur-angsur.

'Alamin artinya seluruh alam, yakni semua jenis makhluk. Alam itu berjenis-jenis, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk halus seperti malaikat, jin dan alam yang lain.

Ada mufasir (ahli tafsir) mengkhususkan 'alamin pada ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini mempersempit arti kata yang sebenarnya sangat luas.

Dengan demikian, Allah itu Pendidik seluruh alam, tak ada sesuatu pun dari makhluk Allah yang terlepas dari didikan-Nya. Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu, guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.

Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya sampai ke masa kanak-kanak, lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Allah yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya. [yy/republika]