fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Sejarah Legislasi Hukum Islam Melalui Tarikh Tasyri

Sejarah Legislasi Hukum Islam Melalui Tarikh Tasyri

Fiqhislam.com - Tarikh Tasyri merupakan disiplin ilmu yang erat kaitannya dengan ilmu fiqih maupun usul fiqih. Tarik berarti ketentuan waktu, sebagaimana disebutkan arakha al kitab, arrakhahu, dan arakhahu.

Maksudnya adalah waqqatahu yaitu menjelaskan waktunya. Pengertian ilmu Tarikh adalah ilmu yang mempelajari tentang kisah-kisah waktu terjadinya, peristiwa penting yang terjadi padanya, serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Sejarah ilmu mencakup latar belakang munculnya ilmu tersebut, fase-fase perkembangannya, kisah hidup para pembawanya, serta buah pemikiran yang mereka sumbangkan demi tegaknya ilmu tersebut.

Tujuan Penulis Syekh Manna Al-Qaththan menulis Tarikh Tasyri  adalah untuk mengetahui bagaimana latar belakang munculnya suatu hukum atau sebab-sebab ditetapkannya suatu hukum Syariah, yang terjadi pada periode Rasulullah. Tentunya pada periode Rasulullah itu tidak sama atau memungkinkan adanya perbedaan dengan periode-periode setelahnya.

Menurut, Syekh Manna Al-Qaththan ada empat manfaat mempelajari Tarikh Tasyri. Pertama bisa mengetahui latar belakang pembentukan hukum Islam. Dengan mengetahui latar belakangnya, maka tidak akan keliru dalam memahami hukum Islam. Kedua dalam mempelajari perkembangan fiqih atau fatwa berarti mempelajari pemimpin dan ulama yang telah melakukan ijtihad dengan segala kemampuan.

Ketiga mempelajari produk ulama dan ijtihadnya sekaligus konstruktif dalam memahami produk pemikiran dan pola yang dikembangkan. Keempat mempelajari sejarah hukum Islam sehingga paling tidak dapat melahirkan sikap toleran dan dapat mewarisi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihad dan pengembangan gagasannya.

Tarikh Tasri merupakan buku paling popiler yang ditulis Syekh Manna Khalil Al-Qaththan, ia merupakan seorang ulama terkenal asal Mesir yang konsen terhadap sejarah legislasi hukum Islam. Tentang Tarikh Tasri Syekh Manan membagi penjelasan kedalam lima pasal.

Pasal pertama ia menjelaskan masa penetapan hukum sejak diutusnyan Nabi Muhammad SAW sampai wafatnya tahun 11 Hijriah. Pasal kedua fiqih pada masa Khulafaur Rasyidin, sejak tahun 11 H sampai 40 H. Pasal ketiga masa junior sahabat dan senior tabiin, mulai dari pemerintah Muawiyah hingga awal abad kedua hijriah (139 H-172 H).

Pasal empat para ahli fatwa (mufti) pada periode (197H-279H). Pasal lima studi singkat seputar empat imam dan pokok-pokok mazhab mereka. Semua pasal dijelaskan secara rinci dalam buku Tarikh Tasri setebal 624 halaman.

Pada Pasal pertama, Syekh Manna Khalil Al-Qaththan menceritakan bagaimana pada abad ke-6 Masehi, di mana pada masa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam belum diutus, dunia dipimpin oleh dua negara besar yang letaknya tidak jauh dari jazirah Arab.  Dua negara besar ini adalah Persia yang terletak di di sebelah Timur Laut Jazirah Arab dan Romawi posisinya membentang di bagian Utara dan Barat Jazirah Arab.

"Yang masing-masing negara-negara besar tersebut memiliki peradaban yang mencakup ilmu undang-undang dan ideologi yang mereka anut," kata Syekh Manna.

Di Persia, para Khasrau atau raja Persia silih berganti memimpin wilayah yang ada di sekeliling mereka. Mereka membangun peradaban yang mereka namakan dengan peradaban Persia. Negara paling akhir yang memegang tampuk kepemimpinan negara Persia sebelum datangnya Islam adalah negara Sasaniyah.

"Kepemimpinan Sasaniyah bermula pada tahun 226 M, dan berakhir pada tahun 651 M di saat kaum muslimin menguasai mereka," katanya.

Syekh Manna mengatakan orang-orang Persia dikenal sebagai masyarakat yang suka menyembah fenomena natural. Ajaran-ajaran Zoroaster atau orang yang dianggap sebagai nabi oleh orang Persia berdiri atas dasar bahwa ada perbedaan dan perselisihan antara kekuatan-kekuatan yang saling berseberangan seperti cahaya, kegelapan, kesuburan, kegersangan dan seterusnya.

Menurut Zoroaster bahwa di dunia ini ada dua sumber atau tuhan. Pertama tuhan kebaikan dan tuhan keburukan. Kedua tuhan tersebut selalu berada dalam lingkup perselisihan. Masing-masing dari tuhan tersebut memiliki kemampuan yang berbeda dalam urusan penciptaan.  Sumber atau tuhan kebaikan adalah cahaya. Cahaya inilah yang menciptakan segala sesuatu yang indah, baik dan bermanfaat, seperti penciptaan hewan yang bermanfaat dan burung-burung yang indah. Sementara tuhan keburukan adalah kegelapan yang menciptakan segala keburukan yang ada di dunia, seperti hewan yang buas, ular serangga, dan semisalnya pada ujungnya keselamatan hanya akan diperoleh oleh tuhan kebaikan.

Zoroaster juga berpendapat bahwa manusia memiliki dua kehidupan, yaitu kehidupan pertama di dunia dan kehidupan kedua setelah kematian. Manusia akan memetik hasil sesuai amalan yang mereka kerjakan di dunia. Berdirinya hari kiamat semakin dekat ketika tuhan kebaikan dapat menyalahkan tuhan keburukan.

Orang Persia menjadikan api sebagai simbol tuhan kebaikan. Mereka menghidupkannya di setiap tempat ibadah mereka dan memberikan pembelaan terhadapnya agar lebih kuat dan menang atas tuhan keburukan. Ajaran-ajaran Mani yang menyebar di manawiayah memiliki kesamaan dengan ajaran ajaran Zoroaster. Meskipun di sana ada perbedaan tetapi hanya sedikit.

Namun, sekitar tahun 487 M muncul seorang yang bernama Mazdak di Persia. Iya menyerukan dakwah kesyirikan model baru kepada manusia. Ia berpendapat sebagaimana pendapat Zoroaster mengenai cahaya dan kegelapan. Hanya saja ajaran-ajaran yang ia pegang adalah ajaran sosialisme. Oleh karena itu ia berpandangan bahwa seluruh manusia dilahirkan dengan kondisi dan cara yang sama maka seharusnya mereka hidup dalam kesetaraan terutama dalam urusan harta dan wanita.

"Syahrastani berkata mazdak melarang manusia melakukan penyimpangan saling membenci dan peperangan ketika ia merasa bahwa harta dan wanita menjadi Sebab utama terjadinya penyimpangan dan peperangan maka ia menjadikan wanita dan harta halal bagi siapa saja yang menjadikan seluruh manusia bersekutu dalam menikmatinya sebagaimana mereka bersekutu dalam menggunakan air makanan dan api," kata Syekh Manna.

Pada masa pemerintahan Sasaniyah, Persia memiliki undang-undang yang mengandung hukum purusa seperti pernikahan, hukum kepemilikan, perbudakan, dan sebagian urusan urusan yang bersifat umum.  Sementara negara Romawi yang dipimpin oleh Caesar memiliki peradaban yang dibangun atas teori filsafat dan argumen rasional Yunani dan Romawi. Ide-ide Socrates, Plato dan Aristoteles pun turun-temurun diantara mereka. Hukum mereka telah meluas ke wilayah wilayah sekitar laut tengah yang mencakup Syam, Mesir, dan Maroko.

Di mana saat itu keyakinan-keyakinan agama Nasrani dengan berbagai alirannya menyebar di negara-negara tersebut. Orang-orang Nasrani juga mengambil filsafat Yunani guna menjadikannya sebagai alat bantu pada saat berargumentasi dan untuk mengokohkan ajaran-ajaran dihadapan para penyembah berhala.

"Alexandria merupakan tempat bermuaranya penyatuan antara agama dan filsafat. Di sana ada sebuah aliran yang dikenal dengan sebutan Plato baru, yang muncul sekitar tahun 200 M. Agama Nasrani pun mulai menyebar di Mesir, Maroko, Habasyah dan Irak," katanya.

Disamping itu, sisa-sisa ajaran Yahudi masih menyebar di beberapa wilayah bagian utara Jazirah Arab seperti Yastrib. Mereka juga memiliki warisan dan peninggalan yang berupa keyakinan. Adapun orang-orang Arab mayoritas mereka berasal dari pelosok padang pasir dan bersatu di bawah aturan kabilah yang mengatur adat istiadat serta warisan orang-orang sebelum mereka.

"Mereka dipimpin oleh para kepala suku yang bertugas sebagai penengah di saat terjadinya perselisihan," kata Manan.

Syekh Manna mengatakan, sebagian orang Arab yang tinggal di perkotaan seperti Makkah, Yastrib (Madinah), Thaif ada bercocok tanam dan berprofesi sebagai produsen. Mereka ini adalah dari kalangan Quraisy yang dikenal ahli berdagang sehingga mereka sangat layak menentukan kode etik dalam urusan harta dan hubungan perdagangan.

Ketika itu, orang-orang Arab tidak menutup diri dari budaya yang ada di negara sekelilingnya. Bahkan perseteruan Abadi antara Persia dan Romawi memberi efek positif kepada mereka, sehingga Persia dan Romawi menjadi penolong bagi mereka dalam memukul mundur serangan orang-orang Baduy atas mereka.

Persia membangun pemerintah Hirah di tepian sungai Furot dan menjadikan Amr bin Adiy sebagai pemimpin untuknya. Raja terakhir yang memimpin Hira adalah Nu'man bin Mundzir Al Khamis, suami dari Hindun, yang memiliki julukan Abu Qabus, sahabat dari seorang jenius bernama Adz-Dzubyani. Khosrau pernah marah kepadanya lalu memasukkannya ke dalam penjara hingga ia wafat sekitar tahun 602 Masehi.

Penduduk Arab yang bertempat tinggal di Hirah terpengaruh oleh peradaban Persia, sebagaimana orang-orang Ghassaniyah terpengaruh oleh peradaban Yunani dan paham keagamaan Romawi. Dan mereka memiliki hubungan kuat dengan orang-orang Arab yang tinggal di jantung Jazirah Arab.

"Di sinilah ajaran-ajaran Yahudi mulai memasuki negara Arab mereka menjadikan beberapa daerah sebagai pusat operasi mereka," katanya.

Meskipun orang-orang Arab telah mewarisi sebagian ajaran Nabi Ibrahim dan Ismail AS, tabiat kasar yang mereka miliki tetap menjadikan mereka kokoh dalam menghadapi fenomena kebudayaan tersebut. Hal ini disebabkan oleh maraknya kebodohan dan kesyirikan diantara mereka, dan kehidupan mereka penuh dengan pembusukan dan keributan.

"Ibnu Khaldun berkata tentang mereka kebiadaban kelompok yang hobi merampok dan berbuat kerusakan memiliki metode tersendiri dalam beroperasi," katanya.

Inilah kondisi Arab secara khusus dan dunia secara umum sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, di mana keburukan dan marabahaya merajalela di antara manusia, yang sering munculnya sikap sewenang-wenang, kezaliman kerusakan, dan kesengsaraan. Di tengah kondidi kehidupan yang mencekik tersebut, terdengar dari jantung kota Makkah suara lantang yang berbunyi "Laa Ilaha Illallah" suara lantang sebut adalah suara Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk mengemban tugas agar memberi petunjuk bagi akal akal yang tersesat menuju kepada cahaya keimanan, dengan akidah yang benar, membuka jalan-jalan menuju ilmu yang bermanfaat, dan mengajarkan sifat adil yang dapat menghancurkan tali-tali kelaliman dan kekuasaan.

Hal tersebut memberikan pesan kepada seluruh manusia bahwa dakwah beliau bersifat manusia dan mengajak mereka dengan berbagai jenis dan warna kulitnya untuk bergabung di bawah Panji nya sesuai firman Allah Surah Al A'raf yat 158. "Katakanlah hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada semua."

Penetapan Hukum Pada Zaman Nabi

Tasyri atau Syariat pada masa Nabi ditetapkan dengan dua cara. Pertama, wahyu yang datang dari Allah secara maknawi dan lafzhi berupa Alquran yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad. Kedua wahyu dari Allah secara maknawai bukan lafzhi, yang berupa sunah-sunah Rasulullah. Sesungguhnya lafal hadits-hadits Nabi berasal dari Nabi sendiri, sedangkan maknanya bersumber dari Allah seperti ditegaskan Allah dalam surah An-Najm ayat 3-4.

"Dan tiadalah yang diucapkannya itu Alquran menurut kemauan hawa nafsunya ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya," katanya.

Jadi hanya Allah saja yang memiliki hak untuk menetapkan syariat, sementara nabi bertugas untuk menjalankan syariat tersebut seperti ditegaskan Allah dalam surat An-Nahl ayat 44.  "Dan kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka."

Tidak ada syariat yang berlaku kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah ataupun Rasulullah. Karena syariat Islam memiliki dua pokok sumber hukum yaitu Alquran dan Sunnah, maka penetapan syariat pun berakhir dengan wafatnya Nabi.  Ar-Raghib berkata dalam kitab Al-Mufradat, kata Alquran pada dasarnya adalah masdar yang memiliki kesamaan shighah dengan kata kufran dan rujhan. Kata Alquran menjadi nama khusus untuk kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagaimana Taurat adalah nama kitab yang diturunkan kepada Musa dan Injil merupakan nama kitab yang diturunkan kepada Isa.

Alquran mencakup seluruh kandungan kitab kitab selainnya,  bahkan ia mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan sebagaimana Allah telah mengisyaratkan hal ini dalam beberapa  surah di antaranya surah Yusuf ayat 111. "Dan menjelaskan segala sesuatu,". Surah An-Nahl ayat 89 "Untuk menjelaskan segala sesuatu." Dan Az-Zumar ayat 28 "Ialah Alquran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya."

Arti Alquran secara bahasa adalah mengumpulkan dan menyatukan Mashdar dari kata ini menjadi nama khusus untuk Kitab yang mulia. Adapun pengertian Alquran secara istilah adalah perkataan Allah yang diturunkan kepada Muhammad yang sampai kepada kita secara Mutawatir.

"Membaca isinya dan mengamalkan kandungan hukum-hukumnya merupakan bentuk ibadah kepada Allah dan Ia merupakan bukti kuat atas kebenaran Risalah Nabi," kata Manna.

Akidah menjadi penetapan hukum pertama di Makkah yang merupakan esensi syariat nabi yang diutus oleh Allah, dan merupakan asas di mana tiang tiang agama tegak di atasnya.  Manusia tidak akan menerima Syariat yang Allah tetapkan kecuali jika akidah mereka lurus, dan mereka beriman kepada Allah serta mengaku keesaan-nya dalam uluhiyah, rububiyah dan nama-nama atau sifat-sifat Allah.

Apabila akidah tertanam kuat dalam jiwa masyarakat, maka akan mudah dalam membangun masyarakat yang berpegang teguh dengan syariat dalam mengatur hubungan mereka dengan Allah, dengan sesama mereka, serta dengan alasan semesta. Oleh sebab itu akidah merupakan tujuan utama ajakan para rasul kepada umatnya seperti diabadikan dalam surah Al-Anbiya ayat 25.

"Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya bahwa hanya tidak ada Ilah yang hak untuk disembah melainkan Aku maka sembahlah Aku,"

Penetap Hukum di Makkah

Penetapan hukum pada fase Makkah yang berjalan selama kurang lebih 13 tahun fokus pada pembinaan akidah, memperkuat akar-akarnya, dan menjaga kemurniannya. Islam menjadikan dua kalimat syahadat sebagai realisasi dari aqidah sebagai pintu masuknya seseorang ke dalam pelukan Islam yang kemudian diberlakukan baginya hukum-hukum Islam.

Dalam upaya kepada akidah Islam bersandar pada argumen argumen logis. Caranya adalah dengan mengajak manusia untuk memikirkan alam semesta, mentadaburi tanda-tanda kekuasaan Allah, dan keindahan ciptaannya, serta memikirkan Bagaimana berjalan semua ciptaan ini dengan pola yang teratur.

"Semua ini menunjukkan bukti yang kuat akan adanya pencipta dan pengatur bagi alam semesta ini," kata Syeh Manna.

Karena kata Syekh Manna, tidak mungkin ciptaan yang sempurna ini terwujud dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Dan bila keimanan kepada Allah itu benar, maka akan terlahir setelahnya keimanan kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

Menurut Syekh Manna, surat-surat dan ayat-ayat yang turut pada fase Makkah menggambarkan orientasi akidah dengan mengajak manusia untuk berpikir dan melihat alam semesta beserta langit dan bumi, menyaksikan rahasia-rahasia yang Allah simpan di balik semua itu, dan ketelitian, serta kesempurnaan pada alam semesta itu sendiri, yang mana Iya tersusun rapih tanpa ada kecacatan ataupun keraguan padanya.

Penetapan Hukum Madinah

Peristiwa hijrah merupakan pemisahan antara dua masyarakat dalam sejarah Islam. Saat di Makkah, akidah Islamiyah telah tertanam kuat dalam jiwa kaum Muhajirin dan sebagaimana kaum Anshar yang telah melakukan baiat. Disanalah mulai terbentuk benih-benih yang menjadi cikal bakal berdirinya masyarakat Islami. Kemudian mereka menjadikan Madinah sebagai tempat untuk menetap dalam rangka mengembangkan benih-benih tersebut.

"Pada fese inilah maka dakwah pun mulai memasuki tahap penerapan secara terorganisir," katanya.

Syekh Manna mengatakan, penetapan hukum di Madinah mengarah pada pembentukan masyarakat dan penetapan aturan dalam hal kemasyarakatan. Dan langkah pertama yang diambil oleh Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang dengannya orang-orang Anshar lebih mengutamakan saudaranya dari kalangan Muhajirin atas diri mereka sendiri.

Hal tersebut seperti disampaikan Allah dalam surah Al Hasyr ayat 9. "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin) mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan mereka (Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin) dan mereka mengutamakan orang-orang (Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan."

Hubungan akidah antara kaum mukminin kala itu Muhajirin dan Anshar menjadi sumber terjadinya hubungan seluruh umat Islam. Penetapan hukum pada fase di Madinah juga membahas beberapa permasalahan ibadah yang merupakan pondasi tegaknya tiang agama Islam Allah mensyariatkan zakat, puasa, dan haji melalui ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.

Setelah pondasi akidah terbangun kokoh. Alquran dan Sunnah telah dijalankan para sahabat secara konsisten. Untuk merspon masalah-masalah kenian yang jawabannya tidak ada di dalam Alquran dan hadist. Maka Rasulullah terbuka akan sebuah saran yang lahir dari sebuah proses pemikiran atau ijtihad.  

Ketika itu dialog perdana tentang Ijtihad adalah dengan Mu’adz bin Jabbal. Rasulullah menguji kematangan intelektual dan spiritual Mu’adz dalam memecahkan persoalan kontemporer yang dihadapinya itu, jawabannya tidak didapatkan pada nash dari Allah maupun Rasullnya. Hal ini diriwayatkan beberapa sahabat Mu’adz, dari Mu’adz, bahwa Rasulullah berkata kepadanya pada saat beliau mengutusnya ke Yaman.

Rasulullah berkata “Apa yang engkau akan perbuat jika engkau memerlukan pemutusan hukum?”

Mu’adz berkata. “Aku memutuskan sesuai hukum yang terdapat dalam Kitabullah,”

Nabi kembali bertanya. “Bagaimana jika engkau tidak mendapatnya dalam Kitabullah?”

Mu’adz kembali menjawab. “Maka dengan sunnah Rasulullah,”

Lalu Nabi Muhammad bertanya lagi. “Bagimana jika engkau tidak mendapatkannya di daalam sunah Rasulullah?”

Melalui kematangan spiritual dan intelektualnya Mu’adz berkata. “Aku berijtihad dengan pendapatku dengan sungguh-sungguh,”

Mendengar jawaban yang lugas itu, Nabi merasa bangga terhadap sahabat sekaligus muridnya dan berkata sambal memegang dada Mu’adz. “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan utusan Rasul-Nya kepada sesuatu yang diridhoi oleh Rasulullah,” katanya.

Mu’ajz adalah orang pilihan dari kalangan kaum muslimin yang mana keilmuan, agama, dan keutamaannya sudah tidak asing lagi. Selain Mu’adz para sahabat lain juga berijtihad semasa Rasulullah masih hidup, ketika pada permasalahan yang tidak terdapat pada Nas dari Alquran maupun sunnah.

Pasal kedua Fikih Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Pada pasal kedua ini Syekh Manna menerangkan tentang pemahaman terhadap ilmu yang ditangkap panca indra atau pengetahuan. Menurutnya setiap pemahaman terhadap sesuatu dinamakan dengan fiqih dan kemudian nama ini dikhususkan untuk menyebut suatu ilmu syariat.

Menurutnya, setiap orang yang paham akan perkara yang halal dan yang haram dinamakan sebagai faqih. Jika makna fikih pada dasarnya adalah mengetahui sesuatu dan memahaminya, maka secara dominan ia diartikan sebagai pengetahuan atas ilmu syariat dikarenakan kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaannya di atas segala ilmu. Sehingga istilah ini menjadi tradisi khusus,  di mana tidaklah kata fiqih disebut melainkan maksudnya adalah pemahaman terhadap ilmu agama.

Tidak ada satupun perbuatan atau ucapan manusia yang berubah berupa akad ataupun perilaku lainnya yang masuk kategori ibadah, muamalah, dan pidana melainkan hukumnya telah dijelaskan di dalam syariat Islam, melalui nash-nash Alquran dan Sunnah secara gamblang, ataupun syariat telah memberikan isyarat-isyarat dan dalil-dalil yang mana para mujtahid mengambil kesimpulan hukum darinya.

Kumpulan hukum-hukum tersebut dinamakan dengan fiqih. Pengertian fiqih adalah sekumpulan hukum-hukum syar'I, seputar perbuatan yang disarikan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Sementara tema ilmu fiqih adalah perbuatan mukallaf yang ditetapkan dengan hukum syar'i.

Berbicara tentang fiqih Islam dan sejarahnya, adalah berbicara tentang kaidah-kaidah yang mengokohkan tiang-tiang kebangkitan manusia dalam segi hubungan mereka dengan Rabbnya, hubungan mereka dengan generasi berikutnya, dan hubungan umat Islam dengan umat umat selainnya.

Inilah kata Syekh Manna, tiga sisi yang menjadi tegaknya peradaban manusia di dalam Islam. Fiqih adalah neraca yang mengukur sejauh mana kesetiaan umat Islam pada aturan syariat, sekuat apa kekuatan mereka dalam berpegang teguh dengan tali Allah, dan sejauh mana pula mereka membangun kehidupan di atas pondasi pondasinya.

"Syariat Islam bukanlah wacana yang diperdebatkan integritasnya pada segala waktu dan tempat, serta kesetiaannya dalam memenuhi segala kebutuhan manusia pada setiap waktu," katanya.

Pasca meninggalnya Rasulullah menjadi tantangan terberat bagi para sahabat dalam berijtihad. Meski demikian keteguhan sahabat terhadap Alquran dan Sunnah akhirnya para sahabat mampu melanjutkan dakwah Rasulullah setelah berijtihad memilih Abu Bakar menjadi pemimpin umat Islam pasca Rasulullah meninggal.

Selama memerintah Abu Bakar terus menegakkan apa yang telah berjalan pada masa Rasulullah. terutama menjalankan ketentuan zakat di mana ada sebagian kelompok pada masa itu tidak mau mengeluarkan zakat, tetapi tidak meninggalkan salat terhadap hal ini Umar memeranginya dan ini merupakan salah satu Ijtihad Abu Bakar.

Pada saat menjadi khalifah setelah Abu Bakar, Umar juga melakukan trobosan-trobosan dalam menyelesaikan persolan pemerintahan, sosial dan budaya melalui pendekatan agama melalui ijtihad setelah mencari jawabannya di Alquran dan hadist.  Setiap kali Umar menghadapi problem, maka Umar mencari solusi atasnya di dalam Alquran, jika tidak mendapatkannya, maka ia berpindah kepada sunnah Rasulullah, dan ketika tidak mendapatkannya di dalam sunnah Rasulullah maka ia berpindah kepada jejak perjalanan Abu Bakar.

"Dan jika ia masih belum mendapatkannya disana maka ia memanggil para cendekiawan dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk diajak bermusyawarah supaya menemukan solusi atas berbagai problem yang Umar hadapi," kata Syekh Manna

Apa yang dilakukan, Abuk Bakar, Umar juga dilakukam sahabat lainnya seperti Utsmam dan Ali. Hasil Ijtihad Utsman yang dirasakan sampai sekarang adalah telah menghimpun Alquran dengan baik sehingga Alquran bisa dibaca seluruh umat Islam sampai sekarang.

Pada pasal ketiga, Syekh Manna menceritakan tentang kondisin politik pada masa Muawiyah, di mana seluruh wilayah negeri Islam tergabung menjadi satu, yaitu setelah perdamain yang dilukukan oleh Al-Hasan bin Ali yang dijuluki sebagai Amirul Mukminin pada tahun 41 H, dan tahun tersebut dinamakan dengan Am Al-Jammah.

Bergabungnya seluruh wilayah negeri Islam bukan berarti keadaan menjadi stabil dan tenang segala sisinya. Sebab penentangan terhadap Muawiyah dan hukum pemerintahan senantiasa bermunculan. Terkadang penentangan itu datangnya dari kaum Khawarij yang memiliki rasa dendam terhadap Ali, Utsman dan Muawiyah serta mengingkari kebijakan pemimpin duniawi.

"Dari sisi lain datang dari kaum Syiah yang memandang bahwa seharusnya kekhalifan berada ditangan Ali dan keluarganya," kata Syekh Manan.

Syekh Manna mengatakan, pada periode ini kaum muslimin telah terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama Syiah, Khawarij dan Al-Jamaah. Menurutnya merupakan masalah yang pertamakali diperselisihkan oleh kaum muslimin, sehingga dalam hal ini pendapat mereka bercabang. Asas perbedaan dalam fitnah yang terjadi pada zaman Utsman tetapi kembali pada benih pertamanya ketika Rasulullah wafat dan kaum muslimin menyadari pentingnya memikirkan siapa yang akan menggantikannya.

Kaum Anshar bertugas untuk mengadakan perkumpulan di Sqifah Bani Saidah sebelum pemakaman Rasulullah untuk memutuskan perkara ini. Kemudian Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mendapati mereka berkumpul. Dalam pertemuan tersebut, kaum Anshar berpendapat bahwa pihak mereka dalam mengurus kekhalifahan. Sementara kaum Muhajirin bependapat agar dari kepemimpinan dipegang oleh mereka.

"Pada saat itulah kemudian muncul benih-benih pendapat ketiga yang berpendapat bahwa kepemimpinan dipegang oleh pihak keluarga Rasulullah khususnya Ali, karena kekerabatannya dengan Nabi dan lebih dahulunya masuk Islam. Juga karena jihadnya, keutamannya, serta keilmuannya,” katanya.

Adapun pendapat kaum Anshar, Iya telah padam setelah adanya kepuasan dan kerelaan pada diri mereka. Begitu juga pandangan yang menyatakan bahwa Ali lebih utama untuk menjadikan khalifah daripada selainnya menjadi reda pada era kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, dikarenakan keadilan dan kejujuran yang ada pada diri kedua khalifah tersebut, serta jauhnya mereka dari sifat-sifat fanatisme.  Pada masa kekhalifahan Utsman, Utsman meminta bantuan dari bani Umayyah hal tersebut ternyata menimbulkan sikap fanatik pada diri orang yang condong kepada Ali.

Dengan terbunuhnya Utsman kemudian pelantikan Ali, pandangan yang menyatakan bahwa Ali adalah lebih berhak untuk menjadi khalifah akhirnya terealisasikan. Namun, perselisihan yang terus menyala antara Ali dan Muawiyah yang kemudian berlanjut dengan peristiwa tahkim dan yang berakhir dengan penguasaan Muawiyah mengakibatkan terbaginya muslim menjadi tiga kelompok (Syiah, Khawarij dan Al Jamaah).

Keburukan yang timbul akibat terbaginya kaum muslimin kepada Syiah, Khawarij dan Al jamaah tidak hanya menimbulkan kerusakan material pada kehidupan mereka. Namun, muncul pula perkara lain yang berbahaya tidak kalah dahsyatnya dari yang sebelumnya, yaitu perbedaan kaum muslimin dalam pendapat mereka dan perpecahan dalam agama mereka. Pada akhirnya sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lainnya, berburuk sangka kepada saudaranya. Bahkan terkadang kehidupan mereka berdiri di atas pedang yang terwujud pada pemberontakan yang terus-menerus terjadi. Bani Umayyah menghadapi gejolak tersebut dengan kekerasan dan sikap sewenang-wenang sehingga kekuatan tangan menjadi asas dalam menentukan hukum pada beberapa periode.

Bahkan setiap kelompok dari tiga kelompok tersebut memiliki pemahaman tersendiri mengenai dasar-dasar agama serta cabang-cabangnya. Sudah Selayaknya kita memperdalam pembahasan mengenai dua kelompok yaitu Khawarij dan Syiah, sebab keduanya memiliki beberapa pemikiran yang merusak kehidupan akal kaum muslimin serta mempengaruhi Fiqih Islam dengan pengaruh yang sangat besar.

Khawarij merupakan salah satu golongan dalam Islam yang sangat keras dalam membela ideologi mereka semangat dalam menyebarkan pemikiran mereka, berlebihan dalam beribadah, dan pengorbanan dalam memperjuangkan akidahnya. Keikhlasan mereka dalam membela kebatilan yang mereka jalani merupakan keikhlasan yang tiada bandingnya. Mayoritas mereka berasal dari kaum Arab asli yang terbiasa dengan kekerasan dan kehidupan yang sempit. Mereka ekstrim dalam memegang pemikiran mereka yang sesat, membantah lawan debat mereka dengan penjelasan yang gamblang dan lisan fasih, serta memberlakukan mereka dengan kekerasan dan kekasaran.

Khwarij berbangga bahwa Ali telah salah dalam menetapkan hukum sebab keputusan tersebut mengandung keraguan antara kedua kubu yang sedang berperang, siapa di antara mereka yang berada dalam kebenaran? Perkara ini bukan seperti mereka pikirkan, sebab mereka berperang dan meyakini bahwa kebenaran berada di sisi mereka. Khawarij mengatakan tidak ada hukum yang layak diikuti kecuali hukum Allah kalimat ini ditakwilkan kepada orang yang menganut pendapat ini dan kalimat itu pun menjadi semboyan mereka.

Mereka meminta kepada Ali agar menetapkan bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan bahkan sebuah ke kekufuran, dikarenakan ia telah menerima seruan tahkim dan membatalkan syarat-syarat yang telah Ia setuju dengan Muawiyah. Namun Ali menolaknya sebab Ia sama sekali tidak pernah menyekutukan Allah semenjak ia beriman, dan bagaimana mungkin ia membatalkan kesepakatan yang telah Ia setujui.

Mereka pun meneruskan kekerasan mereka terhadap Ali dan mengganggunya.

Bahkan ketika Ali sedang berpidato di masjid mereka memotongnya dengan mengatakan “Tidak ada hukuman yang layak diikuti kecuali hukum Allah.” Tatkala mereka putus asa bahwa Ali tidak akan mengikuti pendapat mereka, mereka berkumpul di rumah salah seorang dari mereka juru bicara merekapun berpidato dan mengatakan.

“Amma badu sesungguhnya tidak pantas bagi kaum yang beriman kepada Arrahman dan bersandarkan kepada hukum Alquran untuk menjadikan dunia ini sebagai sesuatu yang lebih mereka utamakan daripada menyeru kepada kebaikan, mencegah kejahatan, dan mengatakan yang benar, walaupun mereka harus tersakiti dan terlukai. Sebab barangsiapa yang tersakiti dan terlukai di dunia ini sesungguhnya ganjarannya pada hari kiamat adalah keridhaan Allah, serta kekekalan di dalam surga nya. Oleh sebab itu, mari kita keluar bersama saudara-saudara kita dari negeri ini yang penduduknya zalim menuju ke sebagian kota-kota kecil di pegunungan atau sebagian kota di sini untuk mengingkari kebid'ahan kebid'ahan yang menyesatkan ini.

Kemudian mereka keluar menuju desa di dekat Kufah yang bernama harura, ketika itu mereka dinamakan dengan AL-Haruriyah yang merupakan penisbahan kepada desa ini, mereka juga dinamakan dengan AL-Muhakkimah, sebab mereka mengatakan tidak ada hukum yang layak diikuti kecuali hukum Allah, dan mereka mengangkat seorang laki-laki sebagai pemimpin bagi mereka yang bernama Abdullah bin Wahb Al-Rasibi.

Adapun penamaan mereka dengan Kawarij adalah karena mereka berselisih paham dengan Ali dan para sahabatnya sebagian mereka menjadikan kata tersebut sebagai pecahan dari kata Khuruj keluar dijalan Allah yang diambil dari firman Allah Surah An Nisa ayat 100.


"Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasulnya kemudian kematian menghampirinya sebelum sampai ke tempat yang dituju maka sesungguhnya telah tercatat pahala di sisi Allah"

Juga dinamakan dengan Surah yaitu yang menjual dirinya untuk Allah. Kata ini diambil dari firman Allah surat Al Baqarah ayat 207.

"Di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah".

Ali telah memerangi dan mengalahkan mereka, banyak dari mereka yang terbunuh pada peristiwa perang Nahrawan. Akhirnya mereka menghentikan penyerangan mereka terhadap Ali dan membuat tipu daya untuk menghadapinya, hingga mereka menyusun konspirasi untuk membunuhnya dan akhirnya ia berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam Al-Khawarij.

Akhirnya Khawarij pun menjadi duri penghalang dari dinasti Umawiyah, mereka memberikan ancaman baginya dan memeranginya dengan sikap keberanian dan kegagahan. Sehingga mereka mengakibatkan kerugian yang dahsyat berkat peperangan yang terus menerus berlangsung dan mereka terbagi menjadi dua bagian.

Pertama mereka yang berada di Irak dan sekitarnya. Markas terpenting yang mereka miliki berada di Al Bathaih yang dekat dengan kota Al-Basharah. Mereka berhasil menguasai kota Kirman (kota di Iran), dan negeri Persia Iran dan mengancam kota Al-Basharah untuk ditaklukan. Mereka adalah kelompok yang diperangi oleh AL-Muhammad bin Abi Shafrah. Di antara petinggi mereka yang terkemuka adalah Nafi bin Al-Azraq dan Quthari bin Al-Fujaah.

Kedua mereka yang berada di semenanjung Arab. Mereka berhasil menguasai kota Yamamah, Hadramaut dan Ath-Thaif. Di antara pemimpin mereka yang terkenal adalah Abu Thalut dan Najdah bin Amir. Peperangan melawan Khawarij terus berlanjut pada masa pemerintah Umayyah dan kemudian kekuatan mereka melemah pada masa pemerintahan Abbasiyah. [yy/republika]