pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Maimunah binti al-Harits, Menyerahkan Diri kepada Rasulullah

Maimunah binti al-Harits, Menyerahkan Diri kepada Rasulullah

Fiqhislam.com - Nama lengkapnya Maimunah binti al-Harits bin Hazm bin Bujair bin Hazm bin Rabiah bin Abdullah bin Hilal. Maimunah adalah adik dari Ummu Fadl, istri paman Rasulullah Abbas bin Abdul Muthalib. Saudara perempuan seibunya adalah Zainab binti Khuzaimah (istri Rasulullah), Asma binti Umais (istri Ja'far bin Abu Thalib), dan Salma binti Umais (istri Hazmah bin Abdul Muthalib).

Beliau sendiri adalah Ummahatul Mukminin, salah seorang istri Nabi Muhammad SAW. Maimunah adalah seorang wanita mukminah yang menyerahkan dirinya dalam Islam dan kepada Rasulullah ketika keluarganya masih hidup dalam kepercayaan jahiliyah.

Maimunah yang menyerahkan jiwa dan raganya ini dicatat oleh Allah dalam sebuah surah, "... dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan semua orang mukmin." (QS al-Ahzab [33]: 50).

Allah SWT menjadi saksi dengan menurunkan ayat tersebut yang menunjukkan betapa Mainumah adalah sosok yang ikhlas untuk menyerahkan semuanya kepada Islam. Ia total ingin mengabdikan diri dalam barisan dakwah sehingga loyalitasnya tak perlu diragukan lagi. Nasabnya pun adalah nasab yang baik.

Ia dilahirkan enam tahun sebelum kenabian. Ia disebut Ibnu Abbas sebagai tiga mukminah bersaudara selain Ummu Fadl dan Asma. Ia pernah memiliki suami bernama Abu Rahm bin Abdul Uzza, seorang lelaki yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah SWT. Ia ditinggal mati suaminya saat berumur 26 tahun.

Maimunah sejatinya tertarik dengan Islam sejak ia muncul di Makkah. Ia terpengaruh dengan keislaman kakaknya, Ummu Fadl. Namun, ia masih menyembunyikan keislamannya karena lingkungan yang tidak mendukung. Ia juga menyaksikan para sahabat hijrah ke Madinah. Namun, ia masih tinggal di Makkah karena keadaan belum memungkinkan.

Saat suaminya meninggal, timbul keinginan dari dirinya untuk menyerahkan diri kepada Rasulullah SAW. Ia pun menyampaikan maksudnya itu kepada Ummu Fadl. Ummu Fadl menyambut gembira gagasan tersebut. Ummu Fadl pun menyampaikan rencana itu kepada suaminya, Abbas.

Ternyata Abbas juga sangat mendukung. Abbas segera menyampaikan keinginan Maimunah kepada keponakannya, Rasulullah SAW. Rasulullah yang saat itu sudah di Madinah setuju. Ia pun mengutus seseorang untuk melamar Mainumah. Betapa gembiranya hati Maimunah mendapat kabar tersebut. Ia akan segera mendapat ganti suami yang jauh lebih baik. Ia memantapkan diri untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Rasulullah SAW.

Saat Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah diizinkan masuk tiga hari ke Makkah untuk menunaikan umrah. Kesempatan yang hanya tiga hari tersebut dimanfaatkan oleh Rasulullah untuk melangsungkan pernikahan dengan Maimunah. Maimunah pun resmi menjadi Ummul Mukminin. Ia diboyong ke rumah Nabi SAW dan disediakan kamar tersendiri.

Maimunah menjalani kehidupan rumah tangga bersama Rasulullah hingga Beliau SAW wafat. Selepas Nabi SAW wafat, Maimunah banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maimunah wafat pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan, tepatnya di wilayah Saraf selepas perjalanan kembali dari menunaikan haji. Maimunah wafat dalam usia 80 tahun pada tahun ke-61 Hijriyah.

Saat mengusung jenazahnya, Atha berkata, "Setelah ia wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas seraya berkata: ‘Apabila kalian mengangkat jenazahnya, janganlah kalian mengguncang-guncangkan atau menggoyang-goyangkan.' Ibnu Abbas juga berkata, 'Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya karena ia adalah ibumu’."

Aisyah RA berkata setelah wafatnya Maimunah, "Demi Allah, Maimunah telah pergi. Mereka dibiarkan berbuat sekehedaknya. Adapun ia, demi Allah, orang yang paling takwa di antara kami dan yang paling banyak bersilaturahim." [yy/republika]