12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Sisa-sisa Masjid yang Dibangun Setelah Wafatnya Nabi Muhammad Saw Ditemukan di Israel

Sisa-sisa Masjid yang Dibangun Setelah Wafatnya Nabi Muhammad Saw Ditemukan di Israel

Fiqhislam.com - Arkeolog Universitas Ibrani menemukan sisa-sisa salah satu masjid paling awal yang tercatat, dibangun hanya satu generasi setelah Nabi Muhammad SAW wafat di dekat Laut Galilea di Israel.

Para arkeolog menemukan sisa-sisa dasar dari masjid berusia sekitar 1.350 tahun di bawah masjid lain yang telah dibangun di atasnya di Tiberias, sebuah kota di Israel utara.

"Kami tahu tentang banyak masjid awal yang didirikan tepat pada awal periode Islam," kata pemimpin penggalian Katia Cytryn-Silverman, seorang spesialis dalam arkeologi Islam di Universitas Ibrani di Israel, kepada Associated Press (AP).

Masjid awal lainnya, termasuk Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi, dibangun pada 622 M, dan Masjid Agung Damaskus di Suriah, selesai pada 715 M, yang diperluas dan dibangun kembali selama bertahun-tahun, masih digunakan sebagai tempat ibadah.

Sisa-sisa masjid yang baru ditemukan ini berasal dari paruh kedua abad ketujuh, menjadikannya masjid tertua yang digunakan salat Jumat. Tampaknya masjid ini lebih tua dari masjid yang sebelumnya ditemukan di Wāsit, Irak (tertanggal 703 M).

Yang tersisa dari masjid berusia berabad-abad ini adalah pondasi dan artefaknya yang ditemukan di bawah struktur bangunan, seperti koin dan pecahan tembikar yang berasal dari abad ketujuh, yang membantu arkeolog menentukan usia bangunan tersebut.

Sebenarnya para arkeolog telah mengetahui tentang situs ini sejak tahun 1950-an. Namun, pada saat itu, sisa-sisa masjid disalahartikan sebagai pasar periode Bizantium. Kesalahan ini terus berlanjut, bahkan ketika almarhum arkeolog Yizhar Hirschfeld menemukan, pada akhir tahun 2000-an.

Tapi selama penggalian baru-baru ini oleh Cytryn-Silverman dan timnya, baru diketahui kalau itu sangat mirip dengan Masjid Agung Damaskus awal abad kedelapan. Tim menemukan apa yang sebelumnya disebut tembok periode Bizantium, sebenarnya adalah pondasi untuk baris pertama kolom pada tahap awal masjid dengan ukuran 22x49 meter persegi.

Berbagai penggalian menemukan genteng yang rusak dari perluasan dan perbaikan masjid yang sempat rusak saat gempa 1068. Arkeolog juga menemukan rantai perunggu panjang yang dulunya digunakan untuk menahan lampu kristal masjid. "Lampunya tentu saja, pecah karena runtuh, tetapi banyak sisa pegangannya memungkinkan kami untuk memahami jenisnya," kata Cytryn-Silverman kepada Live Science.

Umat Muslim yang beribadah di masjid awal ini juga memiliki toleransi beragama yag tinggi. Karena didekatnya juga terdapat bangunan ibadah untuk orang Yahudi dan Kristen, termasuk gereja monumental yang tampaknya merupakan gereja terbesar di Galilea dan Sinagoga besar Hammat Tiberias ke selatan.

"Jadi temuan kami menunjukkan bahwa Islamisasi kota itu bertahap, bahwa penguasa baru toleran. Karena pada tahun 635, Muslim menaklukkan Tiberias dan sekitarnya, tetapi wilayah itu masih merupakan tempat yang begitu toleran," kata Cytryn-Silverman.

Selama 720-an dan 730-an, masjid berubah menjadi bangunan yang lebih besar dengan halaman dan setidaknya satu penampungan air bawah tanah. Pada 800-an, sebuah menara untuk memanggil umat Islam untuk salat kemungkinan besar didirikan.

Masjid tersebut tetap digunakan sampai akhir 900-an, menurut sebuah batu nisan yang ditemukan di dekat apse. Kemudian, gempa bumi menghancurkannya pada tahun 1068, dan Tentara Salib tiba sekitar tahun 1100. [yy/sindonews]

 

Tags: Israel | Tiberias | Galilea