22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Hujjatul Islam: Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir

Hujjatul Islam: Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, Pendiri Hizbut TahrirFiqhislam.com - Sosoknya dikenal luas sebagai pendiri Hizbut Tahrir atau Hizb At-Tahrir, sebuah gerakan politik berasas Islam berskala internasional.

Nama lengkapnya Syekh Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Mustafa bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Syekh Taqiyuddin An-Nabhani.

Disamping itu, cucu Syekh Yusuf An-Nabhani—seorang ulama terkemuka di era Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman)—ini adalah seorang hakim (qadhi), penyair, sastrawan, dan sarjana Islam. 

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dilahirkan pada tahun 1909 di daerah Ijzim. Namanya dinisbatkan kepada kabilah Bani Nabhan, yang termasuk suku Arab penghuni padang sahara di Palestina.

Mereka bermukim di daerah Ijzim yang termasuk wilayah Haifa di Palestina Utara. Ia wafat di Kota Beirut, Lebanon, pada tanggal 20 Desember 1977 atau bertepatan dengan tahun 1398 Hijriyah dalam usia 68 tahun. Jasadnya dimakamkan di Al-Auza'i di Beirut.

Taqiyuddin menerima pendidikan dasar ilmu agama langsung dari ayahnya sendiri. Ayahnya adalah seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestina. Ibunya juga menguasai beberapa cabang ilmu syariah yang diperolehnya dari ayahnya, Syekh Yusuf An-Nabhani. Sang kakek dan ayahnya juga berjasa dalam mengajarkan hafalan Alquran, sehingga di usianya yang belum baligh, yakni di bawah 13 tahun, Syekh Taqiyuddin sudah hafal seluruh isi Alquran.

Disamping itu, ia juga mendapatkan pendidikan umum ketika bersekolah di sekolah dasar di daerah Ijzim. Kemudian ia pindah ke sebuah sekolah di Akko untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum menamatkan sekolahnya di Akko, atas dorongan kakeknya, Syekh Taqiyuddin memutuskan hijrah ke Kairo untuk meneruskan pendidikannya di sana.

Setibanya di Kairo, ia kemudian mendaftar di Tsanawiyah Al-Azhar pada tahun 1928. Dan pada tahun yang sama, ia meraih ijazah dengan predikat sangat cemerlang. Lalu ia melanjutkan studinya di Kulliyah Darul Ulum yang saat itu merupakan cabang Al-Azhar. Selain itu, ia juga banyak menghadiri halaqah-halaqah ilmiah di Al-Azhar yang juga diikuti oleh para syekh Al-Azhar. 

Saat menempuh pendidikan di Al-Azhar ini, sosoknya telah mampu menarik perhatian para murid lainnya dan para guru karena kecermatannya dalam berpikir dan kuatnya pendapat serta hujjah yang dilontarkan dalam perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kajian ilmu yang ada saat itu, baik di Kairo dan di negeri-negeri Islam lainnya.

Pada tahun 1932, Taqiyuddin An-Nabhani menamatkan kuliahnya di Darul Ulum. Di tahun yang sama, ia menamatkan pula kuliahnya di Al-Azhar Asy-Syarif menurut sistem lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa Syekh Al-Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah mereka yang di antaranya membahas mengenai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah seperti fikih, ushul fikih, hadits, tafsir, tauhid dan lain sebagainya.

Pertumbuhan Syekh Taqiyuddin dalam suasana keagamaan yang kental seperti itu mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian dan pandangan hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Taqiyuddin kembali ke Palestina untuk kemudian bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Disamping itu, ia juga mengajar di sebuah madrasah Islam di Haifa.

Pada tahun 1940, Syekh Taqiyuddin diangkat sebagai musyawir (pembantu qadhi). Jabatan ini terus diembannya hingga tahun 1945, yakni saat ia dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah hingga tahun 1948.

Setelah itu, ia pergi meninggalkan Ramallah menuju Syam sebagai akibat jatuhnya wilayah Palestina ke tangan Yahudi. Namun, tak lama kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke Palestina atas permintaan salah seorang sahabatnya. Ia kemudian diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah Al-Quds pada tahun yang sama.

Terjun ke politik
Pada tahun 1951, Syekh Taqiyuddin berkesempatan mengunjungi kota Amman, Yordania, untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar madrasah tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung hingga awal tahun 1953.

Setelah tidak lagi mengisi ceramah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah, Syekh Taqiyuddin mulai aktif di dunia politik. Ketertarikannya terhadap politik sebenarnya sudah berlangsung sejak ia berusia remaja. Di usianya yang masih terbilang belia, Syekh Taqiyuddin sudah memulai aktivitas politiknya karena pengaruh kakeknya, Syekh Yusuf An-Nabhani.

Kiprahnya dalam dunia politik yang paling menonjol adalah ketika ia mendirikan partai politik berasas Islam, Hizbut Tahrir, yang telah dirintisnya antara tahun 1949 hingga 1953. Hizbut Tahrir secara resmi dideklarasikan pada tahun 1953 di Al-Quds (Yerusalem).

Mengutip laman wikipedia, keberadaan Hizbut Tahrir dimaksudkan untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur.

Selain itu, juga untuk membebaskan mereka dari cengkraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Berlandaskan tujuan ini, Hizbut Tahrir bermaksud membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah SWT dapat diberlakukan kembali.

Di luar aktivitas politiknya, Syekh Taqiyuddin kerap meluangkan waktunya untuk dengan menulis buku. Ia telah menyusun berbagai macam kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Karya-karyanya tersebut menunjukkan bahwa Syekh Taqiyuddin merupakan seorang yang mempunyai pemikiran brilian dan analisis yang cermat.

Sedikitnya terdapat 25 hasil karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihadnya. Karya-karya tersebut antara lain Nizhamul Islam, At Takattul Al Hizbi, Mahafim Hizbut Tahrir, An Nizhamul Iqthishadi fil Islam, An Nizhamul Ijtima'i fil Islam, Nizhamul Hukm fil Islam, Ad Dustur, Muqaddimah Dustur, Ad Daulatul Islamiyah, Asy Syakhshiyah Al Islamiyah (3 jilid), Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir, dan Nazharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir.

Karya-karyanya yang lain adalah Nida' Haar, Al Khilafah, At Tafkir, Ad Dusiyah, Sur'atul Badihah, Nuqthatul Inthilaq, Dukhulul Mujtama', Inqadzu Filisthin, Risalatul Arab,Tasalluh Mishr, Al Ittifaqiyyah Ats Tsana'iyyah Al Mishriyyah As Suriyyah wal Yamaniyyah, Hallu Qadliyah Filisthin ala Ath Thariqah Al Amrikiyyah wal Inkiliziyyah, dan Nazhariyatul Firagh As Siyasi Haula Masyru' Aizanhawar.

Semua karyanya ini belum termasuk ribuan risalah (nasyrah) mengenai pemikiran, politik, dan ekonomi, serta beberapa kitab yang dikeluarkan atas nama anggota Hizbut Tahrir.

republika.co.id