fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Periode Islam di Sisilia yang Terlupakan

Periode Islam di Sisilia yang Terlupakan


Fiqhislam.com - Bicara Islam di Eropa, fokus biasanya tertuju para Muslim di Andalusia, Spanyol, pada periode 711 hingga 1492 Masehi dengan komunitas Muslim yang masih bertahan hingga 1609. Atau, ke Dinasti Turki Utsmani yang terbentang dari Anatolia hingga Eropa Tenggara pada awal 1300.

Sebaliknya, periode Muslim di Kepulauan Sisilia, Italia, sering terlupa. Sejarah mencatat, umat Islam di bawah Dinasti Aghlabiyah pernah menguasai kepulauan ini selama lebih dari 200 tahun.

Dinasti Aghlabiyah bisa dikatakan merupakan dinasti kecil Islam pada era Abbasiyah yang mendiami wilayah Ifriqiyah (Tunisia dan timur Aljazair) selama sekitar seabad dari tahun 800 hingga 909. Dinasti Aghlabiyah semula adalah bagian dari Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, tapi akhirnya men jadi dinasti otonom. Fokus awal dinasti kecil ini adalah meredakan kompetisi di kawasan mereka, terutama dominasi pasukan Amazigh (Berber).

Ibu kota Dinasti Aghlabiyah terletak di Kairouan (Qayrawan), Tunisia. Dinasti ini di dirikan oleh Ibrahim bin al-Aghlab yang berkuasa pada 800-812. Nama Dinasti Aghlabiyah diambil dari nama Bani Aghla biyah di mana Ibrahim berasal.

Di bawah kepemimpinan Ziyadatallah I yang berkuasa pada 817-838, pemberontak Arab berhasil ditumpas dan mereka berhasil menguasai Pulau Sisilia di Semenanjung Italia. Selama era ketidakstabilan pada awal 800- an, Bani Aghlabiyah melakukan ekspedisi ke Kepulauan Sisilia karena beberapa alasan.

Pertama, pada tahun 826, terjadi pemberontakan komandan angkatan laut Bizantium. Ti dak diketahui secara jelas apa yang melatar belakangi pemberontakan itu. Namun, Emir Dinasti Aghlabiyah, Ziyadatallah I, menawarkan bantuan untuk memediasi pertikaian itu. Apalagi, kesepakatan damai yang dibuat Di nasti Aghlabiyah dengan Bizantium pada 817 masih berlaku.

Alasan lainnya adalah invasi yang harus direalisasikan. Pada era Dinasti Aghlabiyah, ada seorang ulama fikih bernama Asad bin al-Furat yang pernah belajar di Timur bersama Imam Malik dan dua murid Abu Hanifah, yakni Abu Yusuf dan Muhammad al-Shaybani. Al-Furat juga aktif dalam dunia politik dan sangat dihormati karena pengalamannya belajar bersama ulama-ulama besar pada eranya.

Bagi Ziyadatallah I, Al-Furat justru jadi ancaman, terlebih ketika itu Dinasti Aghlabiyah belum stabil. Beruntung, kekhawatiran Ziyadatallah I itu tidak terbukti. Al-Furat justru mendukung dan menawarkan bantuan bila Dinasti Aghlabiyah ingin melakukan invasi ke Kepulauan Sisilia. Sebabnya, pasukan Bizantium menahan sejumlah pedagang Muslim sehingga al-Furat melihat perjanjian damai Dinasti Aghlabiyah dengan Bizantium gugur dengan pelanggaran itu.

Keadaan itu sempurna bagi Ziyadatallah I. Dengan begitu, ia bisa secara terus-menerus menyerang Bizantium, melemahkan perdagangan mereka di kawasan Laut Mediterania, dan memperkuat pengaruh Dinasti Aghlabiyah dengan mengirimkan pasukan yang dipimpin Asad al-Furat ke Kepulauan Sisilia. Hasil ekspedisi yang dipimpin al-Furat sendiri ternyata lebih dari yang dibayangkan.

Pasukan yang jumlahnya sekitar 10 ribu orang meninggalkan Afrika pada Juni 827 dan tiba di pesisir barat Sisilia beberapa hari kemudian. Pertempuran kecil antara pasukan al-Furat dengan pasukan Bizantium yang ditempatkan di Sisilia berakhir dengan kemenangan kubu al-Furat. Pasukan Bizantium yang tersisa berhasil dipukul mundur ke Palermo dan Syracuse di pesisir utara dan timur. Namun, pasukan al-Furat tidak berhasil mengepung Palermo. Sejarah mencatat, al- Furat wafat pada 828 karena sakit.

Pasukan Muslim lalu meninggalkan Sisilia karena ada tekanan balik dari Bizantium yang mengirim pasukan menggunakan kapal melalui Laut Aegea. Setelah serangkaian keka lahan pertempuran dan serangan penyakit, invasi pasukan Aghlabiyah menjadi gamang dan nyaris di ujung kegagalan sebelum akhir nya dibantu pasukan Dinasti Umayyah dari Andalusia yang tiba pada 830. Inilah titik balik pasukan Islam. Pasukan gabungan itu kemudian berhasil mencapai Palermo dan mengepung sisa pasukan Bizantium di sana.

Setelah itu, Ziyadatallah I mengirimkan sepupunya untuk menjadi gubernur di Palermo atau Balarm dalam sebutan Arab. Sisilia ke mudian masuk dalam wilayah pemerintah an Dinasti Aghlabiyah. Dengan hadirnya penguasa baru, Islam berkembang dengan caranya di sana. Desa dan kota kemudian menerima kepemimpinan gubernur Muslim yang berbasis di Palermo. Syracuse kemudian berhasil ditaklukkan pada 878 dan area terakhir yang dikuasai Bizantium di sana berhasil direbut pada 965.

Sistem pemerintahan di Sisilia sama seperti wilayah lain di bawah pemerintahan Aghlabiyah. Provinsi ini dipimpin seorang gubernur yang dikoordinasikan di bawah emir Aghlabiyah di ibu kota dinasti, Qayrawan. Namun, kadang kegubernuran wilayah-wilayah kekuasaan Aghlabiyah juga semi independen.

Warga Muslim di bawah dinasti Islam harus mengikuti aturan syariah yang diterapkan, sementara penganut Kristen dan Yahudi boleh menjalankan aturan agama mereka selama mereka tunduk pada aturan pajak (jizyah) dan pajak tanah (kharaj) yang ditetapkan. Sementara, Muslim diwajibkan membayar zakat dan kharaj.

Kepemimpinan Dinasti Fatimiyah

Awal tahun 900-an, terjadi pergerakan di Afrika Utara yang kemudian memengaruhi Muslim di berbagai bagian dunia Islam. Pada 909, seorang pria yang mengklaim keturunan Rasulullah SAW bernama Abdullah al-Mahdi, mendeklarasikan diri sebagai imam Syiah Isma'ili dan mengangkat dirinya sebagai pemimpin dunia Islam yang sah.

Memanfaatkan jaringan informan dan pembelot di Afrika Utara serta kerja sama dengan Amazigh (Berber) untuk melumpuhkan suku-suku Arab, al-Mahdi dengan cepat berhasil merebut Qayrawan dan menggulingkan Dinasti Aghlabiyah.

Sejak itu, kekuasaan Islam di Sisilia berlanjut di bawah Dinasti Fatimiyah Syiah di Afrika Utara. Kalangan elite Sisilia kemudian mengirimkan utusan untuk bertemu pemimpin Fatimiyah guna mengamankan otonomi di sana. Namun, utusan itu malah dipenjarakan. Di bawah kepemimpinan al-Mahdi, Pemerintah Dinasti Fatimiyah mengirimkan gubernur dan qadi (hakim) Syiah untuk memimpin Pulau Sisilia atas nama imam.

Dengan reputasi Sisilia sebagai basis pemberontakan dari masa ke masa, Dinasti Fatimiyah memberlakukan kebijakan tangan besi dengan mengendalikan Sisilia dari pusat pemerintahan di Afrika Utara. Diberlakukan pula aturan pajak baru yang mewajibkan se toran seperlima pendapatan daerah langsung ke imam Dinasti Fatimiyah. Hal ini memun culkan aksi penolakan dari komunitas Suni yang hampir saja menjungkalkan gubernur pertama Dinasti Fatimiyah yang ada di Sisilia.

Aksi pemberontakan benar-benar pecah pada 913 dan berhasil menghapuskan pengaruh Fatimiyah selama beberapa tahun. Namun, pada 918, Dinasti Fatimiyah berhasil meraih kembali kekuasaan mereka di sana, meski dengan jalan kekerasan.

Pemberontakan kembali terjadi pada 937 dan mendapat dukungan komunitas Muslim di seluruh Sisilia pada 939. Melihat itu, Dinasti Fatimiyah mengirim pasukan untuk membersihkan pemberontak dan membanjiri Sisilia dengan imigran dari Afrika Utara yang lebih loyal kepada pemerintahan Fatimiyah.

Untuk memperkuat kendali atas Sisilia, Dinasti Fatimiyah menunjuk al-Hasan al-Kalbi, seorang tokoh militer, untuk menjadi gubernur Sisilia pada 967. Ia lalu mendirikan dinasti kecil yang otoritasnya tetap terhubung dengan Dinasti Fatimiyah. Kekuasaan turun-temurun itu berlanjut selama beberapa ratus tahun.

Pada era Dinasti Kalbiyah di Sisilia, konflik tak pernah usai. Represi Fatimiyah terhadap Muslim Suni yang merupakan mayoritas di Sisilia memunculkan ketegangan. Konflik antara Muslim Sisilia dan pendatang Arab dari Afrika Utara dan imigran Amazigh (Berber) membuat masyarakat terbelah.

Secara militer, Dinasti Kalbiyah mengincar kekuasaan di Mediterania tengah. Pada awal 1000-an M, para emir Kalbiyah tidak meneruskan serangan terhadap Byzantium di selatan Semenanjung Italia. Di sisi lain, kejayaan Dinasti Kalbiyah mulai redup dengan terus menghindarnya para pria dari kewajiban militer. [yy/republika]

 

Tags: Sisilia | Italia | Roma | Venesia