<
pustaka.png
basmalah.png

Peran Penting Imam At-Tirmidzi

Peran Penting Imam At-Tirmidzi

Fiqhislam.com - Imam At-Tirmidzi merupakan figur yang cerdas, tangkas, dapat dipercaya, saleh, dan takwa. Penguasaannya dalam ilmu hadits diakui oleh para ulama yang hidup sesudahnya.

Dia juga dikenal sebagai seorang penghafal yang kuat di luar kepala sehingga menjadi rujukan dalam hafalan dan keakuratan mempelajari hadits, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya.

Al-Hakim mengatakan, ''Saya pernah mendengar Umar bin Alak mengomentari pribadi At-Tirmidzi sebagai berikut. Kematian Imam Bukhari tidak meninggalkan muridnya yang lebih pandai di Khurasan selain daripada Abu Isa At-Tirmidzi dalam hal luas ilmunya dan hafalannya.''

Diberitakan, kendati sudah berusia lanjut, ia masih suka menulis dan meneliti hadits. Ia menyusun kitab Sunan Tirmidzi, Asma Ash-Shahabah, Asma Al-Kuma, Al-'Ilal, Az-Zuhd, dan At-Tarikh. Karyanya yang mashyur adalah Kitab Al-Jami' (Jami' At-Tirmidzi). Ia juga termasuk salah satu penyusun Al-Kutub As-Sittah (enam kitab pokok di bidang hadits karya enam ulama--Red).

Ia meriwayatkan hadits dari Qutaibah bin Said, Ibnu Rahawaih, Az-Zuhri, Al-Fazarry, Al-Jamahi, Bukhari, Al-Marwazi, An-Nasafi, Ibnu Hibban Bahili, dan Ibnu Mahbub. Ibnu Hibban berkata, ''Abu Isa adalah seorang pengoleksi hadits, pengarang, penghafal, dan pemerhati.''

Sebelum munculnya Imam At-Tirmidzi, kualifikasi hadits hanya terbagi menjadi hadits sahih (hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat hafalannya--Red) dan hadits dhaif (hadits yang antara lain diterima dari rawi yang mempunyai daya ingat lemah dan periwayatannya harus ditinggalkan--Red).

Dari sini, Imam At-Tirmidzi mempunyai pemikiran untuk mengelompokkan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang standar hafalannya di bawah rawi hadits sahih, namun masih unggul dibanding rawi hadits dhaif, yaitu tingkat hasan.

Peran Imam At-Tirmidzi yang juga sangat penting adalah penyatuan antara paradigma hadits dan fikih dalam satu kitab. Hal serupa belum pernah dilakukan oleh ulama hadits yang hidup sebelumnya, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Kedua ulama hadits ini tidak menjadikan kitabnya sebagai ajang perbandingan antara berbagai madzhab fikih. Berbeda dengan Imam At-Tirmidzi yang mengintegrasikan antara hadits dan fikih. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami' At-Tirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain.

Tutup usia

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kapan tepatnya Imam At-Tirmidzi meninggal dunia. Al-Sam'ani dalam kitabnya Al-Ansab menuturkan bahwa beliau wafat di Desa Bugh, Turmudz, pada tahun 275 H. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Khallikan. Sementara itu, yang lain mengatakan, At-Timridzi wafat pada tahun 277 H.

Ada pula pendapat yang mengungkapkan, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafidh al-Mizzi dalam Al-Tahdzib dari al-Hafidh Abu al-Abbas Ja'far bin Muhammad bin al-Mu'taz al-Mustaghfiri, mengatakan, ''Abu Isa At-Tirmidzi wafat di daerah Turmudz pada malam Senin, 13 Rajab 279 H. Ia wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan di Uzbekistan.” Pendapat terakhir inilah yang banyak diyakini kebenarannya.

 

Peran Penting Imam At-Tirmidzi

Fiqhislam.com - Imam At-Tirmidzi merupakan figur yang cerdas, tangkas, dapat dipercaya, saleh, dan takwa. Penguasaannya dalam ilmu hadits diakui oleh para ulama yang hidup sesudahnya.

Dia juga dikenal sebagai seorang penghafal yang kuat di luar kepala sehingga menjadi rujukan dalam hafalan dan keakuratan mempelajari hadits, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya.

Al-Hakim mengatakan, ''Saya pernah mendengar Umar bin Alak mengomentari pribadi At-Tirmidzi sebagai berikut. Kematian Imam Bukhari tidak meninggalkan muridnya yang lebih pandai di Khurasan selain daripada Abu Isa At-Tirmidzi dalam hal luas ilmunya dan hafalannya.''

Diberitakan, kendati sudah berusia lanjut, ia masih suka menulis dan meneliti hadits. Ia menyusun kitab Sunan Tirmidzi, Asma Ash-Shahabah, Asma Al-Kuma, Al-'Ilal, Az-Zuhd, dan At-Tarikh. Karyanya yang mashyur adalah Kitab Al-Jami' (Jami' At-Tirmidzi). Ia juga termasuk salah satu penyusun Al-Kutub As-Sittah (enam kitab pokok di bidang hadits karya enam ulama--Red).

Ia meriwayatkan hadits dari Qutaibah bin Said, Ibnu Rahawaih, Az-Zuhri, Al-Fazarry, Al-Jamahi, Bukhari, Al-Marwazi, An-Nasafi, Ibnu Hibban Bahili, dan Ibnu Mahbub. Ibnu Hibban berkata, ''Abu Isa adalah seorang pengoleksi hadits, pengarang, penghafal, dan pemerhati.''

Sebelum munculnya Imam At-Tirmidzi, kualifikasi hadits hanya terbagi menjadi hadits sahih (hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat hafalannya--Red) dan hadits dhaif (hadits yang antara lain diterima dari rawi yang mempunyai daya ingat lemah dan periwayatannya harus ditinggalkan--Red).

Dari sini, Imam At-Tirmidzi mempunyai pemikiran untuk mengelompokkan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang standar hafalannya di bawah rawi hadits sahih, namun masih unggul dibanding rawi hadits dhaif, yaitu tingkat hasan.

Peran Imam At-Tirmidzi yang juga sangat penting adalah penyatuan antara paradigma hadits dan fikih dalam satu kitab. Hal serupa belum pernah dilakukan oleh ulama hadits yang hidup sebelumnya, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Kedua ulama hadits ini tidak menjadikan kitabnya sebagai ajang perbandingan antara berbagai madzhab fikih. Berbeda dengan Imam At-Tirmidzi yang mengintegrasikan antara hadits dan fikih. Hal inilah yang menjadi keistimewaan sekaligus pembeda antara kitab Jami' At-Tirmidzi dengan kitab-kitab hadits yang lain.

Tutup usia

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kapan tepatnya Imam At-Tirmidzi meninggal dunia. Al-Sam'ani dalam kitabnya Al-Ansab menuturkan bahwa beliau wafat di Desa Bugh, Turmudz, pada tahun 275 H. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Khallikan. Sementara itu, yang lain mengatakan, At-Timridzi wafat pada tahun 277 H.

Ada pula pendapat yang mengungkapkan, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafidh al-Mizzi dalam Al-Tahdzib dari al-Hafidh Abu al-Abbas Ja'far bin Muhammad bin al-Mu'taz al-Mustaghfiri, mengatakan, ''Abu Isa At-Tirmidzi wafat di daerah Turmudz pada malam Senin, 13 Rajab 279 H. Ia wafat pada usia 70 tahun dan dimakamkan di Uzbekistan.” Pendapat terakhir inilah yang banyak diyakini kebenarannya.

 

Imam At-Tirmidzi: Sang Ulama Pengintegrasi Hadits dan Fikih

Imam At-Tirmidzi: Sang Ulama Pengintegrasi Hadits dan Fikih


Fiqhislam.com - Menurut sebagian ulama, Imam At-Tirmidzi adalah orang pertama yang mengelompokkan hadits dalam kategori hasan, diantara sahih dan dhaif.

Imam At-Tirmidzi adalah satu dari enam ulama hadits terkemuka. Nama besarnya mengacu kepada tempat kelahirannya, yaitu Turmudz, sebuah kota kecil di bagian utara Iran. Sedangkan, nama lengkap pemberian orangtuanya adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Adh-Dhahak As-Salami Al-Bughi. Ia sering dipanggil Abu Isa.

Lahir pada bulan Zulhijjah tahun 209 Hijrah, yaitu kira-kira 15 tahun setelah kelahiran Imam Bukhari dan tiga tahun setelah kelahiran Imam Muslim. Diceritakan bahwa dia dilahirkan dalam keadaan buta.

Versi lain menyebutkan bahwa dia mengalami kebutaan ketika usia sudah tua karena terlalu banyak menangis sebab takut kepada Allah. Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa At-Tirmidzi tidak buta sejak lahir, melainkan musibah itu datang belakangan. Yusuf bin Ahmad al-Baghdadi menuturkan, ''Abu Isa mengalami kebutaan pada masa menjelang akhir usianya.''

Semenjak kecil, At-Tirmidzi sudah gemar mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk ilmu hadits. Ia mulai mempelajari ilmu hadits ketika berumur 20 tahun di sejumlah kota-kota besar di wilayah kekuasaan Islam saat itu, di antaranya adalah Kota Khurasan, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Ray, Mesir, dan Syam.

Kecenderungannya kepada ilmu hadits bermula setelah membaca karangan Imam Syafi'i yang menerangkan cara mengambil dalil dari hadits dan menggunakannya sebagai hujjah untuk memutuskan hukum-hukum yang perlu kepada ijtihad ulama.

Dalam lawatannya ke berbagai kota tersebut, At-Tirmidzi banyak mengunjungi ulama-ulama besar untuk mendengar hadits yang kemudian dihafal dan dicatat. Lalu, dikumpulkan dalam sebuah kitab yang tersusun secara sistematis.

Ia tak pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakannya secara efektif. Selama pengembaraannya, dia belajar dari banyak guru. Di antaranya adalah Ziyad bin Yahya al-Hassani (wafat 254 H), Abbas bin Abd al-`Adhim al-Anbari (w 246), Abu Said al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi (w 257), Abu Hafsh Amr bin Ali al-Fallas (w 249), Ya`qub bin Ibrahim al-Dauraqi (w 252), Muhammad bin Ma`mar al-Qoisi al-Bahrani (w 256), dan Nashr bin Ali al-Jahdhami (w 250 H).

Para ulama di atas, selain tercatat sebagai guru-guru Imam At-Tirmidzi, juga merupakan guru dari Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibn Majah. Selain berguru kepada sembilan guru di atas, Imam At-Tirmidzi juga belajar kepada Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud. [yy/republika]

 

top