8 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 04 Oktober 2022

basmalah.png

Mengenal Kehidupan dan Karya Ath-Thabari

Mengenal Kehidupan dan Karya Ath-Thabari

Fiqhislam.com - Peradaban Islam mencapai fase keemasan tatkala Bani Abbasiyah mengambil peran kekhalifahan. Keadaan itu berlangsung setidaknya sejak medio abad kedua hingga pertengahan abad ketiga Hijriyah.

Dalam rentang masa itu, Baghdad menjadi pusat keunggulan dunia. Di sanalah berkumpul para cendekiawan, ilmuwan, dan teknokrat yang terkemuka dari pelbagai penjuru bumi.

Dengan dukungan khalifah, mereka melakukan banyak aktivitas intelektual, seperti berdiskusi, penelitian, hingga penerjemahan teks-teks asing ke dalam bahasa Arab. Saat Harun al-Rasyid berkuasa, Perpustakaan Bait al-Hikmah menjadi sentra kegiatan kaum terpelajar itu. Bukan hanya sains dan pengetahuan umum, ilmu-ilmu keislaman pun tentunya marak dikaji oleh sebagian mereka.

Salah satu disiplin keilmuan-agama yang berkembang pesat pada masa itu ialah tafsir Alquran. Membicarakan perihal perkembangannya itu tidak mungkin dilakukan tanpa menyertakan sejarah kehidupan Ibnu Jarir ath-Thabari.

Sebab, dirinya berkontribusi besar, terutama dalam mendukung corak tafsir bil ma'tsur. Bahkan hingga kini, kitab tafsir yang disusunnya masih menjadi rujukan umat.

Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali ath-Thabari. Panggilan kehormatannya adalah Abu Ja'far. Sebutan itu tidak bisa dimaknai secara harfiah, yakni 'ayahnya Ja'far.' Sebab, ulama itu tidak pernah menikah hingga masa akhir hidupnya.

Ulama yang lahir pada tahun 224 Hijriyah itu berasal dari Amil, Thabaristan. Kampung halamannya itu terletak di Persia bagian utara, berbatasan langsung dengan Laut Kaspia. Karena itulah, dirinya populer dengan sebutan ath-Thabari, 'tokoh dari Negeri Thabaristan.'

Baghdad menjadi kota tujuannya rihlah pada saat usianya masih belia. Memang, ia mengadakan perjalanan intelektual ke berbagai daerah di daulah Islam, semisal Ray, Syam, Hijaz, dan Mesir. Bagaimanapun, dirinya kemudian memilih Kota Seribu Satu Malam sebagai tempatnya bermukim hingga tutup usia.

Syekh Muhammad Sa'id Mursi dalam buku Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah menggambarkan sosok ath-Thabari sebagai berikut. Sang mufasir memiliki warna kulit yang kecokelatan. Badannya tegap dan tinggi. Kedua matanya lebar.

Dalam buku Profil Para Mufasir Alquran, Saiful Amin Ghofur mendeskripsikan ulama terkemuka itu sebagai sosok yang rapi dan bersih dalam berpenampilan. Tidak hanya selalu menjaga kesehatan, ath-Thabari juga sangat disiplin dalam menjalani rutinitas.

Sepanjang hidupnya, ath-Thabari memilih hidup secara zuhud. Ia sedikit pun tak terlena pada kenikmatan dunia. Sikap ini dibuktikan dengan menolak tawaran jabatan penting di pemerintahan walaupun imbalan harta yang bisa diperolehnya dari penguasa amat besar.

Ia hidup pada akhir masa keemasan Islam, yakni era pemerintahan Daulah Abbasiyah (750-1242 M) yang berpusat di Baghdad. Ketika ath-Tha bari lahir, yang menjadi penguasa Kekhalifahan saat itu adalah al-Wasiq Billah. Akan tetapi, pengaruh faksifaksi militer Turki cukup besar di lingkungan istana.

Jadilah sosok khalifah cende rung menjabat secara simbolis saja. Sebab, ke kua saan secara praktis dimiliki oleh pihak-pihak mi liter yang mengangkat mereka. Jika ditelusuri, se la ma hidupnya ath-Thabari mengalami 10 kali per gantian khalifah Abbasiyah. Yakni, hingga al-Mu qtadir, yang menjadi khalifah Abbasiyah ke-18. [yy/Agung Sasongko/republika]