24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Imam Ath-Thabari, Induk Para Ahli Tafsir

Imam Ath-Thabari, Induk Para Ahli TafsirFiqhislam.com - Memahami Alquran, teks yang berisi firman Allah, tak jarang memerlukan sebuah tafsir. Melalui tafsir kita mampu memahami apa yang dimaksud Allah dalam firman-Nya itu. Tak heran jika di kalangan umat Islam bermunculan ahli tafsir dengan beragam karyanya.

Melalui karya para ahli tafsir Alquran itu, masyarakat awam mampu memahami isi Alquran. Salah satu ahli tafsir yang sangat berjasa ialah Ibn Jarir Ath Thabari. Nama lengkapnya, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari. Ia lahir Thabristan, daerah pegunungan Persia pada 224 H.

Kecemerlangan otak Ath Thabari tercermin dari kegemarannya terhadap ilmu sejak ia masih belia. Pada saat berusia 8 tahun tahun, ia sudah dipercaya menjadi imam bagi orang-orang dewasa. Bahkan, setahun kemudian ia menuliskan banyak hadis.



Ketika beranjak dewasa, rasa dahaganya akan ilmu telah mengantar Ath Thabari pada jalan pengembaraan ke berbagai kota pusat ilmu. Ia mengembara ke Baghdad, Wasit, Basrah, Kufah, Fustat, Syria, dan Mesir. Di setiap kota yang disinggahinya ia belajar ilmu dari ulama-ulama besar dalam bidangnya. Dalam bidang hadis, ia belajar dari ulama besar hadis, Muhammad bin Humaid ar-Razi.

Dari gurunya itu, Thabari mampu menulis lebih dari 100 ribu hadis. Ia juga dapat menuliskan jumlah hadis yang sama dari guru lainnya, Abu Kuwait.

Dalam bidang sejarah, ia tercatat sebagai perintis sejarah Islam. Ia mendapatkan gelar Bapak Sejarah Islam karena jasanya meretas jalan di bidang kajian itu. Ilmunya dalam bidang ini pun berhasil diabadikan dalam sebuah karyanya yang agung berjudul, Tarikhul Umam wal Muluk, sejarah umat-umat dan para rajanya.

Ilmu hadis, sejarah, dan Alquran yang dikuasai menjadi modal bagi Ath Thabari untuk menguasai tafsir Alquran. Ia tumbuh menjadi ahli tafsir yang menjadi rujukan dan melahirkan karya yang monumental. Tafsir Jami'ul Bayan fit Tafsiril Qur'an yang lebih dikenal Tafsir Ath-Thabari, merupakan referensi bagi ahli tafsir lain setelah masanya.

Dengan karya besarnya itu, kemudian Ath Thabari mendapatkan julukan marja'ul maraji (induk para ahli tafsir). Ia adalah ahli tafsir awal yang karya tafsirnya sampai kepada masyarakat setelah masanya. Karyanya merupakan sebuah karya yang fenomenal.

Paling sahih

Sebelum Ath Thabari, memang banyak ahli tafsir yang lahir. Namun, karya mereka tak banyak ditemukan. Wajar saja jika semua ahli tafsir tak dapat memalingkan diri dari karya tafsirnya.

Selain itu, tafsir Ath Thabari memiliki kualitas yang tinggi. Tafsirnya penuh dengan pijakan tafsiran Rasulullah (sunah), pendapat para sahabat dan tabi'in serta tabi'ut tabi'in. Tafsir yang demikian lebih dikenal dengan tafsir bil ma'tsur, tafsir berdasarkan riwayat dan bukan tafsir bir-ra'yi yang berarti tafsir yang didasarkan akal dan pendapat pribadi. Ath Thabari memang memiliki kelebihan dalam beragam bidang. Kelebihannya ini membuat karya tafsirnya dianggap paling sahih dan hidup.

Ahli tafsir ini amat menguasai sejarah, hadis maupun fikih. Bahkan dalam fikih ia mendapatkan gelar sebagai mujtahid mutlak. Laiknya para imam-imam besar fikih perintis, seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali.

Karya tafsirnya dianggap sahih karena ia selalu menafsirkan suatu ayat dalam kitab suci dengan berpegang pada pendapat para sahabat dan tabiin. Thabari selalu mencoba mencari pendapat yang kuat dengan memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing dari berbagai segi.

Kemudian ia akan mengambil pendapat yang paling valid dan argumentatif. Sering ia menolak hadis untuk dijadikan argumentasi dalam sebuah penafsiran. Itu bila ia menganggap hadis tersebut lemah. Selain itu, juga karena hadis tersebut dianggapnya tak sesuai menjadi pijakan argumentasi dari suatu ayat yang ia tafsirkan.

Biasanya, Ath Thabari mengambil langkah awal menafsirkan sebuah tafsir dengan mencari makna suatu ayat dari segi bahasa. Ia memahami arti lahiriah kata per kata. Untungnya, ia memiliki kemampuan dalam bidang bahsa dan sastra. Tahap selanjutnya, ia pun memasukkan aspek lain dalam melakukan penafsiran.

Dalam melakukan penafsiran, ia dikenal sebagai orang yang sangat hati-hati. Tak heran jika karya tafsirnya dinilai berbobot dan mendapatkan kepercayaan yang besar. Terbukti, karya tafsirnya hingga kini menjadi bahan rujukan para penafsir kontemporer.

Ini terlihat dari komentar Syekh al-Islam Taqi ad-din Ahmad ibn Taimiyah saat disodori pertanyaan tafsir mana yang lebih dekat kepada Alquran dan Sunah. Ia menjawab dari semua tafsir yang ada, karya Ath Thabari merupakan karya yang paling otentik. Dalam tafsirnya, Ath Thabari memuat ajaran salaf dengan rangkaian sanad yang sahih.

Hal senada juga dilontarkan oleh Fuad Sezkin. Ia menaruh perhatian pada kesahihan sanad dalam tafsir Ath Thabari. Ini mengindikasikan bahwa ketika menuliskan tafsirnya, Ath Thabari merujuk pada kitab-kitab yang telah ada lebih awal.

Ini pun membantah gunjingan para orientalis bahwa tafsir Ath Thabari hanya berdasar pada cerita lisan. Meski dikenal khalayak melalui karya tafsirnya, Ath Thabari adalah orang yang sederhana. Ia berusaha menjauhi kehidupan duniawi, dengan selalu mengembangkan kehidupan zuhud, wara, dan tawadhu.

Salah seorang muridnya, bernama Abu Bakan bin Kamil, pernah bertutur mengenai laku keseharian yang menunjukkan kesederhanaan ahli tafsir ini. Bila musim panas tiba, Thabari hanya mengonsumsi kurma yang dicampur dengan minyak.

Tempat tidurnya hanya beralaskan kain tipis. Biasanya, selepas shalat Dzuhur ia akan menulis hingga empat puluh halaman. Ini ia lakukan selama 40 tahun. Waktu Ashar ia akan bergegas ke masjid untuk berjamaah kemudian mengkaji Alquran.

Ath Thabari tak hanya menggunakan hidupnya untuk dirinya sendiri. Ia juga memanfaatkan kemampuannya untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitarnya. Ia menyediakan waktu khusus mengajarkan ilmunya, yakni setelah menunaikan shalat Maghrib hingga habis waktu Isya. Ath Thabari tak hanya memberikan manfaat bagi kalangan masyarakat pada masanya.

Ia meninggalkan karya yang sangat bermanfaat dan menjadi rujukan kalangan masyarakat hingga kini. Hidupnya yang penuh manfaat berakhir di usia relatif tua. Ia wafat dalam usia 86 tahun pada tahun 310 H, di Baghdad. [yy/republika]