pustaka.png
basmalah.png.orig


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Didalam artikel yang berjudul “Tihamah dan Doa Ghoiru Matsur” saya menyebutkan pendapat Syeikh Shafiyuurrahman al Mubarokhfury penulis kitab “ar Rahiq al Makhtum” yang memilih pendapat bahwa kelahiran Nabi saw adalah pada hari senin tanggal 9 Rabiul Awal pada permulaan tahun dari peristiwa gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M.

Buku yang ditulis al Mubarokhfiury ini adalah pemenang pertama dalam lomba penulisan “Siroh Nabawiyah” yang diselenggarakan oleh Robithoh al Alam al Islamiy yang bermarkas di Mekah pada tahun 1399 H / 1978 M.

Memang telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw. Diantara mereka ada yang medasari pendapatnya dari riwayat yang sampai kepada mereka dan ada juga yang mendasarinya pada perhitungan falak.

al Mubarokhfury mendasari pendapatnya kepada hasil penelitian seorang ulama terkenal yang bernama, Muhammad Sulaiman al Manshurfury dan peneliti astronomi, Muhammad Basya.

Sementara itu Ibnu Ishaq lebih memilih pendapat yang menyebutkan bahwa kelahiran Nabi saw adalah pada tanggal 12 Rabiul Awal di tahun gajah. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hal ini dari Jabir, ibnu Abbas dan yang lainnya. Mereka juga menyebutkan bahwa inilah yang masyhur.

Perbedaan tersebut bisa jadi dikarenakan kurang perhatiannya bangsa Arab pada saat itu dengan penanggalan dan mereka hanya menandakan sejarahnya dengan berbagai kejadian besar. Hal ini menjadikan sulitnya memastikan tanggal kejadian suatu peristiwa yang ada pada saat itu termasuk diantaranya peristiwa kelahiran Nabi Muhammad saw.

Namun demikian kaum muslimin telah bersepakat bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw adalah pada hari senin di bulan Rabiul Awal berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah al Anshoriy bahwa Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari senin maka beliau saw bersabda,”Hari itu aku dilahirkan dan di hari itulah diturunkan (al Qur’an).”

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc

www.eramuslim.com