13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Tiap Generasi Membutuhkan Tafsir Baru

Tiap Generasi Membutuhkan Tafsir Baru

Fiqhislam.com - Alquran merupakan kitab yang tak pernah kering dalam memecahkan segala problem kehidupan.

Zaman tidak berdiam diri di satu waktu saja, melainan berlari kencang menuju era yang makin modern dan global. Saat ini, telah lewat 15 abad dari zaman kerasulan Muhammad SAW. Sejak berakhirnya zaman kenabian, berakhir pula diturunkannya wahyu.

Hingga akhir zaman nanti, Alquran yang turun kepada Rasulullah tak akan ditambah ataupun dikurangi. Selamanya, tak akan diubah dan tak akan ada yang mampu mengubah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya,” (QS al-Hijr : 9)

Meski Alquran merupakan produk berabad lalu, isinya mampu menjawab seluruh persoalan manusia hingga hari akhir. Kendati demikian, tentu saja untuk menginterpretasikan isu modern dalam Alquran tidaklah dapat dilakukan setiap Muslim.

Kita membutuhkan tafsir karya para pakar Alquran untuk memahaminya. Oleh karena itu, di setiap era, Muslimin membutuhkan tafsir yang dapat menjawab isu kontemporer meski tanpa melupakan tafsir klasik.

Fauzul Iman dari IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam artikel Tafsir Alquran Indonesia Menjawab Tantangan Zaman dalam buku kumpulan artikel terbitan Litbang Kemenag Al-Qur'an di Era Global; antara Teks dan Realitas menuturkan, Alquran sebagai sumber fundamental kehidupan merupakan kitab yang tak pernah kering mentransendensi dan memecahkan segala problem kehidupan baru di tengah zaman baru.

Sinyalemen ini tidak boleh berhenti di ruang idealisme belaka, melainkan pemahaman dan interpretasi mendalam terhadap ajaran Islam. “Itu sebabnya, para pengkaji Alquran (mufasir) sejak dahulu berupaya dengan kreatif memecahkan persoalan baru dengan terus mengembangkan metodologi tafsir, sehingga muncul ulumul Quran,” ujarnya.

Di Indonesia, menurut Fauzul Iman, perkembangan tafsir mengalami kemajuan dari masa ke masa. Mengutip Nashruddin Baidan dalam Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia, perkembangan tafsir di Indonesia ditandai oleh periode sejarah perkembangan sistem pengajaran tafsir yang dimulai dari periode klasik (abad kedelapan hingga 15), periode tengah (abad ke-16 hingga 18), periode pramodern (abad 19), dan periode modern (abad 20).

Pada periode klasik, tafsir Alquran boleh dikatakan masih berbentuk embrio karena yang dihadapi masyarakat yang baru mengenal Islam. Pada kondisi ini, tafsir Alquran hanya memuat penjelasan-penjelasan umum dan sebatas materi-materi yang bersifat praktis.

Pada periode tengah, tafsir Alquran di Indonesia dikembangkan (diajarkan) dengan menggunakan kitab tafsir klasik Jalalain karya Jalaluddin al-Nahalli dan Jalaluddin as-Suyuti yang penjelasannya masih bercorak ijmali (global).

Pada periode pramodern kajian tafsir Indonesia tidak beranjak dari periode tengah, yaitu dengan menggunakan kitab klasik tersebut.

Perbedaannya, pada periode ini penerjemahan kajian tafsir dilakukan secara tertulis. Adapun pada periode modern di permulaan abad ke-19, kajian tafsir di Indonesia mulai ditambahkan dengan menggunakan tafsir karya pemikir Islam modern.

Tantangan zaman

Kementerian Agama berusaha menghasilkan karya tafsir yang dapat menjawab tantangan zaman sebagaimana yang dibutuhkan masyarakat. Hadirnya tafsir tematik dan ilmi merupakan salah satu upaya tersebut.

Menteri Agama RI Suryadharma Ali saat membuka acara Mukernas Ulama Alquran menyampaikan, seiring dengan makin kompleksnya kehidupan yang begitu dinamis, masyarakat Muslim Indonesia membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap Alquran.

Semangat keberagamaan masyarakat yang dirasa semakin meningkat pun semestinya diimbangi dengan pengetahuan dan tradisi ilmiah yang kuat.

“Oleh karenanya, Kementerian Agama menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Alquran dengan mengusahakan penyusunan terjemah maupun tafsir dengan berbagai variannya,” ujarnya.

Dalam Tafsir tematik, misalnya, Kemenag memilih tema yang menjadi persoalan masyarakat. Kepala Pusat Litbang Kehidupan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag Nur Kholis Setiawan mengatakan, tema-tema yang ditulis merupakan beberapa persoalan yang ditemukan di Indonesia. Nikah beda agama, misalnya, merupakan salah satu isu penting sekaligus melahirkan kontroversi di tengah masyarakat Muslim.

Demikian pula tema mengenai jihad melawan korupsi yang merupakan salah satu persoalan yang amat serius di Indonesia. Juga, tentang etika lingkungan, mengingat preservasi lingkungan merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat, termasuk di dalamnya agamawan kitab suci.
 
Adapun tafsir ilmi, menurut Pengasuh Ponpes Darussunnah Ciputat KH Ali Mustafa Yaqub, masih bersifat kontroversi. Adapun tematik tak menjadi masalah. Tafsir ilmi ada di kalangan ulama yang mendukung, ada pula yang tidak. Karena, sebenarnya dianggap tidak terlalu akurat. Terlalu jauh sampai mengartikan semua perkara dunia ada di Alquran.

“Ini seperti kambing hilang pun dapat dicari di Alquran. Kontroversiallah. Kalau tematik, nggak ada masalah, hanya subjek-subjek,” ujarnya saat menghadiri acara mukernas.

Namun, secara umum, Ali Mustafa mengapresiasi produk tafsir yang diupayakan Kemenag. “Bagus untuk pengetahuan,” ujarnya.

Oleh Afriza Hanifa
yy/nabawia.com