26 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 05 Agustus 2021

basmalah.png

Bolehkah Mengirim Al-Fatihah untuk Rasulullah Saw?

Bolehkah Mengirim Al-Fatihah untuk Rasulullah Saw?

Fiqhislam.com - Seorang jamaah bertanya kepada Ustaz Farid Nu'man Hasan (Dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia) terkait amalan mengirim Surah Al-Fatihah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Berikut penjelasan Ustaz Farid Nu'man dalam website resminya [alfahmu.id].

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz, saya lihat ceramah yang bilang kirim Al-Fatihah untuk Nabi itu budaya Jawa, katanya itu aswaja (asli warisan jawa), bukan asli Ahlussunnah. Itu bener tidak ya?

Jawaban Ustaz Farid Nu'man Hasan:

Mengirim Al-Fatihah untuk Rasulullah SAW sudah didiskusikan hukumnya oleh para ulama sejak berabad-abad lamanya. Tidak satu pun ulama yang pro maupun kontra menyebut itu warisan Jawa. Semoga seorang muslim apalagi ustadz mengevaluasi lisannya agar tidak mengolok-olok sesama muslim.

Lalu bagaimana dengan mengirim Al-Fatihah buat Nabi? Imam Syihabuddin Ar Ramliy rahimahullah (seorang Imam dalam Mazhab Syafi'i dan beliau bukan orang Jawa) berkata ketika ditanya hukum mengirim Al-Fatihah kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa Sallam. Beliau menjawab:

نَعَمْ ذَلِكَ جَائِزٌ بَلْ مَنْدُوبٌ قِيَاسًا عَلَى الصَّلَاةِ عَلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَسُؤَالِ الْوَسِيلَةِ وَالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ وَنَحْوِهِ ذَلِكَ بِجَامِعِ الدُّعَاءِ بِزِيَادَةِ تَعْظِيمِهِ وَقَدْ جَوَّزَهُ جَمَاعَاتٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنٌ فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ فَالْمَانِعُ مِنْ ذَلِكَ غَيْرُ مُصِيبٍ

Ya, itu (kirim Al-Fatihah kepada Nabi) adalah boleh bahkan dianjurkan, diqiyaskan dengan bershalawat kepadanya, mendoakan dan memintakan untuknya wasilah dan kedudukan yang terpuji dan semisalnya. Dengan kumpulan doa yang menambah penghormatan kepadanya. Hal ini dibolehkan oleh segolongan ulama muta'akhirin dan diamalkan kaum muslimin. Apa-apa yang yang baik di mata kaum muslimin maka di sisi Allah juga baik. (Fatawa Ar Ramliy, 3/125).

Imam Ibnu 'Abidin rahimahullah juga berkata: "Mengirimkan hadiah pahala bacaan Al-Quran kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam itu dibutuhkan. Imam Ibnu Hajar menceritakan dalam Al-Fiqhiyah Al Kubra bahwa Al-Hafizh Ibnu Taimiyah menyangka kirim bacaan Al-Quran untuk Nabi SAW terlarang sebab kedudukannya yang tinggi tidaklah membutuhkan itu kecuali dengan izinnya, yaitu bershalawat, dan berdoa meminta kedudukan wasilah baginya". Dia (Ibnu Hajar) berkata: "Hal ini telah dibantah oleh As-Subkiy dan lainnya, bahwasanya masalah ini tidaklah membutuhkan izin khusus dari Nabi SAW.

Bukankah Anda lihat bahwa Ibnu Umar umrah untuk Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam setelah wafatnya Nabi tanpa diwasiatkan oleh beliau. Ibnul Muwaffaq (sezaman dengan Ibnul Junaid) telah menghajikan Nabi sebanyak 70 kali. Ibnu As-Siraj mengkhatamkan Al-Quran 10.000 kali untuk Rasulullah SAW dan dia berqurban untuknya sebanyak itu juga". (Hasyiyah Ibnu 'Abidin, 2/244)

Ibnu 'Abidin juga mengatakan bahwa kebolehan ini menjadi pendapat ulama Hanafiyah seperti Imam Syihab bin Ahmad Asy Syalaby, juga ulama Hambali seperti Imam Ibnu 'Aqil Al Hambali. [yy/sindonews]