fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Sembilan Adab Saat di Majelis Ilmu

Sembilan Adab Saat di Majelis Ilmu


Fiqhislam.com - Sebagai seorang Muslim, hendaklah ia memperhatikan adab dalam segala hal, termasuk adab ketika berada di majelis ilmu. Adab perlu dijaga agar ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat bagi kehidupan dan meninggalkan perbuatan sia-sia.

Berikut adalah adab-adab ketika di majelis ilmu yang dikutip dari Mina.

Pertama, memberi salam kepada orang-orang yang di dalam majelis di saat masuk dan keluar dari majlis tersebut.

Abu Hurairah ra telah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Bila salah seorang kamu sampai di suatu majlis, maka hendaklah memberi salam, lalu jika dilihat layak baginya duduk maka duduklah ia. Kemudian jika bangkit (akan keluar) dari majelis hendaklah memberi salam pula. Bukanlah yang pertama lebih berhak daripada yang selanjutnya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Kedua, tidak berbisik berduaan dengan meninggalkan orang ketiga. Ibnu Mas`ud Radhiallaahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Bila kamu tiga orang, maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga sehingga kalian bercampur baur dengan orang banyak, karena hal tersebut dapat membuatnya sedih.” (Muttafaq’alaih).

Ketiga, hendaknya duduk di tempat yang masih tersisa. Jabir bin Samurah telah menuturkan: “Adalah kami, apabila kami datang kepada Nabi SAW maka masing-masing kami duduk di tempat yang masih tersedia di majelis.” (HR. Abu Daud).

Jangan memindahkan orang lain dari tempat duduknya kemudian mendudukinya, akan tetapi berlapang-lapanglah di dalam majlis. Ibnu Umar ra telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda, “Seseorang tidak boleh memindahkan orang lain dari tempat duduknya, lalu ia menggantikannya, akan tetapi berlapanglah dan perluaslah.” (Muttafaq’alaih).

Keempat, para anggota majlis hendaknya tidak banyak tertawa. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena banyak tawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Kelima, tidak duduk di tengah-tengah halaqah (lingkaran majlis). Tidak duduk di antara dua orang yang sedang duduk kecuali seizin mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seseorang memisah di antara dua orang kecuali seizin keduanya.” (HR. Ahmad)

Keenam, tidak boleh menempati tempat duduk orang lain yang keluar sementara waktu untuk suatu keperluan. Nabi SAW bersabda, “Apabila seorang di antara kamu bangkit (keluar) dari tempat duduknya, kemudian kembali, maka ia lebih berhak menempatinya.” (HR.Muslim)

Ketujuh, anggota majlis hendaknya tidak melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan perasaan orang lain, seperti menguap atau membuang ingus atau bersendawa di dalam majlis.

Tidak melakukan perbuatan memata-matai. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu mencari-cari atau memata-matai orang.” (Muttafaq’alaih).

Kedelapan, hendaknya setiap anggota majlis menjaga pembicaraan yang terjadi di dalam forum (majlis). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang membicarakan suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka itu adalah amanat.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Kesembilan, disunnatkan menutup majlis dengan doa Kaffaratul majlis, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Siapa yang duduk di dalam suatu majlis dan di majlis itu terjadi banyak gaduh, kemudian sebelum bubar dari majlis itu ia membaca :

Subhaana kallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu; aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau; aku memohon ampunanmu dan aku bertobat kepada-Mu“, maka Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi) [yy/islampos]