5 Dzulhijjah 1443  |  Selasa 05 Juli 2022

basmalah.png

Akhir Zaman

Akhir Zaman

Fiqhislam.com - Umat merupakan pokok utama bagi kita untuk mensejahterakannya. Walau kita tahu, pada hakikatnya Allah SWT-lah yang memberikan kesejahteraan itu. Tetapi, tentunya kita membutuhkan perantara. Dan haruslah ada orang yang berdiri di depan demi membangun kepentingan umat. Salah satunya menjadi seorang bicara bagi kepentingan umat.

Dulu, juru bicara yang mewakili masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka adalah orang yang berakal budi, bijaksana dan fasih. Nanti, akan datang satu masa yang ketika itu moral masyarakat sudah bobrok. Sehingga, yang menjadi juru bicara dan penyambung lidah mereka adalah ar-Ruwaibidhah, yaitu orang yang tak bermoral dan tak berilmu.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kelak, manusia akan menghadapi satu masa yang ketika hujan sering turun namun tak ada satu pun tanaman yang bisa tumbuh. Pada saat itu, seorang pendusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap pembohong, pengkhianat dipercaya, orang yang bisa dipercaya dianggap pengkhianat, dan ar-Ruwaibidhah akan menjadi penyambung lidah masyarakat.”

Seorang sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan ar-Ruwaibidhah?” Nabi menjawab, “Orang tak berilmu yang berbicara tentang urusan masyarakat,” (Menurut al-Hutsaimi, hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat seorang mudallis [pemalsu hadis] bernama Ibnu Ishaq. Sementara perawi lainnya adalah sosok-sosok yang tsiqah [terpercaya]).

Salah satu ciri zaman ini adalah tampilnya orang-orang tak bermartabat di tengah-tengah masyarakat, mengalahkan sosok-sosok terbaik mereka. Sehingga, semua urusan mereka pun berada di tangan orang-orang bodoh dan tak bermartabat itu. Sekarang, fenomena ini sudah terjadi di mana-mana.

Seharusnya, orang yang berilmu, berakal budi, dan memiliki keahlianlah yang lebih berhak untuk menangani dan mengelola urusan masyarakat. Namun, pada saat ini, kita bisa melihat bahwa orang sekarang lebih mendahulukan hawa nafsu dan kepentingan pribadinya, meski harus menjual agama mereka. Karena itulah, mereka lebih memilih orang-orang bodoh yang tak bermartabat menjadi pemimpin.

 

Akhir Zaman

Fiqhislam.com - Umat merupakan pokok utama bagi kita untuk mensejahterakannya. Walau kita tahu, pada hakikatnya Allah SWT-lah yang memberikan kesejahteraan itu. Tetapi, tentunya kita membutuhkan perantara. Dan haruslah ada orang yang berdiri di depan demi membangun kepentingan umat. Salah satunya menjadi seorang bicara bagi kepentingan umat.

Dulu, juru bicara yang mewakili masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka adalah orang yang berakal budi, bijaksana dan fasih. Nanti, akan datang satu masa yang ketika itu moral masyarakat sudah bobrok. Sehingga, yang menjadi juru bicara dan penyambung lidah mereka adalah ar-Ruwaibidhah, yaitu orang yang tak bermoral dan tak berilmu.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kelak, manusia akan menghadapi satu masa yang ketika hujan sering turun namun tak ada satu pun tanaman yang bisa tumbuh. Pada saat itu, seorang pendusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap pembohong, pengkhianat dipercaya, orang yang bisa dipercaya dianggap pengkhianat, dan ar-Ruwaibidhah akan menjadi penyambung lidah masyarakat.”

Seorang sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan ar-Ruwaibidhah?” Nabi menjawab, “Orang tak berilmu yang berbicara tentang urusan masyarakat,” (Menurut al-Hutsaimi, hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat seorang mudallis [pemalsu hadis] bernama Ibnu Ishaq. Sementara perawi lainnya adalah sosok-sosok yang tsiqah [terpercaya]).

Salah satu ciri zaman ini adalah tampilnya orang-orang tak bermartabat di tengah-tengah masyarakat, mengalahkan sosok-sosok terbaik mereka. Sehingga, semua urusan mereka pun berada di tangan orang-orang bodoh dan tak bermartabat itu. Sekarang, fenomena ini sudah terjadi di mana-mana.

Seharusnya, orang yang berilmu, berakal budi, dan memiliki keahlianlah yang lebih berhak untuk menangani dan mengelola urusan masyarakat. Namun, pada saat ini, kita bisa melihat bahwa orang sekarang lebih mendahulukan hawa nafsu dan kepentingan pribadinya, meski harus menjual agama mereka. Karena itulah, mereka lebih memilih orang-orang bodoh yang tak bermartabat menjadi pemimpin.

 

Banyak Pertikaian

Banyak Pertikaian

Bumi sudah semakin tua. Seperti layaknya manusia, bumi pun memiliki masa tertentu untuk hidup. Maka, akan ada saatnya kita melihat bumi ini berakhir. Dan berakhirnya bumi, menandakan malapetaka bagi mereka yang merasakan kehancuran bumi. Sebab, dikatakan bahwa ketika bumi ini berakhir, yang merasakannya hanyalah orang-orang yang tidak memiliki iman –semoga kita tidak termasuk di dalamnya-.

Sebelum hal itu terjadi, maka akan ada tanda-tanda yang dapat kita rasakan. Salah satunya ialah banyaknya pertikaian sesama manusia.

Ketika malapetaka dan cobaan merebak, hubungan antar sesama pun renggang. Bahkan, cenderung terputus dan berubah menjadi permusuhan. Sehingga, anggota masyarakat pun tidak saling mengenal kecuali jika masing-masing punya kepentingan materiil.

Hudzaifah ibn Yaman menuturkan, ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang hari kiamat, beliau menjawab, “Hanya Tuhanku yang mengetahuinya. Waktu terjadinya pun tidak ada yang tahu selain Dia. Akan tetapi, aku akan sampaikan kepada kalian tanda-tandanya dan apa yang akan terjadi sebelumnya. Sesungguhnya menjelang hari kiamat nanti, pelbagai macam fitnah dan haraj akan merajalela.”

Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahui makna fitnah. Lalu, apa yang dimaksud dengan haraj itu?” Nabi ﷺ menjawab, “Dalam bahasa Habasyah (Ethiopia), haraj artinya pembunuhan, dan manusia akan saling bermusuhan, sehingga masing-masing tidak saling mengenal satu sama lain,” (HR. Ahmad. Menurut al-Haitsami, perawinya adalah perawi hadis shahih).

Hadis ini sesuai dengan realitas kehidupan saat ini. kebanyakan orang nyaris tidak mengenal kerabatnya sendiri. Sehingga, ketika –misalnya- seseorang berpapasan anak-anak saudaranya di tempat umum, ia tidak menyadari kalau anak-anak itu masih punya hubungan darah dengannya. Fenomena ini terjadi karena sebagian besar interaksi antar manusia dibangun atas dasar kepentingan pribadi.

Di samping itu, banyak pula hubungan semuyang dibangun atas dasar kepentingan duniawi semata yang cepat terbina dan cepat pula hancur. Sebab, hubungan-hubungan seperti itu lebih banyak dilandasi oleh ambisi manusia dalam meraih kepentingan-kepentingan mereka, bukan oleh iman kepada Allah SWT dan persaudaraan.

Dalam hubungan seperti itu, orang hanya melihat kepentingannya sendiri. Jika ia bisa memperoleh kepentingannya dengan hubungan itu, ia akan membinanya. Namun, jika tidak, ia pun akan segera mengakhirinya.

 

Banyak Orang Gemuk

Banyak Orang Gemuk

Setiap manusia tentu menginginkan bentuk tubuh yang ideal. Mereka akan melakukan apa saja agar tubuhnya terlihat lebih indah dan menarik. Hanya saja, mereka pun tak bisa mengendalikan diri dari makanan-makanan yang menggiurkan. Alhasil, bentuk tubuh ideal itu cukup sulit untuk diwujudkan.

Tahukah Anda, bahwa peristiwa inilah yang terjadi di akhir zaman kelak? Ketika zaman sudah berkembang pesat dan peradaban semakin maju, maka manusia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sehingga, dapat kita jumpai banyaknya orang yang bertumbuh gemuk.

Imran ibn Hushain RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Umatku yang terbaik adalah (umat) pada masaku, lalu (umat) setelah mereka, lalu (umat) setelahnya. Setelah itu, akan muncul satu kaum yang bersaksi namun tidak bisa dipercaya, berkhianat dan tidak bisa memegang amanah, bernazar namun tidak melaksanakannya, serta terlihat gemuk,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Barangkali, banyaknya orang gemuk di akhir zaman disebabkan oleh kekayaan yang melimpah, kesejahteraan yang merata, berbagai macam makanan dan minuman tersedia, segala bentuk manisan dan kudapan dapat dinikmati, dan orang makin malas menggerakkan badan. Orang-orang mulai menggunakan berbagai macam peralatan penunjang, sehingga mereka tak perlu lagi berjalan kaki dan bergerak. Akibatnya, berat badan manusia pun bertambah, baik pada orang tua maupun anak-anak.

Survei menyebutkan bahwa seperenam penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan. Karena itu, tak mengherankan apabila obat-obatan penurun berat badan dan anti-kegemukan, operasi pengangkatan lemak dan lain sebagainya kini dapat dijumpai di mana-mana. [yy/islampos]

Referensi: Kiamat Sudah Dekat
Karya: Dr. Muhammad Al-‘Areifi
Penerbit: Qisthi Press