8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Syariat, Hakikat, Makrifat

Syariat, Hakikat, Makrifat

Fiqhislam.com - Suatu hari, sekelompok orang dari Bani Asad, kabilah yang tinggal di dekat Madinah, mendatangi Nabi Muhammad SAW mengutarakan keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Tujuannya untuk mendapatkan rampasan perang dan keperluan duniawi lainnya, sementara hati mereka belum yakin sepenuhnya dengan ucapannya itu.

Mereka berkata, “Kami siap membelamu dan kami tidak pernah memerangimu sebagaimana Bani Fulan memerangimu.” Mereka terus saja menyebutkan dukungannya kepada Nabi Muhammad SAW, yang pada akhirnya mereka mengatakan bahwa mereka beriman.

Namun, kemudian Allah menurunkan ayat Alquran yang mengoreksi pernyatan mereka: Orang-orang Arab badui itu berkata, “Kami telah beriman,” katakanlah (Muhammad), “Kalian belum beriman, tapi katakanlah, kami telah berislam (tunduk), karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian. Jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Hujurat [49]: 14).

Ayat di atas menegaskan secara jelas perbedaan antara Islam (pasrah) dengan iman (keyakinan penuh). Orang yang baru masuk Islam, apalagi diselingi motif duniawi, baru disebut berislam dan belum layak disebut beriman karena keimanan memerlukan syarat yang lebih berat dari sekadar mengikrarkan dua kalimat syahadat tanpa diiringi keyakinan yang benar-benar kokoh dalam hati.

Tingkatan keyakinan ini tersirat pula dalam sabda Nabi Muhammad SAW ketika didatangi Malaikat Jibril yang bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Islam kata Nabi, “Kamu bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan naik haji bila kamu mampu.”

Adapun iman kata beliau, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari akhir (kiamat), dan ketentuan (takdir) Allah yang baik maupun yang buruk.”

Sementara ihsan kata beliau, “Kamu menyembah Allah seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu (merasakan) demikian, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dari ketiga tingkatan keberagamaan ini, Islam berada di urutan paling bawah, disusul iman, baru kemudian ihsan. Secara sederhana, bisa disimpulkan, orang yang sudah berada di tingkatan ihsan pasti beriman, orang yang sudah beriman pasti sudah berislam. Namun, tidak sebaliknya, orang yang berislam belum tentu beriman dan orang yang beriman belum tentu berihsan.

Sejatinya ketiga tingkatan ini merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena keimanan tanpa berislam terlebih dahulu tidak diakui keimanannya, begitu pun berihsan tanpa beriman dan berislam terlebih dahulu juga tidak diterima keihsanannya.

Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat tertinggi dalam berkeyakinan seseorang harus memulainya dengan berislam yang baik, lalu beriman dengan benar, dan berihsan secara sempurna. Hal ini senada dengan konsep bersyariat yang baik, berhakikat yang benar, dan bermakrifat yang tepat.  [yy/republika]

Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Abdul Syukkur