15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Dosakah Mengucapkan Nazar Tetapi Lupa Melaksanakannya?

Dosakah Mengucapkan Nazar Tetapi Lupa Melaksanakannya?

Fiqhislam.com - Saat harapan atau keinginannya tercapai, seseorang biasanya mengucapkan nazar. Nazar merupakan janji seseorang untuk melakukan sesuatu

Para ulama sepakat bahwa mengerjakan nazar tersebut menjadi wajib karena hal ini termasuk janji yang harus dipenuhi.

Kendati begitu, tidak jarang orang lupa dengan nazarnya ketika harapannya telah terwujud, entah karena tidak teliti atau memang memiliki daya ingat rendah. Seperti ada yang tidak ingat apakah nazar memotong sapi atau kambing jika harapannya terwujud atau contoh lain. Lantas bagaimana solusinya?

Dilansir dari Elbalad, anggota Dar Al Ifta Mesir, Syekh Ahmad Mamduh mengatakan nazar harus ditepati karena prinsip dasar dalam nazar adalah pelepasan kewajiban. Sebagaimana janji-janji lain, seorang Muslim harus menepati janjinya, apalagi jika berjanji kepada Allah SWT.

Ulama lain dari Dar ifta, Syekh Ali Fakhr menjelaskan, orang yang lupa akan nazarnya, maka tidak ada hukuman baginya.

Kendati demikian, seorang yang bernazar kemudian lupa seharusnya merasa malu kepada Allah SWT atas janji yang dilupakannya dan lebih baik membayar kafarat yamin atau sanksi melanggar sumpah.

Sedangkan Komite Riset Fatwa Mesir mengatakan, sumpah adalah komitmen untuk mendekatkan dan menaati Allah SWT. Seseorang yang menepati janjinya ini dipuji Allah SWT.

يُوفُونَ بِٱلنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسْتَطِيرًا

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS Al Insan 7).

Melalui pandangan-pandangan para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang lupa akan nazarnya, entah melakukan sholat, puasa atau berkurban, maka diharapkan untuk mengeluarkan kafarat yamin.

Hal ini diqiyaskan seperti yang dijelaskan dalam surat Al Maidah ayat 89. Allah SWT berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغْوِ فِىٓ أَيْمَٰنِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلْأَيْمَٰنَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.”

Sanksi nazar akibat lupa juga sesuai dengan pandangan mayoritas ulama yang menyebut hukum dari nazar yang terlupa adalah kafarat yamin atau kafarat melanggar sumpah. [yy/republika]

 

Dosakah Mengucapkan Nazar Tetapi Lupa Melaksanakannya?

Fiqhislam.com - Saat harapan atau keinginannya tercapai, seseorang biasanya mengucapkan nazar. Nazar merupakan janji seseorang untuk melakukan sesuatu

Para ulama sepakat bahwa mengerjakan nazar tersebut menjadi wajib karena hal ini termasuk janji yang harus dipenuhi.

Kendati begitu, tidak jarang orang lupa dengan nazarnya ketika harapannya telah terwujud, entah karena tidak teliti atau memang memiliki daya ingat rendah. Seperti ada yang tidak ingat apakah nazar memotong sapi atau kambing jika harapannya terwujud atau contoh lain. Lantas bagaimana solusinya?

Dilansir dari Elbalad, anggota Dar Al Ifta Mesir, Syekh Ahmad Mamduh mengatakan nazar harus ditepati karena prinsip dasar dalam nazar adalah pelepasan kewajiban. Sebagaimana janji-janji lain, seorang Muslim harus menepati janjinya, apalagi jika berjanji kepada Allah SWT.

Ulama lain dari Dar ifta, Syekh Ali Fakhr menjelaskan, orang yang lupa akan nazarnya, maka tidak ada hukuman baginya.

Kendati demikian, seorang yang bernazar kemudian lupa seharusnya merasa malu kepada Allah SWT atas janji yang dilupakannya dan lebih baik membayar kafarat yamin atau sanksi melanggar sumpah.

Sedangkan Komite Riset Fatwa Mesir mengatakan, sumpah adalah komitmen untuk mendekatkan dan menaati Allah SWT. Seseorang yang menepati janjinya ini dipuji Allah SWT.

يُوفُونَ بِٱلنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسْتَطِيرًا

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS Al Insan 7).

Melalui pandangan-pandangan para ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang lupa akan nazarnya, entah melakukan sholat, puasa atau berkurban, maka diharapkan untuk mengeluarkan kafarat yamin.

Hal ini diqiyaskan seperti yang dijelaskan dalam surat Al Maidah ayat 89. Allah SWT berfirman:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغْوِ فِىٓ أَيْمَٰنِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلْأَيْمَٰنَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.”

Sanksi nazar akibat lupa juga sesuai dengan pandangan mayoritas ulama yang menyebut hukum dari nazar yang terlupa adalah kafarat yamin atau kafarat melanggar sumpah. [yy/republika]

 

Kafarat Sumpah

 

Melanggar, Wajib Bayar Kafarat Sumpah


Fiqhislam.com - Jika anda bersumpah atas nama Allah, maka anda harus menepati. Jika anda melanggar, maka anda harus membayar kafarat. Hal ini diterangkan dalam firman Allah berikut:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.” (Q.s. Al-Maidah: 89)

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ

Kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu langgar.” (Q.s. Al-Maidah: 89)

Jadi kafaratnya adalah 1) memberi makan 10 orang miskin, atau 2) Memberi pakaian 10 orang miskin, atau 3) membebaskan budak atau 4) Berpuasa selama tiga hari. Jadi anda memilih satu dari empat pilihan tersebut. Wallahu a’lam. [yy/tanyajawabagama]

Oleh Ustaz Wahyudi Abdurrahim, Lc., M.M