28 Safar 1444  |  Minggu 25 September 2022

basmalah.png

Imam Ath-Thabari Hafal Al-Quran Sejak Usia Tujuh Tahun

Imam Ath-Thabari Hafal Al-Quran Sejak Usia Tujuh Tahun

Fiqhislam.com - Sejak usia kanak-kanak, Imam ath-Thabari dikenal memiliki otak yang encer. Dalam buku Biografi 60 Ulama Salaf karya Syekh Ahmad Farid disebutkan bahwa ath-Thabari sudah berhasil menghafal Alquran saat usia tujuh tahun, menjadi imam shalat di usia delapan tahun, dan menulis hadis di usia sembilan tahun.

Di antara hal lain yang menunjukkan kepandaian dan kecerdasan beliau adalah kisah Imam ath-Thabari tentang dirinya sendiri tatkala dia mampu menguasai ilmu Arudh (ilmu tentang syair atau sajak) dalam tempo satu malam.

Imam ath-Thabari berkata, Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk mengujikan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari, datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari ilmu Arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang ilmu tersebut.”

Akhirnya, aku katakan kepadanya, ‘Aku tidak bisa bicara karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah Arudh sedikit pun. Tetapi, datanglah besok dan temui aku.’ Lalu aku pun meminjam Kitab Arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari kitab tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.”

Mengenai kecerdasan yang dimiliki Imam ath-Thabari itu Ibnu Atsir berkata, Abu Ja’far orang yang paling tsiqat (terpercaya) dalam mengungkap sejarah. Di dalam tafsirnya sarat dengan ilmu dan legalitasnya.” Sementara Imam adz-Dzahabi berkata, Dia orang yang tsiqat, hafiz, jujur, imamnya para mufasir, fuqaha, baik ketika mufakat maupun ikhtilaf, pakar sejarah dan antropologi, mengetahui qira’at dan linguistik.”

 

Imam Ath-Thabari Hafal Al-Quran Sejak Usia Tujuh Tahun

Fiqhislam.com - Sejak usia kanak-kanak, Imam ath-Thabari dikenal memiliki otak yang encer. Dalam buku Biografi 60 Ulama Salaf karya Syekh Ahmad Farid disebutkan bahwa ath-Thabari sudah berhasil menghafal Alquran saat usia tujuh tahun, menjadi imam shalat di usia delapan tahun, dan menulis hadis di usia sembilan tahun.

Di antara hal lain yang menunjukkan kepandaian dan kecerdasan beliau adalah kisah Imam ath-Thabari tentang dirinya sendiri tatkala dia mampu menguasai ilmu Arudh (ilmu tentang syair atau sajak) dalam tempo satu malam.

Imam ath-Thabari berkata, Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk mengujikan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari, datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari ilmu Arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang ilmu tersebut.”

Akhirnya, aku katakan kepadanya, ‘Aku tidak bisa bicara karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah Arudh sedikit pun. Tetapi, datanglah besok dan temui aku.’ Lalu aku pun meminjam Kitab Arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari kitab tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.”

Mengenai kecerdasan yang dimiliki Imam ath-Thabari itu Ibnu Atsir berkata, Abu Ja’far orang yang paling tsiqat (terpercaya) dalam mengungkap sejarah. Di dalam tafsirnya sarat dengan ilmu dan legalitasnya.” Sementara Imam adz-Dzahabi berkata, Dia orang yang tsiqat, hafiz, jujur, imamnya para mufasir, fuqaha, baik ketika mufakat maupun ikhtilaf, pakar sejarah dan antropologi, mengetahui qira’at dan linguistik.”

 

Imam Ath-Thabari Gemar Menuntut Ilmu

Imam Ath-Thabari Gemar Menuntut Ilmu


Fiqhislam.com - Semasa hidupnya, ath-Thabari dikenal sebagai seorang yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia memang memilih membujang hingga akhir hayatnya. Karena itu, ia memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mencari ilmu.

Ia berkeliling negeri mencari ilmu, sendirian tanpa seorang pun teman menyertainya. Wajar jika ia sanggup menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, sejarah, hadis, bahasa, dan sastra.

Mengenai kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, ath-Thabari berkata, Dahulu ayahku dalam tidurnya melihat Rasulullah dan diriku membawa sekeranjang batu sedang bersama beliau. Dalam tidurnya, ayahku seolah melihat aku sedang melempar batu di hadapan Rasulullah.”

Lalu, ahli tafsir mimpi berkata kepada ayahku, ‘Sesungguhnya anak ini (ath-Thabari) kelak jika dewasa akan memelihara syariatnya.’ Dari mimpi itulah akhirnya ayahku membiayaiku mencari ilmu. Padahal, waktu itu aku baru kanak-kanak yang masih kecil,” ujarnya.

Doktor Muhammad az-Zuhaili berkata, Berdasarkan berita yang dapat dipercaya, sesungguhnya semua waktu Abu Ja’far ath-Thabari telah dikhususkan untuk ilmu dan mencarinya. Dia bersusah payah menempuh perjalanan jauh untuk mencari ilmu sampai masa mudanya dihabiskan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia tidak tinggal menetap, kecuali setelah usianya mencapai antara 35-40 tahun.”

Karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, seluruh harta benda miliknya ia habiskan untuk menempuh perjalanan jauh dalam musafir menimba ilmu, menyalin dan membeli kitab. Untuk membiayai semua perjalanannya, pada awalnya ath-Thabari bertumpu pada harta milik ayahnya dan harta warisan milik ayahnya.

Tatkala sudah kenyang menjalani hidup dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, ath-Thabari memutuskan untuk tinggal menetap di satu tempat. Beliau kemudian menghabiskan sisa usianya untuk menulis dan mengajarkan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain.

Setiap hari ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman. Di antara karyanya adalah Jami al-Bayan fi Tafsir Alquran yang dikenal dengan sebutan Tafsir ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang dikenal dengan Tarikh ath-Thabari, dan Tahdzib al-Atsar.

 

Imam Ath-Thabari Memilih Zuhud

Imam Ath-Thabari Memilih Zuhud


Fiqhislam.com - Imam ath-Thabari adalah ulama yang tak silau dengan harta dan kemewahan. Bahkan, ia juga tak suka dengan jabatan tinggi yang ditawarkan para penguasa kepadanya.

Sang ulama zuhud itu hanya akan menerima sebuah hadiah jika merasa dapat membalas hadiah itu dengan yang lebih baik. Namun, apabila tak mampu, hadiah itu akan ditolak dengan ramah disertai permintaan maaf kepada pemberi hadiah.

Berkat kecerdasannya, ath-Thabari pernah diminta salah seorang khalifah dari Daulah Abbasiyah untuk mengarang buku fikih. Kemudian, dia mengarang kitab fikih dengan judul Al-Khafif.

Bahkan dalam bidang fikih, pendapat-pendapat ath-Thabari dihimpun yang kemudian dinamai mazhab Jaririyah. Salah seorang penguasa Abbasiyah pernah memberinya imbalan sebesar seribu dinar atas usahanya mengarang kitab fikih, namun imbalan tersebut ia kembalikan.

Abu Haija’ Ibnu Hamdan pernah memberikan hadiah kepada ath-Thabari tiga ribu dinar. Setelah melihat hadiah tersebut, ath-Thabari terkagum-kagum dan berkata, Aku tidak bisa menerima hadiah yang aku tidak bisa membalasnya dengan yang lebih baik lagi. Dari mana aku mendapatkan uang untuk membalas hadiah sebanyak ini?”

Imam ath-Thabari juga dikenal selalu menjauhi sikap dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh ulama. Sikap itu dilakukannya sampai mengembuskan napas terakhirnya. Pernah suatu ketika beliau berdebat dengan Dawud bin Ali azh-Zhahiri mengenai suatu permasalahan.

Di tengah perdebatan, beliau berhenti dan tidak meneruskan perkataannya sehingga para temannya menjadi bertanya-tanya. Dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba salah seorang yang hadir berdiri, dengan spontan dia berkata-kata pedas dan menyakitkan yang ditujukan pada ath-Thabari.

Mendengar perkataan yang demikian itu, ath-Thabari tidak membalasnya sedikit pun dan tidak pula terpancing memberikan jawaban. Dengan segera ia bergegas meninggalkan tempat itu dan menulis masalah perdebatannya itu dalam sebuah kitab.

Orang-orang di sekitarnya juga mengakui kezuhudan ath-Thabari. Dikisahkan, Perdana Menteri Al-Kharqani bertaklid kepadanya, lalu ia mengirimkan uang dalam jumlah yang besar kepadanya. Akan tetapi, dia menolak pemberian tersebut. Ketika ath-Thabari ditawarkan kedudukan qadhi (hakim) dengan jabatan wilayah al-Mazhalim, dia pun menolaknya.

Akibat penolakan ini, teman-teman ath-Thabari mencelanya. Mereka berkata, Ketika kamu terima jabatan ini, kamu akan mendapatkan gaji tinggi dan akan dapat menghidupkan pengajian sunah yang kamu laksanakan.” Mendengar perkataan tersebut, akhirnya ath-Thabari membentak mereka seraya berkata, Sungguh, aku mengira kalian akan mencegahku ketika aku senang jabatan tersebut.”

 

Mengenal Karya-Karya Imam Ath-Thabari

Mengenal Karya-Karya Imam Ath-Thabari


Fiqhislam.com - Imam ath-Thabari termasuk ulama yang terbilang produktif dalam menulis. Adapun karya intelektual ath-Thabari tidak bisa dipastikan jumlahnya.

Namun, menurut Saiful Amin Ghofur dalam bukunya berjudul Profil Para Mufasir Alquran, berdasarkan riwayat dari Khatib al-Baghdadi yang diambil dari Ali bin Ubaidillah al-Lughawi asy-Syamsi, bahwa ath-Thabari sudah aktif menulis selama empat puluh tahun.

Setiap harinya ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman. Dengan demikian, diperkirakan selama kurun waktu empat puluh tahun itu ia telah menghasilkan sebanyak 1.768.000 lembar tulisan. Namun sayangnya, tidak semua karya ath-Thabari ini sampai ke tangan kita.

Karya-karyanya terutama yang mengulas mengenai bidang hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya mazhab Jaririyah. Di antara karyanya yang bisa terselamatkan adalah Jami al-Bayan Fi Tafsir Alquran yang dikenal dengan sebutan Tafsir ath-Thabari, dan Tarikh al-Umam wa al-Muluk yang dikenal dengan Tarikh ath-Thabari.

Selain itu, Imam ath-Thabari juga menulis Tahdzib al-Atsar wa at-Tafdhil ats-Tsabit; Ikhtilaf al-Ulama al-Amshar Fi Ahkam Syara’i al-Islam, yang lebih dikenal dengan Ikhtilaf al-Fuqaha; Dzail al-Mudzil; Lathif al-Qaul Fi Ahkam Syara’I al-Islam, yang merupakan kitab fikih mazhab Jaririyah; Adab al-Qudhah; Al-Musnad al-Mujarrad, Al-Qiraat wa Tanzil Alquran; Mukhtashar Manasik al-Hajj, Al-Mujiz fi al-Ushul, dan Musnad Ibnu ‘Abbas. [yy/republika]