30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Beda Al-Quran dan Kitab Terdahulu Serta Tuduhan Orientalis

Beda Al-Quran dan Kitab Terdahulu Serta Tuduhan Orientalis

Fiqhislam.com - Alquran mewajibkan kaum Muslim untuk mengimani kitab-kitab yang pernah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi. Soal tudingan bahwa Alquran bukanlah wahyu Allah dan hanyalah jiplakan dari orang non-Muslim, sudah disebutkan dalam Alquran:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

"Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Alquran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, adalah bahasa 'Ajam. Sedangkan Alquran adalah dalam bahasa Arab yang terang. ('Arabiyyun mubin)." (QS 16:103).

Jika dicermati, Alqran memang banyak menyerap istilah yang sama dengan istilah-istilah yang digunakan agama-agama sebelumnya, bahkan istilah dalam tradisi Quraisy. Shaum (puasa), misalnya, jelas-jelas ditegaskan dalam Alquran (QS 2:183) merupakan kewajiban yang dibebankan kepada kaum Muslim dan umat sebelumnya.

Tapi, konsep puasa dalam Islam, lain dengan konsep pada umat nabi sebelumnya. Begitu juga sholat, haji, nikah, dan sebagainya. Bahkan, sebutan "Allah" telah dikenal kaum Quraisy, tetapi, konsep "Allah" dalam Alquran sangat berbeda dengan konsep kaum jahiliyah Quraisy. Istilah "haji" sudah dikenal sebelum Islam.

Namun, istilah haji dalam Islam berbeda maknanya dengan "haji" sebelum Islam. Begitu juga nama-nama para Nabi. Ibrahim, Dawud, Isa, dan para Nabi lainnya, AS, dalam konsep Alquran berbeda dengan konsep nabi-nabi dalam Bible dan Taurat (yang sekarang). Misal, Alquran menggambarkan Nabi Daud AS sebagai sosok yang saleh dan kuat. Berbeda, dengan Bible (2 Samuel 11:2-27) yang menggambarkan Daud sebagai sosok yang buruk moralnya.

Selain merebut dan menzinahi istri pembantunya sendiri (Batsyeba binti Eliam), Dawud juga menjebak suami si perempuan (Uria) agar terbunuh di medan perang. Sedangkan Alquran menyatakan:

اصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

"Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat taat kepada Allah." (QS 38:17).

Konsep Islam tentang "Isa" juga berbeda dengan konsep "Jesus" dalam Kristen, meskipun keduanya merujuk kepada figur yang sama. Bahkan, jika ada yang menyebut agama Islam, Kristen, dan Yahudi adalah rumpun "Abrahamic faith", maka konsep Ibrahim dalam Islam jelas berbeda dengan konsep Ibrahim dalam Yahudi dan Kristen. Alquran dengan tegas menyebut:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik." (QS 3:67).

Jika ditemukan banyak istilah atau terminologi dalam Alquran yang sama dan identik dengan istilah dalam Bible atau tradisi sebelum Islam, bukanlah berarti Alquran menjiplak dari kitab agama lain. Sebab, salah satu fungsi Alquran adalah sebagai "parameter" dan "korektor" terhadap penyimpangan terhadap kitab sebelumnya.

Alquran banyak mengingatkan terjadinya penyimpangan dan perubahan pada kitab para nabi itu (QS 4:46, 2:75, 2:79). Maka, kesimpulan Luxenberg, bahwa "Alquran memuat artikel tertentu dari Bible (Perjanjian Lama dan Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen", masih sangat dangkal dan sama sekali tidak meruntuhkan kewibawaan Mushaf Utsmani yang memiliki kekuatan hujjah yang kuat sebagai wahyu Allah SWT. Apalagi, kesimpulan seperti ini, meskipun menggunakan metode yang berbeda dengan para orientalis sebelumnya, bukanlah barang baru dalam tradisi orientalis dan misionaris Kristen.

Itu bisa disimak misalnya, pada buku karya Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, yang berjudul "Islam: A Challenge to Faith" (terbit pertama 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk "menaklukkan" dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai "studies on the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan world from the standpoint of Christian missions".

Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipimjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, dan Christianity. Termasuk yang dipinjam dari Christianity, menurut Zwemmer, adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashabul Kahfi, Lukman, Iskandar Zulkarnaen, dan sebagainya.

Tentang Alquran ini, Zwemmer menyatakan: (1) penuh dengan kesalahan sejarah (2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal, (3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni (4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita. Di akhir penjelasannya tentang Alquran, Zwemmer mencatat: "In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, though, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament." (1985:91). [yy/republika]