fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Kiprah Ilmuwan Muslim Klasik di Iskandariah, Mesir

Kiprah Ilmuwan Muslim Klasik di Iskandariah, Mesir


Fiqhislam.com - Sejak awal berdirinya, Iskandariah dimaksudkan sebagai titik temu kebudayaan-kebudayaan dunia. Pada awalnya, kota ini memadukan unsur-unsur Yunani Kuno (Hellenisme) dengan Timur (Semitic).

Setelah bangsa Arab datang, geliat masyarakat setempat sedang dalam titik nadir. Akan tetapi, para dinasti Muslim ikut merawat apa yang tersisa dari peradaban Hellenistik di kota tersebut.

Sejak zaman Khalifah Umar bin Khaththab hingga pecahnya Perang Salib, dinasti-dinasti Islam mengembangkan kebudayaan yang inklusif di Iskandariah. Josef W Meri dalam ensiklopedia Medieval Islamic Civilization memaparkan beberapa keistimewaan kota ini. Sepanjang abad pertengahan, banyak sarjana dan sufi terkenal yang berasal dari Iskandariah.

Misalnya, pakar hadis Abu Tahir al-Silafi (wafat 1180), salik Ibnu Atha'illah as-Sakandari (wafat 1309), dan al-Busiri sang penulis Kasidah Burdah yang berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW.

Sejak menaklukkan kota ini, para cendekiawan Muslim mulai mengenal cakrawala pengetahuan yang dirintis bangsa Yunani Kuno. Berabad-abad sebelum kedatangan Islam, Iskandariah merupakan pusat studi alkimia (alchemy) yang terkemuka.

Bidang tersebut mulanya bersifat protosains lantaran menggabungkan pelbagai kajian; mulai dari kimia, fisika, astrologi, kedokteran, hingga mistisisme. Ada dua tujuan yang hendak dicapai seorang alkemis klasik.

Pertama, keberadaan eliksir (philosopher’stone) yang diyakini mampu mengubah zat apa pun menjadi emas. Kedua, komposisi ramuan yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit (universal panacea). Meskipun dua hal itu cenderung menjadi mitos, alkimia terbukti merintis cikal-bakal studi kimia modern.

Para ilmuwan Muslim-lah yang mendorong kemajuan alkimia. Salah satunya, yang bahkan disebut sebagai “Bapak Kimia”, adalah Jabir bin Hayyan (wafat 815). Mengutip Husain Heriyanto dalam Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, ilmuwan yang lahir di Khurasan itu merintis dasar-dasar metode riset secara ilmiah dan eksperimental.

Sebelum eranya, para alkemis kuno dari Iskandariah, India, dan Cina umumnya mengandalkan cara-cara spekulatif tanpa pembuktian ilmiah. Sosok yang dikenal Barat sebagai Geber itu justru menegaskan, eksperimen adalah aspek terpenting dari kimia.

Ibnu al-Nadhim, penulis Muslim abad ke-10, melalui karyanya Kitab al-Fihris (‘Katalog’) menyebutkan bahwa peradaban Islam mulai menggeluti studi alkemi sejak abad pertama Hijriah.

Pada waktu itu, Khalid bin Yazid berhasrat menemukan eliksir universal. Bangsawan Umayyah tersebut lantas membentuk suatu tim yang terdiri atas para filsuf dan ilmuwan dari Iskandariah. Mereka bertugas menerjemahkan teks-teks klasik dari Yunani Kuno yang tersedia di Suriah dan pelbagai perpustakaan di wilayah Islam.

Di Iskandariah, Mesir, pula peradaban Islam mulai berkenalan dengan ilmu pengobatan dan filsafat pemikiran yang dikembangkan bangsa Yunani Kuno.

Karya para pemikir dari masa silam, seperti Hippocrates, Plato, Aristoteles, Sokrates, Pytagoras, Archimedes, dan Galen, diterjemahkan oleh para pakar di perpustakaan yang ditaja para sultan Muslim. Iskandariah menjadi salah satu sentra perkembangan sains dan literasi di samping kota-kota lainnya, semisal Jundisyapur (Persia) dan Harran (Suriah).

Pada abad ketujuh, ilmuwan Abdul Malik al-Kinanu dari Kuffah (Irak) belajar di Perpustakaan Iskandariah. Setelah itu, dia bekerja pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Atas sarannya, penguasa Bani Umayyah itu memindahkan pusat kajian kedokteran dari Iskandariah ke Antiokhia (perbatasan selatan Turki).

Secara garis besar, ilmu pengobatan Islam pada zaman keemasan mengembangkan lebih lanjut pencapaian-pencapaian dari berbagai peradaban yang datang sebelumnya, terutama Yunani Kuno, Persia, dan India.

Di Iran, pakar matematika Abu al-Wafa’ Buzjani (wafat 998) mengomentari Almagest karya Claudius Ptolemeus yang terbit di Iskandariah pada 140 SM. Komentar itu dituangkannya dalam buku berjudul al-Kamil. Untuk diketahui, kitab Almagest memaparkan astronomi kuno yang berhaluan geosentrisme (bumi sebagai pusat semesta).

Sementara itu, al-Kamil bereksplorasi lebih lanjut dengan mengoreksi teori gerak Bulan versi Ptolemeus, serta mengajukan gagasan bahwa Bumi dan planet-planet lainnya mengitari matahari (heliosentrisme). Beberapa penemuannya belakangan diklaim sejumlah ilmuwan Barat, antara lain Copernicus (1473-1543).

Geliat perkembangan Iskandariah sebagai kota riset dan perniagaan mendapatkan tantangan besar sejak serbuan pasukan Salib menjelang akhir abad ke-14. Meskipun berlangsung hanya beberapa hari, dampak yang ditimbulkannya cukup signifikan.

Ratusan orang tewas, sedangkan tidak kurang dari lima ribu penduduk setempat dipaksa menjadi budak. Serangan yang terkesan mendadak itu tidak diiringi pendirian rezim baru. Raja Peter yang memimpin balatentara Salib hanya pergi meninggalkan Iskandariah yang hancur lantaran ulahnya. [yy/republika]

 

Tags: Iskandariah | mesir