fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Menengok Muslim Uighur di China (1): Kashgar, Kota Sejuta Kambing

Menengok Muslim Uighur di China (1): Kashgar, Kota Sejuta KambingFiqhislam.com - Para wartawan Indonesia dan Malaysia diajak melihat pusat kerajinan tangan di pusat kota Kashgar, Xinjiang, China. Namun saat turun dari kendaraan, yang terlihat dan menarik perhatian malah banyak daging domba digantung dan siap untuk dimasak.

Menyusuri pusat kerajinan tangan di kota Kashgar, selain banyak toko menjual kerajinan tangan dari perak, alat musik Uyghur, baju dan topi berbulu, pisau, dan makanan khas Kasghar, ternyata banyak ditemui orang melakukan transaksi penjualan domba. Juga restoran yang menjual makanan dengan daging domba.

Restoran yang menyajikan daging domba juga tersebar di berbagai sudut kota. Di depan restorannya digantung domba yang sudah dikuliti dan siap untuk dimasak. Restoran shabu-shabu ala Tiongkok dan restoran China di hotel pun akan menyajikan daging domba.

"Masyarakat Kashgar yang mayoritas etnis Uyghur dan beragama Islam memang suka makan daging domba. Ada yang dibakar seperti sate, namun tusukannya panjang, mie ada daging domba, sup domba, martabak isinya daging domba, bahkan dinsum di sini pun isinya daging domba," kata Kaderya, pemandu turis kota Kashgar.

Pengaruh Islam

Menengok Muslim Uyghur di Cina (1): Kashgar, Kota Sejuta KambingKegemaran makan daging domba merupakan salah satu budaya masyarakat Kashgar yang dipengaruhi oleh Islam. Bukan itu saja pengaruh Islam di kota yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra (silk road). Bahasa dan arsitektur bangunan di kota Kashgar sangat dipengaruhi oleh budaya Islam.

Banyak gedung pertokoan, hotel, restoran dan perkantoran menuliskan nama dengan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab gundul, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris (huruf latin). Begitu juga dengan papan penunjuk jalan dan nama jalan dituliskan dalam tiga bahasa tersebut.

Kashgar adalah salah satu kota di propinsi Xinjiang, China, yang berbatasan dengan Kyrgyzstan, Afghanistan dan Pakistan yang memiliki peran strategis dalam jalur sutra – jalur perdagangan China, Asia tengah, hingga Eropa. Kashgar adalah pintu keluar masuk jalur perdagangan China dengan negara-negara Asia Tengah dan Eropa pada masa itu.


Menengok Muslim Uyghur di Cina (1): Kashgar, Kota Sejuta KambingWalaupun di bawah pemerintahan Tiongkok dan Partai Komunis China, namun pengaruh budaya Islam sangat kuat di Kashgar. "Rakyat China tidak ada libur pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, namun penduduk  Kashgar libur selama tiga hari," kata Imam Masjid Idkah, Ilma.

Karena mayoritas penduduknya muslim, pemerintah China memberikan otonomi kepada masyarakat kota Kashgar, dan juga propinsi Xinjiang. "Otonomi yang diberikan kepada kota Kashgar adalah boleh menegakan hukum sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat namun tidak bertentangan dengan UUD pemerintahan Beijing," tambah Ilma.

Oleh sebab itu, muslim di Kashgar boleh merayakan Idul Adha dan libur selama tiga hari. Ada sekolah khusus bahasa Uyghur yang menggunakan huruf Arab. Dan menggunakan huruf Arab pada papan nama perkantoran, restoran, pertokoan dan lain lainnya.

Antara
republika.co.id
Tags: Uighur | Kashgar