pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Ibnu Abbas, Teladan Para Penuntut Ilmu

Ibnu Abbas, Teladan Para Penuntut Ilmu

Fiqhislam.com - Siapa yang tak kenal Ibnu Abbas? Sahabat sekaligus sepupu Rasulullah ini bernama lengkap Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al Hasyimi. Berkat kepandaiannya, ia digelari al habru wal bahru (tinta dan lautan).

Terlepas dari doa Rasulullah untuk menganugerahinya keluasan ilmu, Ibnu Abbas adalah pemuda yang sangat bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Ketika Rasulullah wafat, Ibnu Abbas kecil baru berusia 13 tahun. Namun, ia tergolong sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah.

Sampai-sampai Umar bin Khathab berkata, "Seandainya Ibnu Abbas menyamai usia kami, maka tidak ada seorang pun di antara kami yang mampu menandinginya, walaupun hanya sepersepuluh ilmunya."

Ustadz Dwi Budiyanto dalam Prophetic Learning mengisahkan, bila ada berita tentang sebuah hadits pada salah satu sahabat Rasulullah, maka Ibnu Abbas akan segera mendatanginya meskipun sahabat itu sedang tidur siang.

Ibnu Abbas akan menunggu di depan pintu rumahnya, hingga kadang angin berhempus menerpa. Seandainya ia mengetuk pintu, tentu sahabat itu akan membukakan pintu untuknya. Tapi, Ibnu Abbas tidak melakukannya. Ia menanti hingga pemilik rumah bangun dan mendapatinya.

"Wahai putra paman Rasulullah, apa yang menggerakkanmu ke sini? Seandainya kau mengirim utusan pastilah aku akan datang," demikian seru tuan rumah heran.

Tapi, apa kata Ibnu Abbas? "Akulah yang harus datang sebab ilmu itu didatangi, bukan mendatangi."

Kesungguhan dan ketekunan dalam menuntut ilmu itulah yang patut dipelajari oleh Muslim, di tengah gempuran budaya serba instan. Ibnu Abbas tak mencukupkan diri tahu dari sumber kedua atau ketiga, tapi menemui langsung sumber pertama.

Ia pun tahu bagaimana mendudukkan posisi guru dan murid. Tidak serta merta karena sepupu Rasul lantas Ibnu Abbas memudahkan perkara. Ibnu Abbas memuliakan ilmu dengan mendatangi langsung sang guru, walau harus menunggu berjam-jam di tengah angin gurun yang berderu.

Rasul: Barang Siapa Menyakiti Abbas, Sama Saja Menyakitiku

''Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.''

Demikian sabda Rasulullah SAW tentang Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu anhu. Abbas adalah paman Rasul dan salah seorang yang paling dicintai Nabi.

Pada zaman jahiliyah, Abbas mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Ia pernah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam Baiat Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah.

Abbas adalah saudara bungsu ayah Nabi SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib. Ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah.

Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Pada waktu masih anak-anak, Abbas pernah hilang.

Sang ibu lalu bernazar, kalau putranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama kemudian, Abbas ditemukan, maka ia pun menepati nazarnya.

Abbas kemudian menikah dengan Lubabah binti Harits yang dikenal dengan sebutan Ummu Fadhl. Dalam sejarah Islam, Lubabah menjadi wanita kedua yang masuk Islam.

Lubabah masuk Islam pada hari yang sama dengan sahabatnya, Khadijah binti Khuwailid, yang tidak lain adalah istri Muhammad SAW. Abbas dan Lubabah adalah orang tua dari Al-Fadhl, Abdullah, Ubaidillah dan Qasim bin Abbas.

Pada tahun-tahun awal perjuangan Nabi SAW menyampaikan dakwah Islam, Abbas selalu melindungi Rasulullah dari orang-orang Quraisy yang hendak mencelakakan beliau. Walaupun pada saat itu, ia belum masuk Islam.

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar.

Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib, Abbas tetap tinggal di Makkah. Dia mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar.

Abbas, biasa juga dipanggil Abu Fadhl, pergi berhijrah ke Madinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah telah memberikan sebidang tanah kepadanya, berdekatan dengan tempat kediamannya.

Suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah dan memohon dengan penuh harap,''Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"

Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang. Namun Nabi SAW tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan.

Rasul tidak ingin pamannya dibebani tugas-tugas pemerintahan. "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan," kata Rasulullah.

Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah, tetapi malah Ali bin Abi Thalib yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"

Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali itu. Rasulullah kemudian bersabda kepadanya,"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."

Rasulullah adalah orang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah. Bahkan ia tidak diberi kesempatan dan harapan untuk mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.

yy/republika