21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

An-Nadhar Ibnul Harits, Pencari Tiga Jawaban

An-Nadhar Ibnul Harits, Pencari Tiga Jawaban

Fiqhislam.com - Dia termasuk salah seorang yang menentang dakwah Islam pada awal kemunculannya dan yang mengahalangi para pengikutnya.

Namanya dikenal sebagai An-Nadhar Ibnul Harits, salah seorang tokoh golongan kaum kaya Quraisy yang memegang kekuasaan di Kota Makkah. Dia memanfaatkan kekayaan dan kedudukannya untuk menindas para pengikut Nabi Muhammad.

Sepulangnya dari Persia untuk belajar kepada beberapa juru dongeng di kerajaan, di antaranya Rustam dan Isfandiar, an-Nadhar merasa terancam atas kehadiran Rasulullah. Di Makkah, dia melihat Rasulullah yang telah mengaku diutus Tuhan itu membacakan ayat-ayat Alquran yang menarik hati sebagian warga.

Jika Rasulullah berdakwah di suatu majelis menceritakan berita tentang orang terdahulu, an-Nadhar akan berkata, “Demi Allah, siapakah juru kisah yang paling bagus? Aku atau Muhammad?”

An-Nadhar dan kaum Quraisy lainnya kaget mengetahui dakwah Rasulullah yang semakin menyebar. Beberapa kabilah Arab sudah menjauhi berhalanya setelah didatangi Muhammad. Mereka kemudian menawarkan kedudukan dan harta berlimpah dengan syarat Rasulullah harus berdakwah dengan menghina tuhan-tuhan mereka dan mencerai-beraikan kesatuan kaum Quraisy. Tapi, Rasulullah menolaknya.

Sadar akan kegagalan tersebut, pemuka Quraisy kembali berkumpul mencari jalan lain untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. An-Nadhar berkata di hadapan para kaum Quraisy, seperti yang dikisahkan dalam sirah Ibnu Hisyam.

“Hai kaum Quraisy, demi Allah kalian benar-benar ditimpa suatu persoalan yang belum dapat kalian pecahkan. Dahulu, Muhammad hidup di tengah-tengah kalian sebagai seorang anak yang paling kalian senangi, yang paling berkata jujur, dan yang paling dipercaya.”

“Tatkala kalian melihat tanda-tanda kedewasaan di antara kedua pipinya dan membawa agama baru kepada kalian, lalu kalian berkata, dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir. Aku pernah melihat para tukang sihir, tiupan-tiupan mereka, dan buhul-buhulnya,” ujar an-Nadhar.

An-Nadhar melanjutkan pidatonya dengan kebencian yang jelas akan agama baru itu.

“Kalian juga berkata, dia adalah dukun. Demi Allah, dia bukan dukun. Aku pernah melihat para dukun dan perilakunya. Serta, kami juga mendengar jampi-jampinya,” kata an-Nadhar.

“Kalian juga mengatakan, dia adalah seorang penyair. Demi Allah, dia bukan seorag penyair. Kami telah melihat syair dan mendengar seluruh jenisnya, baik yang bermetrum hajaj maupun rujaz.”

“Kalian mengatakan bahwa dia itu orang gila. Demi Allah, dia bukan orang gila. Kita pernah melihat orang gila, perilakunya, racauannya, dan ketidakwarasannya. Hai Kaum Quraisy, renungkanlah persoalanmu. Demi Allah, kalian benar-benar mengalami persoalan yang besar,” tandas an-Nadhar.

Setelah berkata demikian, kaum Quraisy mengutus an-Nadhar bersama Uqbah bin Abi Mu'ith supaya menemui para pendeta Yahudi di Madinah. Tujuannya, untuk mendapatkan informasi dari para pendeta Yahudi mengenai sejarah nabi dan kaum terdahulu untuk mengonfirmasi kebenaran yang disampaikan oleh Muhammad sekaligus untuk mengetahui pendapat mereka terhadap Muhammad.

Berangkatlah an-Nadhar dan Uqbah ke Madinah dengan bergegas karena ingin segera mendapatkan informasi dari para pendeta atau penjelasan tentang apa yang dibawa oleh Muhammad.

Setelah tiba di perkampungan Yahudi, keduanya menjelaskan keberadaan Muhammad kepada para pendeta. Mereka menerangkan ciri-cirinya, menginformasikan sebagian perkataannya, serta menggambarkan kehidupannya.

Para pendeta Yahudi pun berkata. “Tanyakanlah kepadanya tentang tiga hal. Jika dia dapat menjawabnya, berarti dia seorang nabi yang diutus. Jika tidak menjawab, berarti dia hanya seorang yang mengada-ada dan mereka-reka sesuatu untuk akalmu,” kata para rabi Yahudi itu.

Pertanyaan pertama mengenai apa yang dialami oleh sekelompok pemuda yang pergi pada zaman dahulu dan memiliki kisah yang menakjubkan.

Lalu, kaum Quraisy Makkah juga diminta untuk menanyakan kepada Muhammad tentang seseorang yang telah berkeliling dunia hingga mencapai belahan timur dan barat. “Serta, tanyakanlah padanya tentang ruh. Apakah ruh itu?''

Manfaat silaturahim luar biasa, bisa mencairkan suasana yang tadinya membeku.

Dari yang tidak kenal dengan tetangga, kini mulai menjalin silaturahim, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan masyarakat.

“Meskipun perubahan yang dilakukan itu kecil, tapi tetap mempunyai nilai hijrah,” ujar Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU), Ahmad Sudrajat.

Ahmad yakin, bila semua orang melakukan hijrah sosial, tidak akan ada lagi yang namanya kemiskinan, putus sekolah, kesusahan, dan ketakutan. Justru hijrah sosial menciptakan kekuatan bagi umat Islam.

“Makanya, hijrah sosial tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama,” kata Ahmad. Langkah ini tidak mudah. Ada egoisme di sana, rendahnya sikap toleransi, dan kurangnya kesadaran memperkuat perubahan diri di masyakarat.

Menurutnya, ini bisa diatasi, antara lain, dengan menambah ilmu pengetahuan, memperluas wawasan, dan mau bergaul seluas-luasnya. Karena berbeda sekali pandangan antara orang-orang yang berilmu dengan tidak berilmu.

Mereka yang kaya ilmu justru semakin tawadu, tidak sombong, dan sangat menghormati orang lain. Makanya, umat Islam jangan pernah berhenti menuntut ilmu dan bergaul agar cakrawala wawasannya semakin luas.

Sayangnya, lanjut Ahmad, hijrah sosial belum dipahami secara totalitas oleh sebagian umat Islam. Padahal, bila hal ini dimengerti dan dilaksanakan dengan baik, maka niscaya mereka akan berlomba-lomba berhijrah. Ia memandang perlunya revitalisasi makna hijrah agar umat Islam memahami dan segera melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Doa Yang Terjawab
Pemuka Quraisy kehabisan akal untuk mematahkan argumen mengenai kenabian Muhammad.

Tiga pertanyaan penting mengenai kaum terdahulu dari para pendeta Yahudi berhasil dijawab Rasulullah dengan benar, walau terlambat 14 hari. Karena itu, tiada jalan lain untuk menghentikan aktivitas dakwah Rasulullah, selain dengan kekerasan.

Para pemuka Quraisy pun memikirkan rencana jahat lain untuk menghancurkan Rasulullah. Mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk bermusyawarah.

An-Nadhar membuka forum dengan berkata, ''Persoalan orang ini telah kalian rasakan. Demi Allah , kita tidak aman dari serangannya melalui para pengikutnya. Karena itu, satukanlah pandangan dalam menghadapinya.''

Pemuka Quraisy kemudian memilih seorang dari setiap kabilah, yaitu pemuda yang kuat, gagah, dan cakap. Kemudian masing-masing pemuda, diberi sebilah pedang. Mereka diinstruksikan untuk menyerang Rasulullah.

Namun, rencana itu gagal. Rasulullah dapat menyelinap menghindari para pemuda yang mengepung rumahnya, lalu beliau berhijrah ke Yatsrib, kota kaum Anshar.

Kegagalan tersebut dijawab Kaum Quraisy kembali dengan rencana jahat lainnya. Mereka tidak hanya mengusir Nabi dari kampung halamannya serta menyiksa penduduknya dan para pengikutnya.

Mereka bahkan menyiapkan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Rasulullah dan para pengikutnya. Tiga panji Kaum Quraisy dibawa oleh tiga orang dari Bani Abdud Dar, yaitu An-Nadhar, Aziz Ibnu Umair, dan Thalhah Ibnu Abi Thalhah.

Meletuslah Perang Badar. Dalam perang pertama antara kaum Muslim dan kaum Quraisy Makkah itu, kekalahan menimpa orang-orang Makkah. An Nadhar berhasil pun ditawan oleh Al-Miqdad Ibnul Aswad.

Rasulullah berkomentar mengenai nasib an-Nadhar. ''Dia pernah mengatakan tentang kitab Allah dengan ungkapan yang sama-sama telah kita ketahui,'' kata Nabi.

Kisah An-Nadhar ini diabadaikan Allah dalam Al-Quran. Setidaknya 10 ayat yang berkaitan dengan An-Nadhar diturunkan. Di antaranya adalah Surah Al-Furqaan ayat 5. ''Dan mereka  berkata dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.''

Penolakan an-Nadhar terhadap ajaran Islam juga diungkap dalam Surah An-Anfaal ayat 31-32. ''Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata, sesungguhnya kami telah mendengat ayat-ayat seperti ini. Kalau kamu menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seoerti ini. Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.”

“Dan ingatlah ketika mereka berkata, ya Allah, jika betul Alquran ini, dialah yang benar dari sisi engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit dan datangkanlah kepada kami azab yang pedih.''

Dalam Perang Badar itulah doa an-Nadhar akan turunnya azab itu terjawab. Dia mati terbunuh. [yy/republika]