fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

Mujahidah: Sumayyah binti Khubat, Syahid Mempertahankan Islam

Mujahidah: Sumayyah binti Khubat, Syahid Mempertahankan IslamFiqhislam.com - Islam menghargai perempuan. Berbeda dengan masa sebelum Islam, kaum hawa dianggap tidak berguna. Ibu dengan bayi perempuan dipandang sebagai aib. Tak sedikit bayi perempuan tak berdosa harus menemui ajalnya. Mereka dibunuh.

Pada masa Rasulullah, banyak bermunculan sosok-sosok perempuan luar biasa. Kehadiran mereka memberikan inspirasi luar biasa. Mereka tampil sebagai perempuan salehah, memiliki semangat juang ke medan perang, hingga berjihad demi menegakkan agama Allah. Pantaslah jika mereka mendapat balasan surga.

Muslimah yang beruntung berhak atas janji itu ialah Sumayyah binti Khubath. Sosok perempuan yang tegar, sabar, memiliki keimanan, dan keyakinan yang kuat mempertahankan akidah Islam. Bersama suaminya, Yasir bin Amir bin Malik, dan anaknya, Ammar bin Yasir, menghadapi cercaan dan siksaan dahsyat kafir Quraisy.

Diriwayatkan, orang-orang kafir Quraisy murka terhadap Sumayyah dan keluarganya akibat keteguhan iman mereka. Yasir disiksa hingga wafat mengenaskan. Sumayyah bergeming. Keimanannya semakin kuat.

Tiap siksaan yang dideranya, ia istikamah berujar, “Rabb kami adalah Allah.” Melihat penyiksaan itu, Rasulullah bersabda, “Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”

Sumayyah dengan ikhlas menjawab, “Sesungguhnya aku telah melihatnya (surga) dengan jelas, wahai Rasulullah.”

Doa juga pernah terlontar dari Rasulullah SAW untuk keluarga Sumayyah. Ammar mengadu siksaan pedih yang dialami kedua orang tua serta dirinya sendiri. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendapat siksaan yang sangat keras.”

Rasulullah SAW bersabda, “Bersabarlah, wahai Abul Yaqzhan (julukan lain bagi Ammar). Ya Allah, janganlah Engkau siksa seorang pun dari keluarga Yasir dengan api neraka.”

Gigih mempertahankan Islam membuat kemarahan para pemuka Quraisy memuncak. Terutama, pimpinan Quraisy, Abu Jahal. Ia tidak segan menyiksa dan menganiaya. Sumayyah menerima siksaan dengan tombak yang ditusukkan ke tubuhnya hingga meninggal.

Karena itu, ia didaulat sebagai Muslimah yang mati syahid pertama kali. Imam Mujahid berkata, “Syahid pertama dalam Islam ialah ibunda Ammar, Sumayyah. Ia ditikam Abu Jahal dengan menggunakan tombak, tepat di ulu hatinya.”

Taat suami
Summayah adalah budak yang dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Ia menikah dengan sahabat majikannya, Yasir bin Amir bin Malik, pria asal Yaman.

Suaminya tersebut datang ke Makkah bersama Al-Harits dan Malik dalam rangka menyambangi saudaranya. Selanjutnya, Harits dan Malik kembali ke Yaman sedangkan Yasir menetap di Makkah. Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak, Ammar.

Sumayyah tidak pernah dikenal di Makkah sebelum kedatangan Islam. Ia tak lebih dari perempuan besar dengan postur besar, usianya hampir senja. Ia sosok yang berbakti dan mengabdi kepada suami.

Kelebihan Sumayyah yang tidak dimiliki perempuan lainnya saat itu adalah kejernihan akal, keikhlasan jiwa, dan semangat tinggi. Modal itu membuatnya mudah menerima kebenaran risalah Islam.

Sumayyah menjadi perempuan pertama yang memeluk Islam. Ia termasuk pula ketujuh orang di golongan pertama masuk Islam bersama suami dan anaknya.

Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi di Siyar A’lam An-Nubala’ dari Abdullah bin Mas’ud, “Yang pertama kali menampakkan keislamannya secara terang-terangan ada tujuh orang, selain Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar, Yasir bin Malik, Ammar bin Yasir, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Al-Miqdad.”

Dihormati Rasulullah
Rasulullah menghormati sosok Sumayyah. Beliau sering menyebut namanya dengan keutamaan dan kebaikan. Kala Perang Badar, Rasulullah menyampaikan kabar gembira bagi orang baik yang mendapat kebaikan. Hal ini merupakan sapaan untuk Ammar karena Rasulullah SAW pernah bersabda kepadanya, “Selamat datang wahai orang baik yang mendapat kebaikan.”

Di dalamnya disebutkan juga nama Sumayyah. Peristiwa ini dikisahkan ketika Abu Jahal terbunuh di perang tersebut. Ketika itu, Rasulullah mengabarkan kepada Ammar dengan berkata, “Allah telah membunuh orang yang membunuh ibumu.”

Penghormatan ini tak lain karena kegigihan Sumayyah sekeluarga meneguhkan Islam. Saat sejumlah tokoh, termasuk Rasulullah, mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, dari serangan Quraisy, Sumayyah tidak mendapat perlindungan dari siapa pun. Mereka berjuang sendiri menanggung segala kenistaan yang dilakukan Abu Jahal.

Penghormatan Rasulullah SAW terhadap keluarga Yasir luar biasa. Kepada anaknya, Ammar, Rasulullah SAW memanggil dengan sebutan Ibnu Sumayyah. Panggilan yang diberkahi ini sebagai penghormatan terhadap sahabiyah (Sumayyah-Red) yang sabar dan baik.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika manusia saling berselisih maka Ibnu Sumayyah berada pada kebenaran’.”

Itulah Sumayyah. Perempuan yang pertama kali berikrar Islam dan syahid di jalan-Nya. Memberikan contoh hakikat sabar yang patut diikuti, khususnya generasi Muslimah.

republika.co.id