pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Nafisah binti Al-Hasan, Kezuhudan Cucu Rasul

Nafisah binti Al-Hasan, Kezuhudan Cucu Rasul

Fiqhislam.com - Kezuhudan dan kealimannya mendapat pengakuan banyak kalangan. Termasuk dari dua tokoh besar, Imam Syafi’i dan Hanbali.

Di jagad ilmu agama dan pengetahuan, namanya tersohor: Nafisah binti al-Hasan. Cucu Rasulullah SAW kelahiran Makkah 145 H itu mahir menguasai berbagai disiplin ilmu.

Tumbuh dan berkembang di Madinah, mencetaknya sebagai pribadi yang matang. Ia berhasil menghafal Alquran saat masih kecil. Ia pun belajar tafsir dan hadis hingga lihai di kedua bidang itu.

Ayahnya, Zaid bin al-Hasan, adalah gubernur Madinah ketika Khalifah Abu Ja'far al-Manshur berkuasa. Akibat persaingan politik, Zaid ditangkap dan diasingkan ke Baghdad.

Seluruh hartanya disita. Nafisah pun menyertai ayahandanya ke Baghdad. Zaid dinyatakan bebas saat Khalifah al-Mahdi naik takhta. Al-Mahdi mengembalikan kekayaan Zaid.

Bersama sang suami, Ishaq al-Mu'tamin bin Imam Ja'far as-Shadiq, tokoh yang bernama   lengkah Nafisah binti al-Hasan bin Zaid bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib itu pindah ke Madinah. Ia hidup dengan penuh kedamaian.

Di kota itu, ia mulai membuka kelas untuk belajar di rumahnya. Para pelajar berbondong-bondong ke rumahnya untuk mencari ilmu.

Ia berbagi banyak sanad hadis. Sering pula memberikan fatwa atas persoalan tertentu.  Atas prestasinya itu, ia mendapat gelar “Gudang Ilmu Pengetahuan”.

Pada 193 H, ia pindah ke Mesir ditemani oleh suami dan ayah tercinta. Penduduk Mesir menyambutnya dengan antusias. Kegembiraan tampak terpencar di raut wajah mereka. Ia tinggal di kediaman salah satu tokoh Mesir, Ibnu al-Jashsash, yang terletak di Fustat.

Di negeri piramida, Nafizah binti al-Hasan mendapatkan penghargaan yang luar biasa. Warga Mesir berduyun-duyun belajar kepadanya.

Sejumlah ulama senior pun turut menggali ilmu darinya secara langsung, di antaranya Imam Syafi’i. Ia sering menghadap ke ibu dari Qasim dan Ummu Kultsum tersebut.

Pertemuan antarkeduanya berlangsung secara terpisah di belakang pembatas ruangan. Diskusi mengalir tentang soal apa pun, mulai dari fikih, hadis, dan ibadah.

Intensitas dan frekuensi pertemuan itu menumbuhkan hubungan emosional yang kuat antara guru dan murid. Ketika Imam Syafi’i sakit parah, ia meminta Nafisah mendoakannya agar cepat sembuh.

Selang beberapa hari, peletak Mazhab Syafi’i itu wafat. Ia berwasiat supaya Nafisah berkenan menshalati jenazahnya. Ia memenuhi wasiat itu. Kepergian Syafi’i menjadi pukulan berat baginya.

Guru yang Zuhud

Nafisah sadar dan meyakini dunia fana. Ia pun berpaling darinya. Ia membaktikan diri sepenuhnya untuk Allah SWT. Ia menempuh jalan zuhud. Mengisi hari-harinya dengan beribadah; shalat malam dan berpuasa di siang hari.

Di sudut rumahnya, ia menggali tanah hingga menyerupai liang lahat. Di lubang itulah, ia shalat dan banyak menelaah Alquran. Seperti dikisahkan, ia membaca Alquran sebanyak 190 kali di lokasi itu.

Ketekunannya itu tak luput dari perhatian sang suami. Ia meminta agar Nafisah memerhatikan pula kondisi fisiknya. Ia tetap konsisten di jalannya. “Barang siapa yang beristiqamah bersama-Nya, maka alam semesta ada di genggaman dan akan menaatinya,” katanya.

Nafisah adalah sosok yang berhati-hati (wara'). Tak terkecuali soal makanan. Ia tidak pernah memakan apa pun kecuali dari harta suaminya. Ini berdampak pada kekuatan doa yang ia panjatkan. Doa nafisah terkenal mujarab.

Kezuhudan Nafisah binti al-Hasan tak lantas membuatnya antisosial.

Konon, Imam Ahmad bin Hanbal pernah sengaja meminta doanya. Satu per satu warga Mesir mulai menyadari kedudukan Nafisah.

Tiap hari mereka memadati rumah Nafisah. Ada yang ingin belajar, sebagiannya ingin mengharapkan doa.

Kondisi ini membuatnya resah. Ia semakin sulit beribadah. Waktunya tersita. Ia memutuskan meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Tak lama kabar itu terdengar oleh otoritas Mesir, Sirr al-Hakim, turun tangan.

Sang penguasa mencegah rencana tersebut. Sebagai solusi, tempat tinggal Nafisah dipindahkan di kawasan Darb as-Siba'. Jadwal kunjungan dibatasi hanya dua hari, yaitu Sabtu dan Rabu.

Kezuhudan tokoh yang telah berhaji sebanyak 30 kali ini tak lantas membuatnya antisosial. Ia adalah sosok yang peduli sesama, suka memberi, dan menolong mereka yang membutuhkan atau teraniaya. Ia pernah menolong seorang hartawan yang terampas haknya oleh pemerintah.

Ia menentang keras kezaliman tersebut dan berjuang agar hak tersebut dikembalikan. Perjuangannya terkabul. Hartawan itu akhirnya memberikan hadiah 100 ribu dirham sebagai ucapan terima kasih. Ia terima hadiah itu dan membagikannya untuk fakir miskin. Kendati begitu, ia sendiri hidup serba kekurangan.

Konsistensi terhadap jalan zuhud itu bertahan hingga ajalnya menjemput pada Ramadhan 208 H. Ia meninggal dalam kondisi berpuasa. Permintaan untuk membatalkan puasanya, tak ia gubris. Ia wafat dengan kemuliaan.

Ia membaca, ”Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS al-An'aam [6]: 127).

Dengan untaian kalimat syahadat, ia menghadap Allah SWT. Meninggalkan kisah keteladanan yang kekal dan mewangi. [yy/republika]