15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Akulturasi Islam dan Barat di Venesia

Akulturasi Islam dan Barat di Venesia

Fiqhislam.com - Ratusan tahun sebelum berjayanya kota-kota pelabuhan di Eropa Barat, Venesia telah berkembang menjadi pusat perdagangan laut antarbenua.

Aktivitas perdagangan itulah yang membuat kota di Italia bagian utara ini menjadi ajang akulturasi antara budaya Barat dan Timur. Adapun corak hubungan yang paling terlihat dari dunia Timur adalah hubungan Venesia dengan Islam.

Jika berkunjung ke Venesia saat ini, memang tak banyak jejak atau peninggalan Islam yang bisa dilihat di kota ini. Tapi, di sebuah tempat yang disebut Palazzo Zen tampak jelas jejak sejarah hubungan Venesia dengan dunia Islam.

Seorang penulis tentang budaya sejarah dan sains di Lembaga Keilmuan Smithsonian, Richard Covington, mengungkapkan, Palazzo Zen merupakan rumah salah satu keluarga bangsawan di Venesia.

Menurut Covington, tempat ini dahulu penuh dengan lukisan dinding yang menceritakan kontribusi keluarga Zen terhadap Republik Venesia dan perannya dalam perdagangan ke wilayah Timur. Kemakmuran Venesia, seperti halnya kiprah keluarga Zen, terkait erat dengan hubungan yang dibangun dengan dunia Islam setidaknya sejak abad kedelapan. Ketika itu, banyak pedagang dari Alexandria, Mesir, datang ke Venesia.

Pergaulan dengan para pedagang Muslim ini lambat laun berpengaruh pada budaya dan cara hidup warga Venesia. Mereka, misalnya, lebih memilih menjadi pedagang atau pengusaha ketimbang mendaftarkan diri untuk berperang membela pasukan Salib. Kala itu, Republik Venesia adalah pintu masuk untuk berbagai barang impor ke Eropa, terutama berbagai barang mewah dari Asia dan Timur Tengah, seperti karpet dan tekstil.

“Aktivitas dagang ini membuka pintu yang sangat lebar bagi Eropa untuk berinteraksi dengan budaya Islam dan menginspirasi mereka untuk menciptakan berbagai macam produk,” tulis Walter Denny, profesor seni dari Universitas Massachusetts dalam artikel berjudul Venesia dan Dunia Islam. Ia mengatakan, kota-kota besar dari dunia Islam, seperti Alexandria, Istanbul, atau Konstantinopel, Damaskus, Acra, Aleppo, Trebizond, dan Tabriz, saat itu memiliki konsul dagang di Venesia.

Konsul ini diisi orang-orang dari berbagai latar belakang keterampilan, mulai dari pedagang, dokter, tukang cukur, tukang roti, penjahit, hingga apoteker dan perajin perak.

Sedangkan, di wilayah Muslim, diplomat Venesia dan para pedagangnya bepergian ke seluruh dunia Islam, mulai dari Delta Nil, hingga ke Suriah, Konstantinopel, dan Azerbaijan.

Bagi Venesia, hubungan dagang dengan dunia Islam sangatlah penting. Bahkan, seperti ditegaskan Denny, tanpa bermitra dagang dengan Muslim, kejayaan Venesia tidak pernah ada. Tanpa menjalin hubungan dengan dunia Islam, Venesia hanyalah sebuah kampung nelayan.

Berkat kontribusi dunia Islam, Venesia berkembang menjadi kota maritim yang mampu mendominasi perdagangan di kawasan Mediterania sejak abad ke-12 hingga ke-16. Kala itu, sutra, rempah-rempah, karpet, keramik, mutiara, kristal, dan logam tiba di Venesia dari Timur.

Sebaliknya, barang-barang, seperti garam, kayu, linen, wol, beledu, dan amber tiba di kota-kota pelabuhan dunia Islam. Tak hanya mengangkut barang dagangan, kapal-kapal dari Venesia juga dimanfaatkan Muslim di Tunis, Djerba dan Alexandria untuk mengangkut para jamaah haji ke Makkah.

Pedagang dan penjelajah asal Venesia, Marco Polo, adalah salah satu tokoh yang menyebarkan informasi rinci mengenai dunia Timur ke Eropa. Lahir pada 15 September 1254, Marco Polo pernah mengunjungi Timur Tengah dan menelusuri Jalan Sutra. Ia pergi ke Cina pada masa pemerintahan Dinasti Mongol.

Marco Polo terkenal karena kisah-kisahnya yang sangat menarik dan aneh bagi bangsa Eropa pada masa itu. Dalam salah satu kisahnya, Marco Polo mengaku bertemu unicorn atau kuda bertanduk satu di Pulau Sumatra. Rupanya, yang ditemui Marco Polo bukanlah kuda bertanduk satu, melainkan badak Sumatra.

Tak hanya Marco Polo. Kisah-kisah menarik tentang dunia Timur juga diceritakan banyak pedagang dan petualang Venesia lainnya. Banyak dari mereka yang mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia Islam.

Seorang pemuda Venesia bernama Alessandro Magno membuat lukisan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim di Alexandria dan Kairo. Magno juga bercerita, banyak pemuda dan bangsawan Venesia yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar bahasa Arab.

Pusat penerbitan

Selain menjadi pusat perdagangan, Venesia saat itu juga merupakan pusat penerbitan di Eropa. Dari kota ini terbit banyak buku karya ilmuwan Muslim yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin ataupun Italia.

Menurut seorang kurator Italia, Stefano Carboni, salah satu yang paling populer adalah Canon Avicenna atau Kanun Ibnu Sina, buku referensi kedokteran yang sangat penting pada masa itu. Buku ini ditulis pakar kedokteran Islam, Ibnu Sina.

Karya lain yang laku keras adalah sebuah buku yang mengomentari pemikiran Aristoteles dari filsuf Muslim asal Kordoba, Averros atau Ibnu Rusyd. Bahkan, sebuah penerbit buku lokal telah mencetak dan menerbitkan Alquran pada 1537.

Sayangnya, Alquran terjemahan itu penuh dengan kesalahan dan terbitan edisi pertama itu gagal total. Tapi, yang patut dicatat, langkah pertama yang gagal tersebut telah menginspirasi terbitnya terjemahan Alquran ke dalam bahasa Italia pada 1547.

“Hingga abad ke-15 dan seterusnya, penerbit buku di Venesia telah mencetak berbagai risalah Islam di bidang kedokteran, filsafat, astronomi, dan matematika,” jelas Giandomeico Romanelli, direktur Museum Correr di Venesia.

Museum Correr merupakan salah satu museum di dunia yang menyimpan berbagai karya seni dan budaya Islam. ‘’Venesia adalah engsel yang menyatukan dunia Timur dan Barat,” kata Romanelli.

Ia berpendapat, kunci keberhasilan perdagangan Venesia saat itu adalah tidak pernah menganggap diri mereka sebagai pesaing. “Ketika dunia Islam membutuhkan perluasan bisnis, Venesia membuka ruang itu dengan mengambil sikap lebih toleran dalam hal agama,’’ katanya.

Demikian pula ketika ratusan tahun bangsa Eropa memusuhi Muslim melalui Perang Salib, sambung Romanelli, Venesia tetap menjalin hubungan dagang dengan kaum Muslim.

Begitu pun, ketika Vatikan membatasi perdagangan dengan umat Islam, Venesia mengambil sikap berbeda. Venesia menolak larangan perdagangan itu dengan diam-diam melakukan perdagangan dengan kaum Muslimin melalui Pulau Siprus dan Kreta.

Dari Istana Doge Hingga Caffe Florian

Sejumlah tempat di Venesia secara jelas menunjukkan eratnya hubungan kota ini dengan dunia Islam pada masa lalu.

Sejarawan dari Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan, jika ingin melihat beberapa peninggalan Islam di Venesia maka berdirilah di alun-alun yang berada di depan Basilika Santo Markus. Di salah satu sisi alun-alun ini, terdapat Istana Doge. Bangunan megah bertingkat tiga ini meniru gaya Masjid Ibnu Tulun di Kairo.

Desain eksterior istana ini juga memiliki kemiripan dengan aula pengadilan dan Masjid Sultan al-Nasir Muhammad di Kairo. Hal itu karena salah seorang utusan Venesia pada saat itu, Nicolo Zen, membawa pulang gambar karya-karya arsitektur di Kairo setelah kunjungannya ke Mesir pada 1344.

Tak jauh dari istana itu, berdiri gagah Torredell ‘Orologio, menara jam raksasa yang pembuatannya terinspirasi dari risalah tentang kinerja robotika karya ilmuwan Muslim, Al-Jazari.

Sejarawan Muslim Ibnu Jubayr menyebutkan, jam yang sama mekanismenya telah dibuat di Masjid Agung di Damaskus. Di belakang jam raksasa itu terdapat Caffe Florian, sebuah tempat yang mirip dengan rumah kopi di Istanbul, Turki.

Dari depan Basilika Santo Markus, melangkahlah ke Grand Canal. Di salah satu sisi Grand Canal ini terdapat galeri Accademia yang penuh dengan karya referensi dari para cendekiawan Muslim.

Selain Istana Doge, ada dua istana lain di Venesia yang kental dengan nuansa Islam, yakni Istana Ca’Dario dan Istana Ca’d’Oro. Pembangunan Istana Ca’Dario berawal dari kekaguman diplomat Venesia, Giovanni Dario, saat melakukan misi ke Kairo pada abad ke-15.

Konon, ia terkagum-kagum pada kemegahan Istana Amir Bashtak al-Nasiri. Seperti halnya Istana Ca’Dario, Istana Ca’d’Oro pun sarat dengan sentuhan gaya arsitektur Mesir.

Oleh Amri Amrullah
yy/republika.co.id