18 Muharram 1444  |  Selasa 16 Agustus 2022

basmalah.png

Berkat Jasa Budak, Islam Menyebar di Guyana

Berkat Jasa Budak, Islam Menyebar di Guyana

Fiqhislam.com - Seperti kebanyakan negara Amerika Selatan, Islam menyebar ke Guyana melalui perdagangan budak. Muslim Mandingo dan Fulani dibawa dari Afrika Barat untuk bekerja sebagai budak di perkebunan gula Guyana.

Namun, kondisi perbudakan yang ditindas koloni tersebut menyebabkan praktik Islam hilang sampai 1838 ketika 240 ribu orang Asia Selatan dibawa dari India modern, Pakistan, dan Afghanistan.

Setelah kemerdekaan Guyana dari Inggris pada 1966, Guyana membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab seperti Mesir, Irak, dan Libya. Negara-negara tersebut membuka kedutaan besar di ibu kota Georgetown.

Beberapa pemuda Muslim pergi ke Arab Saudi, Mesir dan Libya untuk belajar teologi Islam dan bahasa Arab. Pada 1996, Presiden Guyana Cheddi Jagan melakukan kunjungan ke Suriah, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Lebanon dan menunjuk seorang utusan Timur Tengah.

Pada tahun yang sama, Guyana secara resmi menjadi anggota  tetap dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dan pada 1998, Guyana menjadi negara bagian OKI yang ke-56.

 

Berkat Jasa Budak, Islam Menyebar di Guyana

Fiqhislam.com - Seperti kebanyakan negara Amerika Selatan, Islam menyebar ke Guyana melalui perdagangan budak. Muslim Mandingo dan Fulani dibawa dari Afrika Barat untuk bekerja sebagai budak di perkebunan gula Guyana.

Namun, kondisi perbudakan yang ditindas koloni tersebut menyebabkan praktik Islam hilang sampai 1838 ketika 240 ribu orang Asia Selatan dibawa dari India modern, Pakistan, dan Afghanistan.

Setelah kemerdekaan Guyana dari Inggris pada 1966, Guyana membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab seperti Mesir, Irak, dan Libya. Negara-negara tersebut membuka kedutaan besar di ibu kota Georgetown.

Beberapa pemuda Muslim pergi ke Arab Saudi, Mesir dan Libya untuk belajar teologi Islam dan bahasa Arab. Pada 1996, Presiden Guyana Cheddi Jagan melakukan kunjungan ke Suriah, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Lebanon dan menunjuk seorang utusan Timur Tengah.

Pada tahun yang sama, Guyana secara resmi menjadi anggota  tetap dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dan pada 1998, Guyana menjadi negara bagian OKI yang ke-56.

 

Guyana Jamin Kebebasan Beragama Umat Islam

Guyana Jamin Kebebasan Beragama Umat Islam


Guyana Jamin Kebebasan Beragama Umat Islam


Fiqhislam.com - Republik Kooperatif Guyana, dahulu bernama Guyana Britania, adalah sebuah negara di pesisir utara Amerika Selatan. Guyana merupakan satu-satunya negara di kawasan itu yang menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa resminya.

Nama Guyana bisa jadi asing di telinga sebagian kalangan, tetapi berbicara soal Islam di negara yang berbatasan dengan Suriname di sebelah timur, Brasil di selatan, Venezuela di barat, dan Samudera Atlantik di utara ini, tentu tak kalah menarik. Islam merupakan agama terbesar ketiga di Guyana setelah agama Kristen dan Hindu. Sekitar 63 persen penduduknya beragama Kristen.

Menurut sensus 2002, sebanyak 7,3 persen dari populasi negara tersebut beragama Islam. Namun, survei Pew Research menunjukkan temuan yang berbeda. Pada 2010 lembaga riset terkemuka yang berpusat di Amerika Serikat ini memperkirakan sebanyak 6,4 persen populasi negara tersebut adalah Muslim.

Meski Muslim adalah komunitas minoritas, mereka tetap mendapatkan hak dan jaminan beragama. Konstitusi Guyana menjamin kebebasan beragama. Dan dalam praktiknya, pemerintah pada umumnya menghormati hak ini.

Di negara ini relatif tidak ditemukan laporan pelanggaran atau diskriminasi masyarakat yang dilakukan berdasarkan kepercayaan atau praktik keagamaan. Para tokoh masyarakat  mengambil langkah positif untuk mempromosikan kebebasan beragama.

Kendati demikian, secara politik, posisi umat Islam di Guyana masih lemah. Sampai 1994, umat Islam sempat tidak memiliki hak suara di Guyana. Padahal, kontribusi warga Muslim di negara ini sangat besar terhadap sektor sosio-ekonomi. Meskipun sekarang mereka sudah mengantongi hak memilih, keterwakilan umat Islam di pemerintahan masih kurang.

Sedangkan, di bidang sosial kemasyarakatan, keagamaan, dan pendidikan, aktivitas umat Islam bebas berperan. Kegiatan mereka banyak terwadahi di berbagai organisasi. Organisasi Islam Pusat Guyana (CIOG) adalah organisasi Islam tertua di Guyana. Mereka aktif dalam bidang sosial dan membantu yatim piatu.

Selain CIOG, terdapat Guyana Islamic Trust (GIT). GIT adalah organisasi nirlaba yang telah berdiri sejak 1978. GIT telah mendedikasikan dirinya pada proses membawa peningkatan intelektual, moral, dan spiritual kepada individu, keluarga, dan masyarakat di Guyana.

Tujuan utama mereka adalah di bidang pendidikan karena organisasi percaya ketidaktahuan adalah akar penyebab intoleransi, rasisme, amoralitas, dan kriminalitas yang dapat merusak tatanan masyarakat Guyana dan dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut, Guyana Islamic Trust memiliki 14 cabang administrasi.

Para Muslimah Guyana juga memiliki wadah tersendiri untuk beraktualisasi. Salah satunya adalah Asosiasi Perempuan Islam Nasional (NISA). NISA memiliki beberapa program kerja yang diperuntukkan bagi perempuan Guyana.

Di antaranya program yang berfokus mempromosikan ajaran dan nilai-nilai Islam di kalangan perempuan Guyana, menghidupkan kembali praktik Alquran dan sunah dalam kehidupan Muslimah, memberikan bantuan, mengadvokasi nilai-nilai keluarga Islam dan hak-hak yang diberikan oleh Islam kepada perempuan dalam proses reorganisasi kehidupan Islam di Guyana, memberikan konseling dalam pekerjaan dan keterampilan untuk peningkatan peran perempuan serta melaksanakan kegiatan penggalangan dana.

 

Pendidikan Islam di Guyana

Pendidikan Islam di Guyana


Pendidikan Islam di Guyana


Fiqhislam.com - Geliat pendidikan Islam di Guyana juga tak kalah semarak. The Guyana Islamic Institute (GII) tetap menjadi salah satu pusat pembelajaran Islam terkemuka di Karibia.

Sejak didirikan pada 1986, sejumlah siswa dari Guyana dan Karibia telah lulus dari berbagai kursus termasuk Bahasa Arab, Ilmu Alquran dan studi Islam. Banyak dari lulusan ini menjadi dai dan melayani umat di Guyana, Karibia, Amerika Utara, dan belahan dunia lainnya.

GII terus mengarahkan dan membekali murid-muridnya menjadi dai di komunitas masing-masing dan melanjutkan studi di institusi pembelajaran yang lebih tinggi. Sehingga, para lulusan GII memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang konsep-konsep Islam dalam kehidupan, kematian, dan akhirat.

Ilmu tersebut harus mengilhami mereka dalam perilaku, sikap, dan kemurahan hati yang akan mendorong umat Islam memperbaiki diri dan menghormati non-Muslim.

Pihak GII fokus mendidik muridnya agar memiliki pemahaman Islam berdasarkan Alquran dan sunah. GII juga menawarkan sumber daya dan kesempatan pelatihan bagi umat Islam untuk memperbaiki pemahaman dan praktik Islam mereka. [yy/republika]