fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Ramadhan 1442  |  Rabu 12 Mei 2021

Kenapa Imam Muslim Tidak Meriwayatkan Hadits dari Imam Bukhari

penulisan hadits

Fiqhislam.com - Imam Muslim bin Hajjaj (206-261 Hijriyah) sangat hormat terhadap Imam Al-Bukhari (Muhammad bin Ismail). Termasuk dalam keilmuan, Imam Muslim banyak terinspirasi dan mengikuti apa yang dilakukan Imam Bukhari, sang ulama ahlihadits.

Ketika Imam Al-Bukhari berusia 56 (tahun 250 H) saat menetap di Naisabur (Iran), Imam Muslim menjadi murid setianya. Imam Muslim sangat memuliakan Imam Al-Bukhari sehingga ingin mencium tangan dan kaki gurunya. Imam Muslim berkata: "Biarkanlah saya mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, tuannya para ahli hadits dan dokternya hadits dan illatnya".

Saat terjadi fitnah terhadap Imam Al-Bukhari tentang lafaz Al-Qur'an adalah makhluk, maka Imam Muslim termasuk ulama yang keras membela gurunya. Meskipun berguru kepada Imam Al-Bukhari, tapi ternyata Imam Muslim tak pernah meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Kenapa bisa begitu? Apakah Imam Muslim tak percaya kualitas periwayatan dari Imam Al-Bukhari? Atau ada alasan lain? Berikut keterangan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim".

Ustaz Hanif menjelaskan tentang rentang waktu pertemuan antara Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sejarah mencatat bahwa Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur, tempat menetapnya Imam Muslim sebanyak dua kali. Pertama adalah tahun 209 H, tempat Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur di usia Imam Bukhari 15 tahun dan Imam Muslim ketika itu masih berusia 4 tahun.

Karena jarak umur itu, sangat mustahil Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhari saat itu. Kedua adalah tahun 250 H, saat Imam Bukhari menetap dan mengajarkan ilmu hadits kepada Imam Muslim selama lima tahun di Kota Naisabur.

Beberapa tahun setelahnya, Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H. Kita bisa memahami bahwa tahun 250 H adalah tahun kedatangan kedua Imam Bukhari di Kota Naisabur dan di tahun yang sama pulalah Imam Muslim telah menyelesaikan karya Kitab Shahih Muslim.

Imam Muslim memulai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim pada tahun 235 H. Ia menulis Shahih Muslim di umur 29 tahun dan menyelesaikannya pada tahun 250 H, tepatnya ia menyelesaikan karya monumentalnya di umur 44 tahun. Imam Muslim membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikan Shahih Muslim. Di tahun itu pula Imam Muslim baru benar-benar berguru kepada Imam Bukhari.

Jadi, sangat wajar jika Imam Muslim tidak menuliskan sanad hadits dari Imam Bukhari di dalam Kitab Shahih Muslim. Hal itu karena pertemuan keduanya sebagai guru dan murid, Imam Muslim telah selesai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim. Inilah salah satu faktor mengapa Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun, banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari. Maka Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, akan tetapi mengambil dari gurunya Imam Al-Bukhari. [yy/sindonews]