5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Kenapa Imam Muslim Tidak Meriwayatkan Hadits dari Imam Bukhari

penulisan hadits

Fiqhislam.com - Imam Muslim bin Hajjaj (206-261 Hijriyah) sangat hormat terhadap Imam Al-Bukhari (Muhammad bin Ismail). Termasuk dalam keilmuan, Imam Muslim banyak terinspirasi dan mengikuti apa yang dilakukan Imam Bukhari, sang ulama ahlihadits.

Ketika Imam Al-Bukhari berusia 56 (tahun 250 H) saat menetap di Naisabur (Iran), Imam Muslim menjadi murid setianya. Imam Muslim sangat memuliakan Imam Al-Bukhari sehingga ingin mencium tangan dan kaki gurunya. Imam Muslim berkata: "Biarkanlah saya mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, tuannya para ahli hadits dan dokternya hadits dan illatnya".

Saat terjadi fitnah terhadap Imam Al-Bukhari tentang lafaz Al-Qur'an adalah makhluk, maka Imam Muslim termasuk ulama yang keras membela gurunya. Meskipun berguru kepada Imam Al-Bukhari, tapi ternyata Imam Muslim tak pernah meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Kenapa bisa begitu? Apakah Imam Muslim tak percaya kualitas periwayatan dari Imam Al-Bukhari? Atau ada alasan lain? Berikut keterangan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim".

Ustaz Hanif menjelaskan tentang rentang waktu pertemuan antara Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sejarah mencatat bahwa Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur, tempat menetapnya Imam Muslim sebanyak dua kali. Pertama adalah tahun 209 H, tempat Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur di usia Imam Bukhari 15 tahun dan Imam Muslim ketika itu masih berusia 4 tahun.

Karena jarak umur itu, sangat mustahil Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhari saat itu. Kedua adalah tahun 250 H, saat Imam Bukhari menetap dan mengajarkan ilmu hadits kepada Imam Muslim selama lima tahun di Kota Naisabur.

Beberapa tahun setelahnya, Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H. Kita bisa memahami bahwa tahun 250 H adalah tahun kedatangan kedua Imam Bukhari di Kota Naisabur dan di tahun yang sama pulalah Imam Muslim telah menyelesaikan karya Kitab Shahih Muslim.

Imam Muslim memulai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim pada tahun 235 H. Ia menulis Shahih Muslim di umur 29 tahun dan menyelesaikannya pada tahun 250 H, tepatnya ia menyelesaikan karya monumentalnya di umur 44 tahun. Imam Muslim membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikan Shahih Muslim. Di tahun itu pula Imam Muslim baru benar-benar berguru kepada Imam Bukhari.

Jadi, sangat wajar jika Imam Muslim tidak menuliskan sanad hadits dari Imam Bukhari di dalam Kitab Shahih Muslim. Hal itu karena pertemuan keduanya sebagai guru dan murid, Imam Muslim telah selesai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim. Inilah salah satu faktor mengapa Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun, banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari. Maka Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, akan tetapi mengambil dari gurunya Imam Al-Bukhari. [yy/sindonews]

 

penulisan hadits

Fiqhislam.com - Imam Muslim bin Hajjaj (206-261 Hijriyah) sangat hormat terhadap Imam Al-Bukhari (Muhammad bin Ismail). Termasuk dalam keilmuan, Imam Muslim banyak terinspirasi dan mengikuti apa yang dilakukan Imam Bukhari, sang ulama ahlihadits.

Ketika Imam Al-Bukhari berusia 56 (tahun 250 H) saat menetap di Naisabur (Iran), Imam Muslim menjadi murid setianya. Imam Muslim sangat memuliakan Imam Al-Bukhari sehingga ingin mencium tangan dan kaki gurunya. Imam Muslim berkata: "Biarkanlah saya mencium kedua kakimu wahai gurunya para guru, tuannya para ahli hadits dan dokternya hadits dan illatnya".

Saat terjadi fitnah terhadap Imam Al-Bukhari tentang lafaz Al-Qur'an adalah makhluk, maka Imam Muslim termasuk ulama yang keras membela gurunya. Meskipun berguru kepada Imam Al-Bukhari, tapi ternyata Imam Muslim tak pernah meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Kenapa bisa begitu? Apakah Imam Muslim tak percaya kualitas periwayatan dari Imam Al-Bukhari? Atau ada alasan lain? Berikut keterangan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim".

Ustaz Hanif menjelaskan tentang rentang waktu pertemuan antara Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sejarah mencatat bahwa Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur, tempat menetapnya Imam Muslim sebanyak dua kali. Pertama adalah tahun 209 H, tempat Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur di usia Imam Bukhari 15 tahun dan Imam Muslim ketika itu masih berusia 4 tahun.

Karena jarak umur itu, sangat mustahil Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhari saat itu. Kedua adalah tahun 250 H, saat Imam Bukhari menetap dan mengajarkan ilmu hadits kepada Imam Muslim selama lima tahun di Kota Naisabur.

Beberapa tahun setelahnya, Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H. Kita bisa memahami bahwa tahun 250 H adalah tahun kedatangan kedua Imam Bukhari di Kota Naisabur dan di tahun yang sama pulalah Imam Muslim telah menyelesaikan karya Kitab Shahih Muslim.

Imam Muslim memulai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim pada tahun 235 H. Ia menulis Shahih Muslim di umur 29 tahun dan menyelesaikannya pada tahun 250 H, tepatnya ia menyelesaikan karya monumentalnya di umur 44 tahun. Imam Muslim membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikan Shahih Muslim. Di tahun itu pula Imam Muslim baru benar-benar berguru kepada Imam Bukhari.

Jadi, sangat wajar jika Imam Muslim tidak menuliskan sanad hadits dari Imam Bukhari di dalam Kitab Shahih Muslim. Hal itu karena pertemuan keduanya sebagai guru dan murid, Imam Muslim telah selesai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim. Inilah salah satu faktor mengapa Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Al-Bukhari.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Imam Muslim memang belajar pada Imam Bukhari dan banyak mendapatkan faedah ilmu darinya. Namun, banyak guru dari Imam Muslim yang juga merupakan guru dari Imam Bukhari. Maka Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, akan tetapi mengambil dari gurunya Imam Al-Bukhari. [yy/sindonews]

 

Ahli Hadits Kelahiran Naisabur

Imam Muslim, Ulama Ahli Hadits Kelahiran Naisabur


Fiqhislam.com - Bagi kaum muslimin, nama Imam Muslim sudah tidak asing lagi. Beliau dikenal sebagai ulama ahli hadits setelah Imam Al-Bukhari. Nama lengkap beliau adalah Imam Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Warad bin Kausyaz Abu Al-Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi.

Imam Muslim adalah satu dari banyak ulama ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits shahih dan valid dari Nabi Muhammad Nabi صلى الله عليه وسلم. Nama kitab beliau yang mahsyur adalah Shahih Muslim.

Kegigihan Imam Muslim dalam mencari hadits, mengumpulkan, menuliskannya dan memilah mana yang shahih dan lemah dari Nabi dikagumi banyak ulama dan penuntut ilmu. Berikut biografi singkat Imam Muslim sebagaimana disampaikan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim".

Ustaz Hanif menyebutkan, An-Naisaburi merupakan nisbah terhadap tempat kelahiran beliau yaitu Kota Naisabur, bagian dari Khurasan yang sekarang manjadi bagian dari negara Iran arah timur laut. Kota ini dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, politik, dan perekonomian. Sedangkan Khurasan, menurut Imam Dzahabi dalam kitabnya al-Amshar Dzawatu al-Atsar adalah tempat berputarnya hadits dan berkumpulnya orang-orang mulia. Karena di sana merupakan salah satu tempat diperolehnya sanad 'ali (hadits dengan jalur periwayat yang pendek).

Kelahiran Imam Muslim

Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ada yang menyebut beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H di Naisabur, sehingga usia beliau pada saat wafat adalah 55 tahun. Hal ini sebagaimana dikatakan Abu Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitab Ulama Al-Amshar, juga disetujui An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (123/1).

Namun, pendapat lain menyebut beliau lahir tahun 204 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqribut Tahdzib (529), Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah (35-34/11), al-Khazraji dalam Khulashoh Tahdzibul Kamal mengatakan bahwa Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H, atau tepat di tahun Imam Syafi'i wafat.

Hidup di Era Abbasiyah

Imam Muslim lahir pada 206 Hijriyah dan wafat pada tahun 261 Hijriyah. Beliau hidup pada masa daulah Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad. Beliau hidup pada masa Abbasiyyah II yaitu khalifah Mutawakkil (232-334 H/847-946 M). Pada masa itu, keadaan politik dan militer mengalami kemerosotan, namun dalam bidang ilmu pengetahuan mengalami kemajuan signifikan.

Bahkan sampai abad ke-4 Hijriyah daulah Islamiyah mencapai zaman keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ilmu hadits. Keadaan itu dikarenakan negara-negara bagian daulah Islam berlomba-lomba dalam memberi penghargaan atau kedudukan terhormat kepada para ulama dan para pujangga. Namun, pada masa itu situasi politik memanas lantaran munculnya berbagai macam kelompok dan gerakan-gerakan.

Gerakan politik berselimut agama bermunculan, baik yang mendukung pemerintah maupun oposisi di antaranya syiah, khawarij, mu'tazilah. Pada awal abad ke-3 Hijriyah dipegang oleh Khalifah al-Makmun (wafat 218 H) yang pendapatnya sama dengan kaum Mu'tazilah, maka ulama hadits menghadapi ujian berat kala itu. Inilah keadaan yang tidak menguntungkan bagi ulama Hadits abad ini tetap berlanjut pada masa Khalifah al-Mu'tashim (wafat 227 H) dan al-Wasiq (wafat 232 H).

Barulah pada waktu khalifah al-Muwakkil mulai memerintah pada 232 H, ulama hadits mendapat angin segar yang menyenangkan. Sebab, khalifah ini memiliki kecintaan terhadap Hadits Nabi. Keadaan itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan Hadits. Di masa ini banyak juga bermunculan pemalsu hadits. Hal ini pun mendorong ulama termasuk Imam Muslim untuk mempelajari ilmu hadits. Beliau belajar, mencari hadits, menyeleksi dan menghimpunnya.

Belajar hadits Sejak 12 Tahun

Al-Hafidz Adz-Dzahabi menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu sekitar 12 atau 14 tahun. Beliau melakukan perjalanan dalam mencari ilmu ke beberapa wilayah dalam rangka menuntut ilmu hadits dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya.

Imam Muslim termasuk di antara ulama yang menghidupi dirinya dengan berdagang. Beliau adalah seorang pedagang pakaian yang sukses. Meski demikian, beliau tetap dikenal sebagai sosok dermawan. Beliau juga memiliki sawah-sawah di daerah Ustu yang menjadi sumber penghasilan keduanya.

Menulis Shahih Muslim Sejak Usia 29 Tahun

Imam Muslim bin Hajjaj memulai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim pada tahun 235 H. Ia menulis Shahih Muslim di umur 29 tahun. Imam Muslim bin Hajjaj menyelesaikan Shahih Muslim pada tahun 250 H. Imam Muslim membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikan Shahih Muslim.

Beliau menyelesaikan karya monumentalnya di umur 44 tahun. Sejarah mencatat bahwa Imam Al-Bukhari singgah di Kota Naisabur, tempat menetapnya Imam Muslim sebanyak dua kali. Pertama adalah tahun 209 H, tempat Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur di usia Imam Bukhari berumur 15 tahun dan Imam Muslim ketika itu masih berumur empat tahun.

Karena jarak umur itu, sangat mustahil Imam Muslim bin Hajjaj berguru kepada Imam Al-Bukhari saat itu. Kedua adalah tahun 250 H, saat Imam Bukhari menetap dan mengajarkan ilmu hadits kepada Imam Muslim selama lima tahun di Kota Naisabur. Beberapa tahun setelahnya, Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H.

Tahun 250 H adalah tahun kedatangan kedua Imam Bukhari di Kota Naisabur dan tahun yang sama, Imam Muslim telah menyelesaikan karya Kitab Shahih Muslim. Inilah salah satu alasan kenapa Imam Muslim tak mengambil hadits dari Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya.

Imam Muslim Wafat

Imam Muslim wafat Tahun 261 H pada usia 55 tahun Hijriyyah. Disebutkan bahwa wafatnya beliau karena sakit. Sakit beliau dimulai karena suatu ketika beliau tak bisa menjawab permasalah hadits.

Beliau pulang ke rumah, menyalakan lampu kamarnya dan memerintahkan anggota keluarganya untuk tidak mengganggunya ketika di kamar. Beliau diberi sekeranjang kurma. Sambil memikirkan jawaban permasalahan hadits yang sulit itu, beliau memakan kurma sampai habis tanpa disadari sampai pagi.

Sampai akhirnya beliau jatuh sakit. Beliau wafat hari Ahad sore. Kemudian dimakamkan pada malam Seninnya tanggal 25 Rajab Tahun 261 H di Kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur. [yy/sindonews]