15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Syajaratud Dur, Sang Ratu Adil

Syajaratud Dur, Sang Ratu Adil Fiqhislam.com - Siapa bilang budak identik dengan kulit hitam, tak rupawan, dan minim wawasan. Budak yang satu ini mengantongi sifat kesempurnaan. 
Wajahnya cantik, kulitnya putih, kecerdasan dan intelektualitasnya fenomenal. Terampil membaca sekaligus menulis. 
Satu lagi, ia mahir bersenandung. Daya tarik itu memikat hati penguasa Dinasti Ayubiyah Raja Shalih Najmuddin Ayyub untuk mempersuntingnya.
Perempuan itu ialah Syajarattud Dur. Tokoh berjuluk “pelindung agama” dan Ummu Khalil ini bersama sejumlah punggawa Dinasti Mamluk berhasil mengusir tentara Salib dari Bumi Kinanah. 
Meski hanya 80 hari memimpin mesir, di bawah otoritasnya ia mampu mengharumkan namanya. Terutama, kepiawaiannya mengatur pemerintahan saat situasi negara tengah genting. 
Dengan sigap, pascakematian sang suami pada 1249 M ia mengambil alih sementara kepempinan. Keputusannya cukup cermat mengingat pada saat yang sama Perang Salib ke-VII tengah berkecamuk.
Pasukan Salib beranjak memasuki tepi Timur Sungai Nil di kawasan Dimyath. Mereka hendak melakukan agresi atas komando militer di Mansoura. Ia tak tenggelam dalam kesedihan. Dengan kecerdikannya, ia menyimpan kabar kematian sang Sultan.
Tindakan ini diambil untuk menghindari dampak negatif atas psikologi para tentara. Secara diam-diam, ia memerintahkan serdadunya untuk membawa jenazah suaminya dengan perahu menunju Benteng Raudhah di Kairo.
Untuk memberi kesan kondisi sang Sultan normal, ia memerintahkan para dokter berpura-pura melakukan pengobatan seperti biasanya. Ia pun beraktivitas seolah-olah sang raja masih hidup; membawa obat-obatan dan makan. 
Administrasi kenegaraan pun diproses seperti biasa. Soal taktik peperangan, ia menunjuk Gubernur Fakhruddin sebagai komando perang tertinggi. Pada masa kekosongan itu, ia telah berhasil mengendalikan keadaan. Pasukan Salib berhasil dipukul mundur.
Hingga, putra mahkota Sultan Najamuddin Ayyub Tauran Syah tiba dan menggantikannya pada 27 Februari 1250. Namun sayang, sikap dan kebijakan putra mahkota justru mencedarai harapan dan nurani rakyat Mesir. 
Tauran Syah bersikap otoriter dan suka berfoya-foya. Ia tamak kekuasaan. Meski, akhirnya ia harus terjatuh dan terbunuh akibat syahwat politiknya tersebut.
Gaya kepemimpinan Syajaratud Dur sangat memukau. Ia sosok pemimpin yang peduli dan peka terhadap permasalahan rakyatnya. 
Kepemimpinan Mesir kembali kosong. Para gubernur dan pejabat pemerintahan lalu membaiat kembali Syajaratud Dur. 
Ia akhirnya menjadi pemimpin perempuan di Mesir. Ini adalah prestasi luar biasa. Sekalipun ia bukanlah pionir pemimpin perempuan. 
Radhiyah ad-Din memimpin Kesultanan Delhi pada 1236-1240 M dan Arwa binti Ahmad Ash-Shalihi yang memimpin Yaman pada 1098-1138 M. Gaya kepemimpinan Syajaratud Dur sangat memukau. 
Ia sosok pemimpin yang peduli dan peka terhadap permasalahan rakyatnya. Seringkali, ia memberikan santunan rutin pada kaum dhuafa. Pemimpin yang berjuluk al-Musta'shimiyyah ash-Shalihiyah Malikatul Muslimin Walidah Khalil Amir al-Mukminin itu bersikap egaliter.
Ia tak bersikap otoriter. Tiap keputusan yang diambil telah ia musyawarahkan terlebih dahulu dengan para penasihat dan menterinya. Kehidupan masyarakat berjalan dinamis di bawah kekuasaannya. 
Puisi dan syair berkembang pesat. Muncul penyair terkemuka, seperti Bahauddin Zahir, Jamuluddin bin Mathruh, dan Fakhruddin bin as-Syaikh.  
Ia mengusung semangat perdamaian. Kebijakan yang pertama kali ia tempuh ialah mengadakan kesepakatan damai dengan Louis IX. Raja Prancis itu konon tertangkap di Mansoura. 
Kesepakatan yang muncul dari pertemuan mereka ialah, mereka akan dilepaskan dengan syarat tidak akan kembali lagi melancarkan agresi ke Mesir.
Lengser 
Namun, kondisi perpolitikan saat itu tidak stabil. Meskipun prestasi yang ia torehkan cukup gemilang, oposisi terus menggoyang kursi kepemimpinannya, baik dari dalam ataupun luar negeri. 
Kekacuan domestik meletus saat warga Mesir turun ke jalan dan memprotes kepimpinan seorang perempuan. Unjuk rasa itu menolak Mesir dipimpin oleh sosok perempuan.
Mereka berdalih, Islam tidak memperbolehkan perempuan memimpin negara. Salah satu tokoh Muslim yang keras menyuarakan isu itu ialah  Imam Izzuddin bin Abdussalam. Sementara, pendukung Dinasti Ayubiyah di Syam menuntut kematian Tauran Syah diusut. 
Belum lagi, penolakan keras dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang tidak rela para budak bercokol dan berkuasa di Mesir. Ia pun akhirnya lengser dan digantikan oleh Izzuddin Aybaik. Pada 1257 M, ia meninggal dunia akibat konspirasi politik . [yy/republika]