11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Soedirman, Sang Jenderal Saleh Nan Zuhud

Soedirman, Sang Jenderal Saleh Nan Zuhud

Fiqhislam.com - Soedirman tidak cuma dikenal sebagai panglima besar. Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam dan menjadi teladan bagi generasi muda bangsa Indonesia.

Haedar menerangkan, Soedirman memang berdakwah di kalangan anak muda, baik di Pemuda Muhammadiyah maupun Hizbul Wathan. Kemudian, Soedirman selalu menjadi guru dan rujukan dalam hal agama dan spiritualitas.

Bahkan, nilai-nilai sufismenya kuat sampai muncul imajinasi beliau tidak bisa ditangkap Belanda, yang tentu karena tauhidnya begitu kuat. Jadi, tidak keliru kalau disebut jenderal yang ulama, pemimpin perang gerilya yang zuhud.

Namun, di Muhammadiyah keulamaan dan atribut ustaz atau kiai tidak jadi idiom yang masif. Tapi, ilmu agama yang tertanam di diri Soedirman itu menyatu dengan kecerdasan dan pengkhidmatannya untuk selalu membela yang lemah.

"Itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan amalnya. Lebih dari itu, cinta dan bela Tanah Airnya melebihi segalanya," kata Haedar.

Inilah sisi keulamaan dari keilmuan serta fondasi keimanan yang ada di diri Soedirman. Poin pentingnya bagi elite bangsa saat ini, belajarlah dari Soedirman mulai dari nilai-nilai spiritual yang zuhud dan saleh.

Terlebih, kezuhudan dan kesalehan itu memancarkan ahlak yang agung. Jangan malah meletakkan nilai-nilai spiritualitas seakan eksklusif sebagai bagian keagamaan umat Islam, tapi bagian dari sumber nilai berbangsa dan bernegara.

Kedua, kekuatan prinsip dalam berbangsa, bernegara, dan berjuang. Biar keadaan begitu menderita, Soedirman tetap tidak menyerah atas agresi yang ada. Ketiga, nilai pengorbanan luar biasa Soedirman.

Ketika sekarang muncul egoisme elite, egoisme kelompok, bahkan orang jadi sangat gigih memperjuangkan kepentingannya, harus belajar kepada Soedirman. Keempat, jangan salah gunakan negeri ini dan jangan salah arahkan negeri ini.

"Karena betapa berkorbannya para pendiri dan pejuang bangsa seperti Soedirman, yang harus menanggung segala derita demi tegaknya NKRI," ujar Haedar.

Terakhir, Haedar berpesan agar verbalisme cinta bangsa dan cinta Tanah Air tidak boleh berhenti di retorika dan idiom jargon. Tapi, harus masuk dalam jiwa, pikiran, dan tindakan.

Tujuannya, tidak lain harus untuk sungguh-sungguh membela bangsa dan negara. Membela dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari luar, untuk lahirnya Indonesia yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam.

Mengapa Soedirman? Mengapa bukan tokoh militer lain yang lebih senior untuk menjadi panglima besar tentara? Saat itu, menurut sejarawan Universitas Indonesia Anhar Gonggong, ada tiga basis militer di tentara republik.

Pertama adalah Pembela Tanah Air (PETA), kedua adalah Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), dan ketiga adalah laskar-laskar perjuangan milik organisasi masyarakat. Sudah banyak muncul tokoh-tokoh militer. Sebut saja Oerip Soemohardjo (kepala staf umum tentara), Gatot Soebroto, Didi Kartasasmita, dan Jatikusumo. Namun, angin keberuntungan memihak pemuda yang belum genap 30 tahun tersebut untuk menjadi pemimpin tentara rakyat.

Panglima Tentara Keamanan Rakyat yang resmi dan sudah ditunjuk pemerintah saat itu adalah Soepriyadi. Soepriyadi dikenal sebagai pemimpin gerakan pemberontakan PETA di Madiun. Masalahnya, sejak ditunjuk sampai dengan merdeka, dan situasi tentara dalam krisis kepemimpinan, Soepriyadi ini tidak pernah tampil. Belakangan diduga ia tewas terbunuh oleh tentara Jepang.

Pemerintah Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Soetan Syahrir pun meminta harus ada pertemuan seluruh pemimpin tentara untuk menentukan masa depan mereka. Agendanya soal reorganisasi tentara dan agenda sisipan memilih pemimpin tentara. Pertemuan digelar pada 12 November 1945 di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta.

Hadir selain dari kelompok militer di situ adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sunan Pakubuwono XII, dan Mangkunegoro X. Wakil wilayah dalam pertemuan itu agak pincang. Tercatat, hanya Jawa Barat dan Jawa Tengah yang lengkap perwakilannya.

Jawa Timur absen sebab di tengah serbuan tentara Inggris dan Belanda dalam perang 10 November. Perwakilan Sumatra hanya mengirimkan Kolonel Mohammad Noeh, yang mengklaim mewakili enam divisi. Tidak ada wakil dari Kalimantan dan Sulawesi.

Anhar mengatakan, saat itu berdasarkan kalkulasi rasional, kemungkinan Oerip menjadi panglima jauh melampaui Soedirman. Apalagi, Oerip diutus langsung oleh pemerintah untuk mengorganisasi divisi-divisi perang di Jawa dan Sumatra. Oerip unggul dari segi senioritas, kemampuan pengorganisasian, dan kepangkatan sebagai letnan jenderal.

"Soedirman pangkatnya hanya kolonel dan baru beberapa tahun menjadi tentara PETA," kata Anhar saat diwawancarai, pekan lalu. [yy/republika]

Oleh Wahyu Suryana

 

Soedirman, Sang Jenderal Saleh Nan Zuhud

Fiqhislam.com - Soedirman tidak cuma dikenal sebagai panglima besar. Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam dan menjadi teladan bagi generasi muda bangsa Indonesia.

Haedar menerangkan, Soedirman memang berdakwah di kalangan anak muda, baik di Pemuda Muhammadiyah maupun Hizbul Wathan. Kemudian, Soedirman selalu menjadi guru dan rujukan dalam hal agama dan spiritualitas.

Bahkan, nilai-nilai sufismenya kuat sampai muncul imajinasi beliau tidak bisa ditangkap Belanda, yang tentu karena tauhidnya begitu kuat. Jadi, tidak keliru kalau disebut jenderal yang ulama, pemimpin perang gerilya yang zuhud.

Namun, di Muhammadiyah keulamaan dan atribut ustaz atau kiai tidak jadi idiom yang masif. Tapi, ilmu agama yang tertanam di diri Soedirman itu menyatu dengan kecerdasan dan pengkhidmatannya untuk selalu membela yang lemah.

"Itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan amalnya. Lebih dari itu, cinta dan bela Tanah Airnya melebihi segalanya," kata Haedar.

Inilah sisi keulamaan dari keilmuan serta fondasi keimanan yang ada di diri Soedirman. Poin pentingnya bagi elite bangsa saat ini, belajarlah dari Soedirman mulai dari nilai-nilai spiritual yang zuhud dan saleh.

Terlebih, kezuhudan dan kesalehan itu memancarkan ahlak yang agung. Jangan malah meletakkan nilai-nilai spiritualitas seakan eksklusif sebagai bagian keagamaan umat Islam, tapi bagian dari sumber nilai berbangsa dan bernegara.

Kedua, kekuatan prinsip dalam berbangsa, bernegara, dan berjuang. Biar keadaan begitu menderita, Soedirman tetap tidak menyerah atas agresi yang ada. Ketiga, nilai pengorbanan luar biasa Soedirman.

Ketika sekarang muncul egoisme elite, egoisme kelompok, bahkan orang jadi sangat gigih memperjuangkan kepentingannya, harus belajar kepada Soedirman. Keempat, jangan salah gunakan negeri ini dan jangan salah arahkan negeri ini.

"Karena betapa berkorbannya para pendiri dan pejuang bangsa seperti Soedirman, yang harus menanggung segala derita demi tegaknya NKRI," ujar Haedar.

Terakhir, Haedar berpesan agar verbalisme cinta bangsa dan cinta Tanah Air tidak boleh berhenti di retorika dan idiom jargon. Tapi, harus masuk dalam jiwa, pikiran, dan tindakan.

Tujuannya, tidak lain harus untuk sungguh-sungguh membela bangsa dan negara. Membela dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari luar, untuk lahirnya Indonesia yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam.

Mengapa Soedirman? Mengapa bukan tokoh militer lain yang lebih senior untuk menjadi panglima besar tentara? Saat itu, menurut sejarawan Universitas Indonesia Anhar Gonggong, ada tiga basis militer di tentara republik.

Pertama adalah Pembela Tanah Air (PETA), kedua adalah Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), dan ketiga adalah laskar-laskar perjuangan milik organisasi masyarakat. Sudah banyak muncul tokoh-tokoh militer. Sebut saja Oerip Soemohardjo (kepala staf umum tentara), Gatot Soebroto, Didi Kartasasmita, dan Jatikusumo. Namun, angin keberuntungan memihak pemuda yang belum genap 30 tahun tersebut untuk menjadi pemimpin tentara rakyat.

Panglima Tentara Keamanan Rakyat yang resmi dan sudah ditunjuk pemerintah saat itu adalah Soepriyadi. Soepriyadi dikenal sebagai pemimpin gerakan pemberontakan PETA di Madiun. Masalahnya, sejak ditunjuk sampai dengan merdeka, dan situasi tentara dalam krisis kepemimpinan, Soepriyadi ini tidak pernah tampil. Belakangan diduga ia tewas terbunuh oleh tentara Jepang.

Pemerintah Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Soetan Syahrir pun meminta harus ada pertemuan seluruh pemimpin tentara untuk menentukan masa depan mereka. Agendanya soal reorganisasi tentara dan agenda sisipan memilih pemimpin tentara. Pertemuan digelar pada 12 November 1945 di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta.

Hadir selain dari kelompok militer di situ adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sunan Pakubuwono XII, dan Mangkunegoro X. Wakil wilayah dalam pertemuan itu agak pincang. Tercatat, hanya Jawa Barat dan Jawa Tengah yang lengkap perwakilannya.

Jawa Timur absen sebab di tengah serbuan tentara Inggris dan Belanda dalam perang 10 November. Perwakilan Sumatra hanya mengirimkan Kolonel Mohammad Noeh, yang mengklaim mewakili enam divisi. Tidak ada wakil dari Kalimantan dan Sulawesi.

Anhar mengatakan, saat itu berdasarkan kalkulasi rasional, kemungkinan Oerip menjadi panglima jauh melampaui Soedirman. Apalagi, Oerip diutus langsung oleh pemerintah untuk mengorganisasi divisi-divisi perang di Jawa dan Sumatra. Oerip unggul dari segi senioritas, kemampuan pengorganisasian, dan kepangkatan sebagai letnan jenderal.

"Soedirman pangkatnya hanya kolonel dan baru beberapa tahun menjadi tentara PETA," kata Anhar saat diwawancarai, pekan lalu. [yy/republika]

Oleh Wahyu Suryana

 

Rahasia Kehebatan Jenderal Soedirman: Menjaga Wudhu

Rahasia Kehebatan Jenderal Soedirman: Menjaga Wudhu


Fiqhislam.com - Selain dikenal karena semangatnya yang pantang menyerah, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah. Hal itu pun tergambar dari bekas kediamannya yang telah diubah menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman. Museum tersebut terletak di Jalan Bintaran Wetan, Pakualaman, Yogyakarta. 

Sajadah dan krekel yang ia gunakan untuk beribadah masih tertata rapi di kamar tidurnya. Tempat shalat itu diletakkan tepat di samping tempat tidurnya yang ada di museum.

Sajadah dan Krekal yang digunakan Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk mengaji.

Kepala Museum Sasmitaloka Panglima Jenderal Besar Soedirman, Heru Santoso, mengatakan, ada tiga kehebatan Soedirman dalam beribadah berdasarkan sejarah. Pertama, Soedirman merupakan sosok yang selalu menjaga kesuciannya dengan berwudhu. Kedua, saat wudhunya batal, ia akan berwudhu kembali. Bahkan, jika tidak dalam masuknya waktu shalat pun, ia tetap akan berwudhu.

Ketiga, Soedirman selalu menjaga menjaga wudhunya. Saat mendengar suara adzan, ia pun langsung melaksanakan shalat dalam keadaan apa pun.

"Beliau siap setiap saat untuk shalat, tidak ada nanti-nanti. Beliau adalah seseorang yang taat beribadah," kata Heru kepada Republika, Selasa (15/1).

Hery menambahkan, saat memimpin perang gerilya pun, Soedirman tidak pernah menunda untuk beribadah, termasuk dalam kondisi sakit. Saat bergerilya, Soedirman pun memerintahkan kepada ajudannya untuk membawa kendi yang berisi air. Air tersebut ia gunakan untuk berwudhu ketika saat perang gerilya. 

Soedirman juga sempat beberapa kali hampir tertangkap oleh Belanda saat mempertahankan kemerdekaan. Namun, sebelum tertangkap, ia pun berhasil menghindari hal tersebut. 

"Nalurinya kuat sekali akan keberadaan musuh. Misalkan ia merasakan sebentar lagi tidak aman, ia langsung bergerak. Saat di Wonosari, misalnya, baru bergerak 200 meter, langsung ada musuh. Mungkin karena beliau dekat dengan Tuhan," kata Heru menambahkan.

Untuk mempertingati hari kelahiran dan meninggalnya Soedirman, Museum Sasmitaloka punya acara rutin yang diisi oleh keturunan Panglima Besar. "Peringatan biasanya diawali shalat Isya berjamaah dan dilanjutkan bacaan Yasin dan doa, diakhiri dengan tausiyah tentang Islam, biasanya sama anak bungsunya, Pak Teguh. Juga ada pemberian santunan untuk yatim dan masjid," ujar Heru. [yy/republika]

Oleh Silvy Dian Setiawan

 

Soedirman Selalu Hargai dan Perhatikan Pendapat Orang

Soedirman Selalu Hargai dan Perhatikan Pendapat Orang


Fiqhislam.com - Sejak kecil  Soedirman mempunyai kepribadian yang kuat.  Eyang dari Soedirman ( ayah dari Raden Tjokrosoenarjo ) yang merupakan Patih di Cilacap pernah mengatakan bahwa cucunya bakal menjadi Senopatine perang . Sehingga Soedirman diberi warisan oleh eyangnya berupa iket wulung.

"Jadi sejak kecil Pak Dirman sudah digadang-gadang oleh eyang Pak Dirman dan saya mendapatkan cerita ini dari yang mengasuh Pak Dirman waktu kecil yang bernama Bu Markoyo. Saya sempat bertemu Bu Markoyo di tahun 1970 waktu saya masih mahasiswa. Bu  Markoyo juga cerita bahwa Pak Dirman putra kandung dari Tjokrosoenarjo," ungkap putra bungsu Panglima Besar Jenderal Soedirman uola, Ir. M. Teguh Soedirman, pada Republika.co.id

Walaupun Pak Dirman anak dari seorang asisten wedana, tetapi tidak pernah mengunggul-unggulkan orangtuanya. Dia selalu rendah hati  tetapi  aktif dalam  organisasi  seperti Muhammadiyah. Ketika zaman pendudukan Jepang , Soedirman yang menikah di usia 20 tahun (1936),  bergabung dengan  PETA  (Pembela Tanah Air) di Bogor dan begitu tamat pendidikan ia langsung diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya Cilacap. Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran melawan pasukan Jepang, Soedirman  berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas.Ia  kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V Banyumas dengan pangkat kolonel.

Karena senang membaca sejarah, Soedirman menggunakan sistem yang digunakan oleh raja-raja seperti Sultan Agung dan Diponegoro, seperti sapit urang saat memimpin pertempuran sengit melawan tentara sekutu di Palagan Ambarawa . Sehingga mampu menggiring musuh. 

Palagan Ambarawa ini merupakan peperangan terbesar di Indonesia dan diakui bangsa lain karena tidak mendapat bantuan apa-apa. Karena kepiawaiannya, Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Jenderal Soedirman dan pada waktu pemilihan Panglima Jenderal Soedirman secara aklamasi semua komandan divisi menerima Pak Dirman sebagai Panglima Besar Jenderal Soedirman  meskipun tidak melalui akademi militer maupun pendidikan lain.

Namun Pak Dirman saat itu tidak langsung menerima. Ia minta pendapat keluarga khususnya Bu Dirman sebagai isterinya dan Nyai Ahmad Dahlan yang waktu itu sebagai sesepuh. Hubungan keluarga Pak Dirman dengan keluarga KH Ahmad Dahlan dekat. Pak Dirman tanya kepada ibu setuju tidak, dan kalau tidak setuju pak Dirman tidak mau ditunjuk sebagai Panglima Besar Jenderal Sudirman. Jawaban ibu,  "Ya terserah kalau sudah menjadi kewajiban Mas (red. Soedirman), keluarga mendukung," cerita Teguh.

Waktu Pak Dirman perang gerilya dalam Agresi militer II Belanda , Pak Dirman minta kerelaan Bu Dirman dan minta sangu. Padahal waktu itu Pak Dirman dalam keadaan sakit dan Presiden Soekarno meminta ia  tinggal di kota Yogyakarta.

"Ibu memberikan semua harta emasnya . Semula Pak Dirman tidak mau karena harta emas itu milik isterinya. Tetapi kata ibu, "Apa yang saya miliki juga menjadi milik Mas. Apalagi Mas dalam kondisi sakit, dan di medan perang perlu banyak kebutuhan,"" cerita Teguh.

'Panglima Besar Tidak Pernah Sakit'

Meskipun Pak Dirman dalam kondisi sakit parah, tetapi karena kondisi negara membutuhkan Pak Dirman ya tetap berangkat, berjuang, walaupun sudah dihalang-halangi .

Dengan tegas Pak Dirman berkata, "Tidak bisa karena Belanda sudah berulang-ulang ingkar janji. Kalau kita dijajah, tidak bisa apa-apa lagi. Ini mumpung kita masih bisa bergerak. Makanya  waktu itu Presiden Soekarno berkata, Pak Dirman kan dalam kondisi sakit, kok mau mempimpin perang gerilya?  Lalu pak Dirman menjawab, "Yang sakit itu Soedirman sedangkan Panglima Besar tidak pernah sakit. Oleh karena itu saya minta ijin Panglima tertinggi  untuk memimpin perang gerilya. Jika panglima tertinggi tidak berkenan memimpin perang gerilya,  saya bertanggungjawab dengan jabatan saya," cerita Teguh.

Menurut Teguh, tanggungjawab Pak Dirman sebagai sebagai pemimpin  yang meskipun sakit tetap berjuang dan negara tidak punya uang, mengorbankan keluarganya, berjuang pakai uang sakunya sendiri demi bangsa dan negara dan apa yang dicita-citakan yakni tidak ingin Indonesia dijajah lagi. Selain itu, kata Teguh menambahkan, Pak dirman selalu menghargai, memperhatian dan menerima usulan atau pendapat anak buah maupun orang lain.

Setelah ditampung usulan anak buah atau orang lain, Pak Dirman yang menentukan dan memilih mana yang bisa dipakai. Teguh mengungkapkan, ayahnya pernah berkata kepada ibundanya, meski pendapat itu misalnya dari tukang sapu sekalipun, tetapi  baik dan bisa untuk mempertahankan Indonesia mengapa tidak kterima.

"Karena  sebagai seorang pimpinan bisa menentukan mana yang baik dan buruk. Tentara yang pernah ikut Pak Dirman menganggap putra-putri Pak Dirman seperti adiknya, karena mereka merasa sebagai putra Pak Dirman juga. Tetapi apakah sekarang diterapkan oleh para pimpinan?", tanyanya.

"Saya sering menangis sendiri, kok seperti itu ya kebanyakan pemimpin sekarang  butuh menangnya sendiri untuk kepentingan sendiri. Saya rasa kalau semua menerapkan seperti  yang diarahkan Pak Dirman  negara ini bisa aman tenteran, semua bisa menghargai dan menerima pendapat orang, kecuali kalau ada yang nyleneh misalnya dalam agama, harus kita peringatkan dan kembalikan ke relnya," ungkap Teguh yang mengaku tidak punya rumah dan sekarang tinggal bersama kakaknya di rumah tabon (red. rumah keluarga besar yang dulu ditinggali ibunya). [yy/republika]