9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Soedirman, Sang Jenderal Saleh Nan Zuhud

Soedirman, Sang Jenderal Saleh Nan Zuhud


Fiqhislam.com - Soedirman tidak cuma dikenal sebagai panglima besar. Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam dan menjadi teladan bagi generasi muda bangsa Indonesia.

Haedar menerangkan, Soedirman memang berdakwah di kalangan anak muda, baik di Pemuda Muhammadiyah maupun Hizbul Wathan. Kemudian, Soedirman selalu menjadi guru dan rujukan dalam hal agama dan spiritualitas.

Bahkan, nilai-nilai sufismenya kuat sampai muncul imajinasi beliau tidak bisa ditangkap Belanda, yang tentu karena tauhidnya begitu kuat. Jadi, tidak keliru kalau disebut jenderal yang ulama, pemimpin perang gerilya yang zuhud.

Namun, di Muhammadiyah keulamaan dan atribut ustaz atau kiai tidak jadi idiom yang masif. Tapi, ilmu agama yang tertanam di diri Soedirman itu menyatu dengan kecerdasan dan pengkhidmatannya untuk selalu membela yang lemah.

"Itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari trilogi iman, ilmu, dan amalnya. Lebih dari itu, cinta dan bela Tanah Airnya melebihi segalanya," kata Haedar.

Inilah sisi keulamaan dari keilmuan serta fondasi keimanan yang ada di diri Soedirman. Poin pentingnya bagi elite bangsa saat ini, belajarlah dari Soedirman mulai dari nilai-nilai spiritual yang zuhud dan saleh.

Terlebih, kezuhudan dan kesalehan itu memancarkan ahlak yang agung. Jangan malah meletakkan nilai-nilai spiritualitas seakan eksklusif sebagai bagian keagamaan umat Islam, tapi bagian dari sumber nilai berbangsa dan bernegara.

Kedua, kekuatan prinsip dalam berbangsa, bernegara, dan berjuang. Biar keadaan begitu menderita, Soedirman tetap tidak menyerah atas agresi yang ada. Ketiga, nilai pengorbanan luar biasa Soedirman.

Ketika sekarang muncul egoisme elite, egoisme kelompok, bahkan orang jadi sangat gigih memperjuangkan kepentingannya, harus belajar kepada Soedirman. Keempat, jangan salah gunakan negeri ini dan jangan salah arahkan negeri ini.

"Karena betapa berkorbannya para pendiri dan pejuang bangsa seperti Soedirman, yang harus menanggung segala derita demi tegaknya NKRI," ujar Haedar.

Terakhir, Haedar berpesan agar verbalisme cinta bangsa dan cinta Tanah Air tidak boleh berhenti di retorika dan idiom jargon. Tapi, harus masuk dalam jiwa, pikiran, dan tindakan.

Tujuannya, tidak lain harus untuk sungguh-sungguh membela bangsa dan negara. Membela dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari luar, untuk lahirnya Indonesia yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Soedirman lekat dengan karakter yang taat kepada Islam.

Mengapa Soedirman? Mengapa bukan tokoh militer lain yang lebih senior untuk menjadi panglima besar tentara? Saat itu, menurut sejarawan Universitas Indonesia Anhar Gonggong, ada tiga basis militer di tentara republik.

Pertama adalah Pembela Tanah Air (PETA), kedua adalah Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), dan ketiga adalah laskar-laskar perjuangan milik organisasi masyarakat. Sudah banyak muncul tokoh-tokoh militer. Sebut saja Oerip Soemohardjo (kepala staf umum tentara), Gatot Soebroto, Didi Kartasasmita, dan Jatikusumo. Namun, angin keberuntungan memihak pemuda yang belum genap 30 tahun tersebut untuk menjadi pemimpin tentara rakyat.

Panglima Tentara Keamanan Rakyat yang resmi dan sudah ditunjuk pemerintah saat itu adalah Soepriyadi. Soepriyadi dikenal sebagai pemimpin gerakan pemberontakan PETA di Madiun. Masalahnya, sejak ditunjuk sampai dengan merdeka, dan situasi tentara dalam krisis kepemimpinan, Soepriyadi ini tidak pernah tampil. Belakangan diduga ia tewas terbunuh oleh tentara Jepang.

Pemerintah Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Soetan Syahrir pun meminta harus ada pertemuan seluruh pemimpin tentara untuk menentukan masa depan mereka. Agendanya soal reorganisasi tentara dan agenda sisipan memilih pemimpin tentara. Pertemuan digelar pada 12 November 1945 di Markas Tinggi TKR di Gondokusuman, Yogyakarta.

Hadir selain dari kelompok militer di situ adalah Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sunan Pakubuwono XII, dan Mangkunegoro X. Wakil wilayah dalam pertemuan itu agak pincang. Tercatat, hanya Jawa Barat dan Jawa Tengah yang lengkap perwakilannya.

Jawa Timur absen sebab di tengah serbuan tentara Inggris dan Belanda dalam perang 10 November. Perwakilan Sumatra hanya mengirimkan Kolonel Mohammad Noeh, yang mengklaim mewakili enam divisi. Tidak ada wakil dari Kalimantan dan Sulawesi.

Anhar mengatakan, saat itu berdasarkan kalkulasi rasional, kemungkinan Oerip menjadi panglima jauh melampaui Soedirman. Apalagi, Oerip diutus langsung oleh pemerintah untuk mengorganisasi divisi-divisi perang di Jawa dan Sumatra. Oerip unggul dari segi senioritas, kemampuan pengorganisasian, dan kepangkatan sebagai letnan jenderal.

"Soedirman pangkatnya hanya kolonel dan baru beberapa tahun menjadi tentara PETA," kata Anhar saat diwawancarai, pekan lalu. [yy/republika]

Oleh Wahyu Suryana

Tags: Soedirman | Saleh | Zuhud