21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Mualaf Megan Lovelady, Bertahun-tahun Merasa Tersesat Secara Spiritual dan Emosional

Mualaf Megan Lovelady, Bertahun-tahun Merasa Tersesat Secara Spiritual dan Emosional

Fiqhislam.com - Penduduk Canterbury, Selandia Baru merasa terpanggil untuk memeluk Islam dan menjadi Muslim setelah serangan masjid di Christchurch. Tidak ada angka resmi nasional tentang Muslim di sini tetapi indikator menunjukkan minat yang meningkat untuk memeluk Islam.

Dilansir dari rnz.co beberapa hari lalu, banyak penduduk yang telah mengunjungi masjid dan mengambil Alquran atau literatur lainnya. Di daerah Manawatu mereka menyiapkan database untuk lebih mendukung mualaf baru.

"Dalam beberapa minggu setelah serangan itu, tiga hingga lima orang setiap hari telah berpindah agama di sebuah masjid di Wellington. Untuk satu bulan lagi setelah itu hanya satu atau dua hari," kata anggota Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru Imam Nizamul Haq Thanvi.

Kemudian, ia melanjutkan di Manawatu telah bertemu dengan enam mualaf dan telah mendengar lebih banyak lagi. Di Otago, mereka kehabisan bahan pada hari buka baru-baru ini dan sedang merencanakan hari lain sementara masjid Auckland juga melaporkan lebih banyak pengunjung.

Sementara itu, Penduduk Canterbury, Megan Lovelady yang berusia 22 tahun mengaku secara teratur menghadiri kajian di Masjid Al Noor, salah satu dari dua lokasi masjid pada serangan 2019 lalu. Megan bingung tentang kehidupan sebelum serangan itu dan merasa dia tidak begitu yakin ke mana dia akan pergi.

"Saya selalu mencari tempat saya dan menyesuaikan diri karena saya tidak pernah benar-benar cocok di mana pun," kata dia.

Ia menjelaskan perjalanan ketika mau memeluk agama islam. Dia yang saat ini bekerja di bidang perhotelan telah bermigrasi bersama keluarganya dari Amerika ke Selandia Baru ketika dia berusia tujuh tahun. Christchurch adalah tempat mereka menetap. Namun, beberapa tahun yang lalu, dia memiliki pengalaman tragis yaitu ketika dia melihat pacarnya tertabrak kereta api.

"Setelah itu, saya bertanya seperti mengapa saya? Mengapa saya harus melalui itu? jika Tuhan begitu perkasa dan dia bisa melakukan apa saja, mengapa dia tidak bisa menyelamatkan saya dari keharusan melalui itu? Itu mendorong saya menjauh dari keinginan untuk setia," kata dia.

Setelah bertahun-tahun merasa tersesat secara spiritual dan emosional, peristiwa setelah serangan masjid pada 15 Maret 2019 menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Di Hagley Park, dia melihat sholat Jumat yang dihadiri ribuan orang lainnya yang masih belum pulih dari serangan itu, doa Imam sangat menyentuh hati Megan.

"Itu berirama dan itu membuat saya merasa tenang di dalam. Saya ingin ikut melakukan gerakan tetapi saya tidak tahu caranya. Jadi, saya hanya berdiri di sana dan menangis," kata dia.

Sejak pindah agama, ia mengunjungi masjid setiap hari, membaca Alquran dan literatur Islam lainnya serta menghabiskan waktu bersama Muslim lain untuk mempelajari praktik-praktik keyakinan barunya.

"Saya benar-benar merasa lebih betah dan lebih menjadi bagian dari komunitas daripada yang pernah saya miliki dalam hidup saya. Allah memanggil saya pulang," kata dia. [yy/republika]