21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Mualaf Dimas, Lebih Tertarik Belajar Islam dan Al Fatihah

Mualaf Dimas, Lebih Tertarik Belajar Islam dan Al Fatihah

Fiqhislam.com - Hidayah tidak datang secara tiba-tiba. Hal inilah yang dirasakan Dimas (Dimas). Pria asal Malang ini mengaku hidayah datang sejak dia kelas satu sekolah dasar. Dimas bersekolah di sekolah negeri yang notabene mayoritas siswa beragama Islam.

Sedangkan, Dimas mengikuti agama kedua orang tuanya, yakni Katolik. Meski belum memahami apa itu agama, Dimas kecil mulai tertarik dengan Islam.

"Saya lebih senang ikut pelajaran agama Islam karena lebih banyak murid yang belajar di kelas agama Islam dibandingkan agama saya dahulu," ujar dia.

Saking tertariknya, Dimas menjadi murid tercepat dan fasih dalam menghafal al Fatihah saat itu. Sampai pembagian rapor tiba, gurunya memanggil kedua orang tuanya dan mempertanyakan agama Dimas.

Karena di sekolah Dimas memilih belajar Islam, kedua orang tuanya pun terkejut. Khawatir Dimas semakin memperdalam pelajaran Islam, dia pun dipindahkan ke sekolah berbasis agama sesuai dengan keyakinannya hingga SMA.

Hanya empat bulan, pelajaran Islam begitu membekas di pikirannya. Hidayah kembali datang saat Dimas kelas lima SD. Saat itu Dimas pindah ke Jakarta mengikuti dinas ayahnya seorang tentara AL.

Meski bersekolah di agama, teman-teman Dimas kebanyakan Muslim. Dengan demikian, saat Ramadhan tiba, mereka pun berpuasa.

Dimas pun ikut berpuasa, hanya saja tidak sampai satu bulan atau hanya sekitar 15 hari. Meski Dimas menjalankan puasa, dia termasuk orang yang taat, bahkan menjadi pelayan tempat ibadah yang tidak sembarang orang terpilih.

Dimas terus menjadi aktivis agama meski kedua orang tuanya memutuskan berpisah dan mengikuti dinas ayahnya ke luar negeri. Pada masa ini, juga Dimas mengalami sebuah kekosongan.

Meski ayahnya bekerja, Dimas memutuskan untuk sekolah dan bekerja di tempat yang berbeda. Di luar negeri, karier Dimas memuncak, tetapi di satu sisi dia merasa hidupnya mengalami kekosongan.

"Bergelimang harta tidak membuat saya bahagia dan saya memulai pencarian tentang makna kehidupan," kata dia menjelaskan.

Pada saat hidupnya mulai tak terarah, dengan lingkungan pergaulan yang kurang baik, ia berkenalan dengan seorang Muslim pada 2010.

Meski demikian, Dimas tidak pernah menceritakan kegelisahan hatinya tentang hidup dan keyakinannya. Sekadar menjalin pertemanan dan kelamaan tertarik untuk menikah. Dimas tidak terlalu menuruti keinginan temannya ini untuk langsung memeluk Islam.

Ketertarikannya dengan Islam mulai kembali muncul. Namun, dia tidak berusaha untuk mencari guru atau teman untuk berdiskusi. Dimas mencari kebenaran seorang diri dengan memanfaatkan internet dan analisis pribadi.

Hal ini berlangsung selama tujuh bulan. Hingga satu hari dia mulai meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Dimas kemudian bersyahadat pada 14 November 2011 di Chicago.

Sejak bersyahadat, Dimas memutuskan untuk benar-benar hijrah. Dia meninggalkan pekerjaan dan karier saat sedang berada di puncak sebagai asisten manajer.

Saat itu, dia meninggalkan penghasilan yang dinilai syubhat demi menjadi lebih baik. Meski dia masih diiming-imingi penghasilan lebih besar, dia tidak tertarik untuk kembali.

Dimas kembali pulang ke Indonesia untuk menikah. Namun, sebelum menikah, Dimas menceritakan kepada keluarga tentang dia yang menjadi Muslim.

Ibu, kakak, dan adiknya tidak terlalu terkejut. Karena, mereka sudah lebih dahulu memeluk Islam sejak kedua orang tuanya berpisah. Keluarganya tentu menyambut Dimas dengan gembira.

Hanya saja, ayahnya yang sangat ketat dengan agamanya terlalu kecewa. Pasalnya, ahli waris satu-satunya yang seagama memilih pergi. Kekecewaan sang ayah terbukti dengan dicoretnya nama Dimas sebagai ahli waris.

Namun, hingga saat ini Dimas masih menjaga silaturahim dengan ayahnya. Ketika ayahnya sedang sakit, Dimas juga yang merawatnya bergantian dengan saudaranya yang lain. Meski terkadang sikap ayah tetap dingin terhadap anak-anaknya.

Ketika menikah pun, ayahnya tidak datang merestuinya. Awalnya, orang tua istrinya juga meragukan keislaman Dimas.

Mertuanya khawatir, Dimas akan kembali ke agama lamanya. Namun, kekhawatiran ibu mertua Dimas ditepis dengan istiqamahnya Dimas yang serius mendalami Islam.

Setelah menikah, Dimas diajak oleh kakak istrinya untuk mengaji mendalami agama di sebuah pesantren di Sengkaling, Malang. Dua hari setiap pekan, Dimas belajar Islam mulai dari sholat, mengaji, dan akidah.

Tak hanya itu Dimas juga dipercaya untuk mengelola pembangunan masjid yang diamanahkan ayah tirinya. Amanah ini selain berkah juga ujiannya sebagai seorang muslim.

Setelah ibunya menikah dengan seorang pengusaha asal Kuwait, ayah tirinya ingin menghadiahkan sebuah masjid wakaf untuk ibunya.

Hanya saja saat pembangunan masjid dia mendapat banyak pertentangan terutama dari warga sekitar. Saat itu Dimas dengan cepat mendapatkan lahan yang luas. Dengan mudah Dimas membangun masjid tanpa kesulitan dana, karena memang dana pembangunan masjid bersumber dari dana pribadi.

"Tetapi lantas saya dicurigai sebagai ISIS dan masjid ini akan menyebarkan ideologi yang menyimpang, karena memang saya bukan warga setempat sehingga kecurigaan semakin dalam,"ujar dia.

Selain itu, terdapat masjid yang sejak lama berdiri tetapi proses pembangunannya terkendala sehingga tak kunjung selesai. Berbeda dengan masjid wakaf keluarganya yang relatif cepat. Hampir saja Dimas mengalami tindak kekerasan karena kecurigaan tak berdasar.

"Saya ketakutan, karena saya harus menghadapi seorang diri, tetapi dengan mengajak berbagai pihak dan memeriksa latar belakang saya, warga pun menerima dan justru salut dengan niat pembangunan masjid ini,"ujar dia.

Masjid selesai dibangun, Dimas pun dihadiahi umroh dengan istrinya. Tak hanya satu kali, Dimas kembali mendapatkan panggilan Allah ke tanah suci kedua kalinya.

"Saat itu kakak tiri saya orang Kuwait sedang umroh, dan ketika bersujud terbayang saya dan istri, setelah sholat dia menghubungi saya dan meminta saya segera berangkat umrah dengan tanggungan beliau,"ujar dia.

Bagi Dimas, hal ini tidak terlepas dari keberkahan doa-doa yang dipanjatkannya. Di saat dia meminta hadiah Allah datangkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dimas, bertekad untuk hidup dengan zuhud. Namun sebagai kepala keluarga, Dimas tetap harus mencari nafkah untuk keluarganya.

Dimas kemudian memutuskan untuk menjalani anjuran Rasulullah untuk berdagang. Dimas berusaha mencari panduan usahanya pun sesuai dalam anjuran Alquran.

Pemilik Albaris Seafood ini telah menjalani bisnisnya sejak 2017 hingga saat ini. Tak hanya itu Dimas juga terus mendalami Islam dan berdakwah dengan menjadi humas Mualaf Center Malang.

Dimas merupakan pengurus pertama yang menjadi mualaf. Dia berharap sebagai mualaf, dapat memotivasi sesama Muslim lainnya yang masih rawan aqidah dan butuh pendampingan.

Saat ini dia dan rekan-rekannya terus melakukan kegiatan aksi sosial terutama di pedalaman yang rawan akidah. Salah satunya adalah warga kampung di daerah Bromo yang saat ini terdapat 90 mualaf yang 40 orang dari mereka adalah dhuafa. [yy/republika]