14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Kaiji Kadir Wada, Mualaf Jepang yang Takjub dengan Surat Adz Dzariyat

Kaiji Kadir Wada, Mualaf Jepang yang Takjub dengan Surat Adz Dzariyat

Fiqhislam.com - Allah SWT memberikan hidayah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Dengan cahaya petunjuk itu, hati dan pikiran manusia akan terbuka untuk menerima kebenaran. Sering kali, bimbingan dari Allah Ta'ala itu akan mengubah jalan hidup seorang insan sehingga dirinya memeluk Islam.

Hal itulah yang dialami Kaiji Kadir Wada. Aktivis komunitas Muslim di Jepang itu sebelumnya tidak pernah menyangka akan memeluk Islam. Pasalnya, lelaki yang kini berusia 27 tahun itu sejak kecil tinggal di lingkungan yang tidak terlalu memedulikan iman atau sekuler.

Bahkan, kedua orang tuanya cenderung bersikap skeptis terhadap agama-agama. Termasuk tentang Islam. Menurutnya, mereka se ring terpengaruh berbagai pemberitaan yang mendiskreditkan agama itu, khususnya pascaperistiwa 9/11 yang menggemparkan dunia. Satu kejadian yang turut meningkatkan atensi masyarakat Negeri Matahari Terbit pada ekstremisme ialah ketika beberapa warga negara Jepang disandera ISIS.

Media Jepang sangat intens ketika memberitakan tentang ISIS dan mengafiliasikan itu dengan Islam. Padahal, itu hanya karena anggotanya kebetulan mengaku Muslim. “Nyatanya, antara apa yang saya lihat di media dan yang saya temui secara langsung jauh berbeda,” ujar dia saat diwawancarai Republika, beberapa waktu lalu.

Kaiji menjalani masa anak-anak dan remaja di kota tempat kelahirannya. Ia berhasil menyelesaikan studi SMA dengan baik. Sesudah itu, ia meneruskan belajar ke perguruan tinggi.

Selama di kampus, Kaiji tidak hanya aktif di kelas, tetapi juga pelbagai aktivitas kemahasiswaan. Ia kemudian mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa ke luar Jepang. Pada saat pengumuman, namanya tercantum sebagai salah satu peserta yang terpilih. Ia akan dikirim ke Brunei Darussalam. Sebelum berangkat, Kaiji berusaha menambah pengetahuannya tentang negara Asia Tenggara itu. Kerajaan di dekat Kalimantan Utara tersebut memiliki populasi Muslimin yang dominan. Tidak seperti Jepang yang di dalamnya umat Islam tinggal sebagai minoritas.

Pada 2015, Kaiji pun diberangkatkan ke Bandar Seri Begawan. Setibanya di bandar udara setempat, beberapa orang menyambutnya. Mereka adalah pasangan suami-istri yang akan menjadi orang tua angkatnya selama di negara tersebut.

Menurutnya, masyarakat Brunei sangatlah ramah dan baik. Di universitas tempatnya belajar, Kaiji tidak pernah merasa kesepian atau terisolasi. Ia pun berteman dengan banyak mahasiswa setempat.

Satu hal yang membuatnya sangat terkesan ialah pola hidup mereka. Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kesehariannya.

Kaiji saat itu baru menyadari, agama tersebut memiliki ritual doa minimal lima kali dalam sehari. Tanda masuknya waktu ibadah itu ditandai dengan kumandang suara yang dinamakan azan. Fenomena shalat ini kemudian ditanyakannya kepada beberapa kawan.

“Di Brunei, saya baru paham dan mengenal tentang ajaran Islam. Teman-teman saya di sana selalu antusias dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya (tentang Islam). Kami mengobrol biasa saja. Saat itu, belum ada ketertarikan dari saya pribadi untuk memeluk Islam,” tuturnya.

Walaupun tinggal di tengah masyarakat Muslim, ajaran Islam belum begitu memengaruhi Kaiji pada waktu itu. Ia masih suka menghabiskan waktu dengan pergi ke bar untuk menenggak minuman keras dan sebagainya. Walaupun, untuk itu, dirinya harus jalan-jalan hingga ke Singapura. Kebiasaan itu memang sudah sering dilakukannya sejak masih di Jepang.

Begitu lulus dari kampusnya di Brunei, Kaiji merencanakan liburan. Di Negeri Singa, ia bersenang-senang dengan beberapa temannya untuk merayakan kesuksesan. Sesudah itu, dirinya kembali ke negara asalnya untuk mencari pekerjaan.

Kaiji melalui hari-harinya dengan biasa. Pagi hari, bersiap ke kantor. Setelah berjamjam di sana, pulang ke rumah untuk be r istirahat. Namun, pada akhirnya dirinya merasa hampa. Terasa ada kekosongan dalam hatinya yang perlu diisi. Ketika ada waktu luang, Kaiji mulai merenungi kehidupnya sejauh ini. Satu pertanyaan eksistensial tak lepas dari pikirannya. Sebenarnya, apa tujuan dirinya hidup? Manusia hidup untuk apa?

“Saya mulai khawatir. Muncul pertanyaanpertanyaan dalam hati, apa sebenarnya tujuan saya hidup,” katanya. Kaeji merasa, kewajibannya sebagai manusia dewasa telah ditunaikan. Ia telah melalui tahapan-tahapan kehidupan. Jenjang-jenjang pendidikan telah dilaluinya sejak sekolah dasar hingga lulus kuliah. Bahkan, ia kini telah bisa hidup mandiri. Penghasilannya dari bekerja sangat mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, tetap saja muncul kegelisahan tentang makna esensial kehidupan.

Kaiji lalu teringat perkataan yang disampaikan seorang kawannya di Brunei. Temannya yang Muslim itu pernah berkata, Alquran memiliki jawaban atas apa pun pertanyaan dalam hidup. Kaiji pun berusaha mendapatakan mushaf kitab suci agama Islam itu. Karena belum bisa berbahasa Arab, dirinya mencari terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang. Mushaf yang diperolehnya juga dilengkapi dengan panduan tentang dasar-dasar ajaran Islam.

Saat melihat indeks, ia terkejut karena membaca keterangan tentang tujuan hidup manusia berkaitan dengan Alquran surat Az Zariyat ayat 56. Ia pun segera mencari terjemahan ayat tersebut,

Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Menurut Kaiji, hati dan pikirannya terasa tenteram sesudah membaca teks tersebut.

“Semua jawaban yang saya inginkan ada dalam Alquran, kemudian saya mulai mem praktikan apa yang saya pelajari dalam Alquran meski belum bersyahadat, ujar dia. Mulai saat itu, Kaiji terpanggil untuk mem pelajari Islam. Dimulai dari mengkhatam kan terjemahan Alquran.

Meskipun tidak selalu dari awal hingga akhir, ia membacanya dengan penuh antusias. Sering kali, ia mulai dengan membuka indeks dan menemukan tema-tema yang menarik perha tiannya, seperti kisah tentang Nabi Adam AS sebagai manusia pertama atau para rasul.

Tidak cukup dengan itu, Kaiji pun merasa perlu untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang Islam. Memang, Jepang bukanlah Brunei yang di dalamnya sangat mudah menemukan kaum Muslimin. Namun, ia pantang menyerah. Berdasarkan pengalamannya selama merantau di Brunei, Kaiji mengetahui bahwa para lelaki Muslim akan berdatangan ke masjid setiap Jumat siang.

Mereka hendak melakukan sholat yang diselingi ceramah selama beberapa menit. Maka, setiap hari Jumat, dirinya rutin mendatangi Masjid Tokyo Camii di ibu kota. Tujuannya, untuk menyaksikan langsung suasana sholat Jumat setempat. Syukur-syukur bila ada diskusi pada sore harinya untuk umum, termasuk warga non-Muslim yang ingin mengenal Islam lebih dekat.

Satu tahun lamanya, Kaiji mempelajari dasar-dasar Islam. Dari yang awalnya tertarik untuk sekadar mengenal agama ini, akhirnya pria Jepang itu ingin menjadi Muslim. Ke inginan itu tak seketika terwujud.

Sebab, ia belum menemukan saat-saat yang tepat. Allah memberikan kemudahan untuknya. Siapa sangka, ternyata atasan di kantor tempatnya bekerja adalah orang Islam. Bosnya itu kemudian mengajaknya untuk bertemu dengan seorang imam Masjid Tokyo Camii.

Hari itu, Jumat, 6 Oktober 2017. Sang imam menanyakan kepadanya, apakah sudah siap berislam. Kaiji untuk sesaat tak bisa berkata-kata. Ulama tersebut kemudian memintanya berpikir masak-masak. Kaiji pun terdiam. Ia pun berandai-andai, jika bukan pada hari itu, kesempatan untuk bersyahadat mungkin saja akan hilang. Bahkan, siapa tahu usia hidupnya di dunia akan terhenti esok atau lusa?

Ia kembali memasuki masjid. Kali ini, raut wajahnya menyiratkan rasa percaya diri. Tekadnya sudah bulat untuk memeluk Islam. Maka, imam Masjid Tokyo Camii membimbingnya untuk bersyahadat dengan disaksikan sejumlah jamaah.

Sesudah prosesi itu, Kaiji memilih nama barunya: Kadir. Sang imam memberi tahu bahwa qadir berasal dari salah satu asmaul husna, Al-Qadir. Artinya, Allah Mahaberkehendak. Dengan nama Kadir itu, Kaiji ingin selalu ingat bahwa dengan ke hendak Allah-lah dirinya dimu dah kan untuk mendapatkan hidayah.

Setelah memeluk Islam, perubahan dalam dirinya kian terasa. Kaiji mulai menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, dan tawadhu. Sikap itu tetap ditunjukkannya, termasuk ketika dilanda ujian hidup. Mula-mula, kedua orang tuanya menunjukkan kegusaran begitu mengetahui bahwa putranya kini telah menjadi Muslim. Mereka masih saja menyangka, Islam adalah agama yang mendukung kekerasan.

“Saya membutuhkan waktu untuk menunjukkan kepada mereka, seperti apa Islam yang sebenarnya. Ini adalah tugas atau misi saya untuk membuat mereka tahu dan paham tentang Islam,” ujar Kaiji.

Ia pun selalu berdoa kepada Allah SWT agar hati kedua orang tuanya terbuka. Lambat laun, sikap ibunya mulai melunak. Sang ibu tidak hanya menghormati keputusannya berislam. Bahkan, perempuan yang amat dikasihinya itu sering menunjukkan perhatian yang besar, semisal, mengirimkan makanan halal untuknya. [yy/republika]