22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Respon MUI Karawang tentang Ritual Buang Celana Dalam di Gunung Sanggabuana

Respon MUI Karawang tentang Ritual Buang Celana Dalam di Gunung Sanggabuana

Fiqhislam.com - Ritual buang celana dalam di Pegunungan Sanggabuana menjadi sorotan publik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Karawang menyayangkan aktivitas tersebut yang dinilai merusak akidah.

Ketua MUI Karawang Tajuddin Nur mengatakan ritual buang celana dalam merupakan ajaran animisme yang dekat dengan kemusyrikan.

"Malah saya baru dengar soal ritual itu, itu sudah masuk animisme, atau istilah dalam Islam itu khurafat. Ujungnya nanti mengarah pada kemusyrikan," kata Tajuddin saat dihubungi, Selasa (26/10/2021).

Dia menjelaskan khurafat merupakan kepercayaan yang bukan berasal dari ajaran Islam, yang meliputi cerita yang direkayasa, mengandung dusta. Seperti pantangan-pantangan, ramalan-ramalan, adat istiadat, pemujaan dan segala kepercayaan yang bertentangan dengan aqidah dalam ajaran Islam.

"Kalau tanggapan saya baik secara agama maupun pribadi itu di Islam tidak ada seperti itu. Itu kan tahayul! Buang sial gitu dari zaman Rasul pun sudah ada melalui pelepasan burung bakal melepas sial dan banyak lagi kisah khurafat lainnya," ucapnya.

Melihat fenomena tersebut, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) untuk memberikan arahan kepada para ulama di wilayah Pegunungan Sanggabuana.

"Bahkan bisa jadi di setiap pengajian banyak warga yang mungkin ikut-ikutan dalam ritual-ritual seperti itu. Jadi nanti kami akan coba komunikasi dan koordinasi dengan Disparbud dan berikan arahan kepada para ulama di wilayah Tegalwaru untuk menyampaikan ceramah-ceramah dalam memperkuat akidah akhlaknya," ucapnya.

Bukan hanya merusak akhlak saja, ia juga mengakui dengan ritual itu pun bisa merusak alam yang ada dan tidak ada kebermanfaatan.

"Itu kan juga mengotori alam sekitar, dan tidak ada kebermanfaatan," ujarnya. [yy/news.detik]