22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Tokoh Sayap Kanan Prancis Minta Muslimah Lepas Jilbab di TV

Tokoh Sayap Kanan Prancis Minta Muslimah Lepas Jilbab di TV

Fiqhislam.com - Sebuah video mengejutkan yang menampilkan jurnalis politik dan juga tokoh sayap kanan Prancis, Eric Zemmour memicu kontroversi. Video itu memperlihatkan saat ia berinteraksi dengan seorang wanita berkerudung yang tinggal di Drancy dan meminta agar melepas jilbabnya untuk menunjukkan "bahwa dia bebas".

Dilansir dari The New Arab, Senin (25/10), wanita itu pada gilirannya meminta Zemmour untuk melepas dasinya, dengan alasan bahwa jilbabnya adalah pilihan pakaian pribadi yang sama. Dia kemudian melanjutkan untuk melepas jilbabnya di depan kamera, dan bertanya kepada Zemmour: "Saya akan melepasnya, apakah itu berarti Anda akan mulai menghormati saya?, "

"Hijab bukan yang membuat agama, seperti memakai dasi tidak membuat Anda lebih pintar," kata wanita itu.

Video itu disiarkan di saluran berita Prancis CNews, yang telah lama berkembang dengan kepribadian kontroversial Eric Zemmour. Acara yang menjadikannya sebagai komentator di acara-acara populer dan mengubahnya menjadi salah satu karakter paling sentral di TV Prancis.

Zemmour belum menjadi kandidat yang diumumkan dalam pemilihan Prancis, tetapi beberapa jajak pendapat menilai dia dengan 16 persen niat memilih. Ini menjadikannya kandidat paling populer kedua setelah Presiden Emmanuel Macron dan tepat di depan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen.

Dalam buku Muslim Women's Political Participation in France and Belgium, East-Daas menemukan, wanita Muslim di Prancis menghadapi rintangan dalam berpartisipasi dalam politik, seringkali karena afiliasi agama mereka. Hal ini semakin terlihat ketika akun tweeter resmi pemerintah yang terkait dengan Kementerian Dalam Negeri Prancis mengeluarkan sebelas kata-kata kasar yang menentang penggunaan kata Islamophobia untuk menggambarkan sentimen anti-Muslim.

"Pemerintah Prancis menyangkal dan menolak istilah Islamofobia dan membangkitkan gagasan yang bisa dibilang jauh lebih samar tentang fungsi 'Islamisme' untuk menjelekkan dan membedakan Muslim Prancis di berbagai tingkatan," kata East-Daas. [yy/republika]