22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Kisah Haru drg Carissa Grani Jadi Mualaf

Kisah Haru drg Carissa Grani Jadi Mualaf

Fiqhislam.com - Memutuskan menjadi mualaf bukanlah hal mudah. Banyak orang mendapat hidayah Islam dari kejadian tidak terduga. Seperti dialami oleh Dokter Gigi Carissa Grani MM AAAK. Hatinya mulai terbuka saat awal pandemi covid-19.

Dikutip dari tayangan video di kanal YouTube Rasil TV, Kamis (14/10/2021), drg Carissa Grani menceritakan pengalamannya menjadi seorang mualaf. Saat awal pandemi, tepatnya pada Maret 2020, semua orang khususnya masyarakat mulai diimbau memperketat protokol kesehatan. Mulai memakai masker hingga menjaga jarak.

Di situlah drg Carissa melihat ada sesuatu yang aneh, seperti sedang melihat ajaran Islam, yakni menjaga wudhu, tidak bersentuhan yang bukan mahramnya, memakai niqab, dan saat ini diwajibkan memakai masker.

"Tapi enggak tahu kenapa, di awal pandemi kayak saya dilihat adalah kok kayak Muslim gitu karena sekarang kita kayak dipaksa pakai niqab ya," kata drg Carissa Grani.

Sejak itu perempuan berusia 37 tahun tersebut sempat berpikir ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Usai pergi beribadah pun rasanya hampa, justru memikirkan tentang ajaran-ajaran Islam yang indah.

Kemudian ibu tiga anak ini langsung mencari tahu tentang Islam, mulai manfaat berwudu hingga keutamaan sholat. Ternyata semua itu juga bisa dijelaskan berdasarkan ilmu medis.

"Apalagi saya dengan latar belakang medis kan, saya melihat dan iseng browsing manfaat wudu, manfaat gerakan sholat, kenapa orang pakai niqab. Dalam medis bisa dibuktikan, dan ajaran agama juga masuk," tuturnya.

Setelah berbagai pergolakan di dalam hatinya, ia menceritakan keresahannya itu kepada temannya yang Muslim. Kemudian drg Carissa memutuskan untuk membaca dua kalimat syahadat, dibimbing di Mualaf Center Jakarta Barat.

Namun setelah mualaf, jalan sang dokter belum sepenuhnya mulus. Ia masih harus sembunyi-sembunyi dari suaminya untuk melaksanakan sholat. Hingga pada akhirnya semua terbongkar. Suami drg Carissa marah besar. Ia dianiaya, dipukul, bahkan sempat diancam ingin dibunuh.

"Rambut saya dijambak, ditarik ke kamar, kepala saya dijedug-jedugin ke tembok," cerita drg Carissa.

Akhirnya ia jujur kepada seluruh keluarganya bahwa sudah menjadi mualaf. Perlahan lingkungannya pun menerimanya, dan drg Carrisa dapat menjalankan sholat dan ibadah lainnya dengan tenang. Kemudian memutuskan berpisah dengan suaminya karena sudah tidak seiman. Wallahu a'lam bishawab. [yy/okezone]