21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Abdul Hamid Kisyk, Mubaligh Pemberani dari Negeri Piramida

Abdul Hamid Kisyk, Mubaligh Pemberani dari Negeri PiramidaFiqhislam.com - Masjid 'Ain al-Hayah di Jalan Mishrwa Al-Sudan, Kairo, menjadi saksi perjuangan seorang mubaligh masyhur Mesir sekitar empat dekade lalu. Mimbarnya, yang tak lain adalah 'panggung' sang syekh, merekam jutaan seruan yang mengajak Muslim Mesir mencintai Tuhan, juga hujatan atas berbagai ketimpangan.

Mubaligh luar biasa itu bernama lengkap Abdul Hamid Abdul Aziz Muhammad Kisyk. Ia adalah Muslim terpelajar Mesir yang juga seorang aktivis dan penulis. Lembaran hidupnya penuh dengan coretan perjuangan dan dakwah, juga kurungan penjara.

Banyak sumber mengatakan, Kisyk dikenal karena humornya, kepopuleran khutbahnya, dan penolakannya pada poligami. Di samping itu, ia adalah pembenci ketidakadilan dan penindasan terhadap Muslim dunia serta masyhur karena pendiriannya yang blak-blakan menentang musik.

Abdul Hamid Kisyk lahir di Syubrakhit, sebuah desa dekat Damanhur, pada 1933. Kisyk telah menjadi yatim saat ia belum menginjak usia sekolah. Pada usianya yang kedelapan, ia telah berhasil menghapalkan Alquran. Ia bersekolah di Iskandariyah dan kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Lulus sebagai sarjana teologi, Kisyk bekerja selama beberapa waktu di Kementerian Wakaf Mesir sebagai imam dan khatib masjid. Amanah yang diembannya itu menjadi titik awal aktivitas dakwah Kisyk bagi Mesir.

Lepas dari pekerjaan itu, sejak 5 Mei 1964, ia menjadi khatib independen di Masjid Ain Al-Hayah yang juga dikenal sebagai Masjid Al-Malik. Posisi itu dijalaninya selama 17 tahun hingga 28 Agustus 1981. Kemasyhurannya kian terdongkrak dalam masa itu.

Di luar itu, Kisyk adalah tokoh yang tidak sepakat dengan pemerintahan Presiden Gamal Abdel Nasser. Ia mengalami konflik dalam beberapa persoalan dengan rezim yang berkuasa sejak 1952 hingga 1970 itu. Misalnya, ia menolak memberi fatwa terhadap opsi yang menyetujui vonis mati bagi Sayyid Quthb pada 1966.

Kisyk juga tidak bersedia menjawab pertanyaan tentang kesesuaian antara sosialisme Arab dengan Islam. Melalui sikapnya itu, ia mengidentikkan dirinya sebagai seorang pembangkang di hadapan penguasa yang membawanya pada dunia tahanan.

Sebagai seorang penceramah di Masjid Ain Al-Hayah, Kisyk kerap mengutuk kondisi sosial dan penindasan terhadap organisasi Gerakan Islam di negaranya itu. Hal itu tidak menghentikannya untuk menggunakan pendekatan spiritual bagi kehidupan. Lewat khutbah-khutbahnya, ia juga banyak mengkritisi pemerintahan rezim Nasser. Akibat kritik-kritiknya, ia dimasukkan penjara pada 1965 dan menjalani kurungan besi selama dua setengah tahun.

Pada 1981, Kisyk kembali ditangkap, tak lama sebelum peristiwa pembunuhan terhadap Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat. Setahun kemudian, ia dibebaskan oleh penerus Sadat, Hosni Mubarak, dengan catatan ia harus mengakhiri kariernya sebagai aktivis publik.

Pembatasan pada gerakannya tak menghapuskan keberadaan Kisyk sebagai tokoh berpengaruh kala itu. Meski kehilangan 'panggungnya' sejak masjid tempat ia biasa berkhutbah berubah menjadi pusat kesehatan publik, kaset rekaman pidato Kisyk tetap beredar luas kala itu.

Keberlanjutan dakwah Kisyk melalui pita kaset yang berisi ceramahnya itu serupa dengan fenomena pemimpin Iran Ayatullah Khomeini yang mulai berkuasa sejak 1979. Karena itu, media Barat kadang menyebut Kisyk sebagai Khomeini-nya Mesir.

Satu hal yang tidak biasa dalam keulamaan Kisyk kala itu adalah penentangannya terhadap musik. Dalam sebuah ceramah yang disampaikannya pada 10 April 1981, ia mengatakan bahwa Alquran Surat Al-Isra (17) ayat 61-65 mengandung gambaran tentang bahaya nyanyian. "Lagu adalah suling syaitan, pengantar pada perbuatan zina!" seru Kisyk kala itu.

Tokoh yang dikenal oleh pengikutnya dengan nama Syekh Abd Al-Hamid itu melihat peringatan itu terutama pada ayat 64. Dalam ayat tersebut Allah berkata pada setan yang telah membangkang untuk mengajak siapa pun dengan suaranya, untuk menjadi bagiannya.

"Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka (manusia) dengan suara (ajakan)-mu dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan berilah mereka janji. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka." (QS. Al-Isra': 64).

Selain itu, salah satu isu yang digunakan Kisyk untuk menyerang sekularis Mesir adalah soal al-ahwal asy-syakhshiyah atau kesalehan pribadi. Ensiklopedi Oxford menyebutkan, tabligh Kisyk menitikberatkan soal itu, bukan mengenai segala sesuatu semacam kekuasaan duniawi. Karena itu, ia lebih tertarik pada mukjizat para wali, metafisika jiwa, eskatologi, dan kematian.

Serangan pada sekularis yang paling tampak adalah ketika sebuah hukum tentang hubungan pasangan disahkan. Hukum tersebut mengharuskan pria memberitahu istri mereka jika mereka telah menikahi wanita lain. Menurut hukum baru itu, jika ternyata sang istri merasa keberatan, maka ia bisa mendapatkan perceraian. Namun, dengan tetap mempertahankan haknya untuk tetap tinggal di rumah suaminya hingga anak-anaknya dewasa.

Hukum yang dirancang Kementerian Sosial bersama sebuah komisi berisi sejumlah sarjana Al-Azhar itu membangkitkan amarah Kisyk dan sejumlah syekh kala itu. Kisyk berpendapat hal itu bertentangan dengan syariah Islam. Soal jihad, Kisyk melihat bahwa ia bukan sekadar memerangi kebatilan. Baginya, jihad yang besar adalah perjuangan tanpa henti dan bertujuan menundukkan fitrah seseorang serta menyesuaikan diri pada standar moral yang ditetapkan Allah.

Abdul Hamid Kisyk wafat pada 6 Desember 1996 dalam usia 63 tahun. Jumat siang itu, seperti biasa ia berangkat menuju masjid tempat ia biasa berkhutbah. Ia tengah menunaikan shalat tahiyatul masjid ketika terhenti pada gerakan sujud saat menuntaskan rakaat keduanya. Kisyk meninggal dalam sujud terakhirnya yang damai.

republika.co.id