17 Safar 1443  |  Sabtu 25 September 2021

basmalah.png

Hujjatul Islam: Najamuddin At-Tufi, Ulama yang Luas Ilmunya

Hujjatul Islam: Najamuddin At-Tufi, Ulama yang Luas IlmunyaFiqhislam.com - Bagi sebagian besar umat Islam, nama Najamuddin At-Tufi, mungkin masih terasa asing di telinga. Namanya memang tidak setenar Yusuf Al-Qardhawi, Ibnu Taimiyah, Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hambal, atau Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya.

Namun demikian, di kalangan tokoh Muslim dan peminat ilmu hukum Islam, ketokohan ulama asal Bagdhad, Irak, ini banyak diperhitungkan. Namanya disejajarkan dengan nama besar nama Ibnu Taimiyah, sang guru At-Tufi.

At-Tufi dikenal sebagai salah seorang ulama madzhab Hambali, yang kritis dan tajam dalam menetapkan hukum-hukum Islam, terutama berkaitan dengan kemashalahatan umat.

Contohnya, dalam kasus potong tangan bagi pencuri. Dalam kasus tertentu, hukum potong tangan ini, menurut At-Tufi, tidak perlu dilakukan, manakala yang orang yang mencuri ini terpaksa melakukan perbuatan tersebut demi keselamatan jiwanya.

Hal serupa juga pernah dilakukan oleh Umar bin Khathab RA, saat menjadi khalifah, menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika itu, sang pencuri tidak dipotong tangannya. Mengingat, ia terpaksa melakukan pencurian di rumah majikannya, karena sudah beberapa bulan gajinya tidak dibayarkan.

Padahal, ia sangat membutuhkan uang gaji tersebut untuk makan anak dan istrinya yang sudah beberapa hari tidak makan. Oleh Khalifah Umar RA, sang pencuri ini malah diberikan sejumlah uang dan sang majikan diberikan hukuman dengan membayar uang kepada pencuri tersebut.

Dalam kasus ini, At-Tufi melihat bahwa dalil-dalil Alquran yang qath'i (sudah jelas hukumnya), masih bisa berubah, apabila ada persoalan lain yang manfaatnya lebih besar. Menurutnya, langkah Khalifah Umar tidak melaksanakan potong tangan kepada si pencuri, bukan berarti tidak melaksanakan hukum Allah, melainkan menyelamatkan jiwa si pencuri.

Ini sesuai dengan maqasid asy-syariah (maksud hukum Islam), yakni menyelamatkan jiwa (Hifzh an-Nafs), memelihara agama (Hifzh ad-Din), menyelamatkan harta (Hifzh al-Maal), memelihara keturunan (Hifzh an-Nasl), dan memelihara akal (Hifzh al-Aql).

Begitu pula mengenai hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari mengenai larangan perempuan menjadi pemimpin, Lan yufliha al-Qaumu wa law amruhum imra'atan, tidak akan bahagia suatu kaum, apabila menyerahkan kepemimpinannya kepada perempuan.

Menurut At-Tufi, hadis ini bukan bermakna umum, melainkan khusus. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah yang melarang perempuan untuk keluar rumah. Karena larangan tersebut, mereka jarang sekali terlibat dalam persoalan-persoalan kemasyarakatan. Oleh karena itu, kata At-Tufi, akan sangat berbahaya menyerahkan kepemimpinan negara atau masyarakat kepada kaum perempuan yang mereka sendiri tidak mengetahui perkembangan masyarakat.

Sebaliknya, tambah At-Tufi, di zaman sekarang ini, sudah banyak kaum perempuan yang bersekolah dan memiliki kemampuan serta keahlian, baik ekonomi, politik, pendidikan, dan lainnya. Karena itu, At-Tufi membolehkan kaum perempuan untuk memimpin sebuah negara.

Selain masalah ini, masih banyak lagi pandangan At-Tufi yang kritis dalam memahami hukum Islam. Ia tak segan-segan mengkritik ulama-ulama yang menetapkan hukum berdasarkan sumber yang ada tanpa menelaah tujuan besar dari hukum Islam (Maqasid As-syariah).

Nama lengkap ulama ini adalah Najamuddin Abu Ar-Rabi' Sulaiman bin Abdul Qawi bin Abdul Karim bin Sa'id At-Tufi As-Sarsari Al-Baghdadi Al-Hambali.

Ia lebih terkenal dengan panggilan At-Tufi, nama sebuah desa di daerah Sarsar, Irak. Di desa inilah, Najamuddin At-Tufi dilahirkan pada 657 H (1259 M) dan meninggal dunia pada 716 H (1318 M).

Selain At-Tufi, ia juga populer dengan panggilan Ibnu Abu Abbas. Berdasarkan keterangan ini, Najamuddin lahir setahun setelah serbuan pasukan Mongol ke Kota Baghdad yang dipimpin oleh Khulagu Khan pada 1258 M.

At-Tufi adalah seorang yang cinta terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dipahami dari petualangannya belajar dalam berbagai disiplin ilmu di berbagai tempat dari beberapa alim ulama yang masyhur di zamannya.

Berbagai disiplin ilmu yang dipelajari At-Tufi, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, mantiq, sastra, teologi dan sebagainya. Adapun tempat-tempat yang pernah dikunjunginya untuk menuntut ilmu pengetahuan antara lain, Sarsari, Baghdad, Damaskus, Kairo dan tempat lainnya yang banyak bermukim para alim ulama yang masyhur.

Pada usia muda, At-Tufi belajar di desa kelahirannya, dengan mempelajari dan menghapal kitab fikih Mukhtasar al-Khiraqi, karya Umar Ibnu Al-Husein bin Abdullah bin Ahmad Al-Khiraqi dan mempelajari ilmu nahwu kitab Al-Luma', karya Abu Al-Fathi Usman bin Jani. Kemudian, At-Tufi belajar fikih pada Syekh Zainuddin Ali bin Muhammad As-Sarsari, salah seorang ahli fikih mazhab Hanbali yang terkenal dengan sebutan Ibnu Al-Bauqi.

Pada tahun 691 H, At-Tufi pergi ke Kota Baghdad dan belajkar kitab Fiqh al-Muharrir, karya Muhiduddin Ibnu Abdul Salam bin Taimiyah pada Syekh Taqiyuddin Az-Zarairati—salah seorang ahli fikih Irak.

Disamping itu, At-Tufi juga belajar bahasa Arab dan ilmu sharaf pada Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Husein Al-Muwassili. Kemudian, ia juga belajar ushul fiqh pada An-Nasr Al-Faruqi dan alim ulama lainnya. Sesudah itu, At-Tufi mempelajari ilmu faraidh dan logika.

Pada saat yang sama, ia belajar hadis pada Ar-Rasyid bin Al-Qasimi, Ismail bin At-Tabbal, Hafiz Abdul Rahman Sulaiman Al-Hirani dan ahli hadis, Abu Bakar Al-Qulanisi, serta ulama lainnya.

Pada tahun 704 H, At-Tufi mengunjungi Kota Damsyiq untuk belajar hadis pada Ibnu Hamzah, Taqiyuddin Ibnu Taimyah, Al-Maz dan Al-Barzali. Setahun kemudian (705 H), ia berkunjung ke Kota Kairo dan belajar pada Al-Hafiz Abdul Mukmin bin Khallaf, Qadi Sa'duddin Al-Harisi dan Abu Hayyan, penulis Mukhtasar, kitab Sibawaihi.

Menurut Mustafa Zaid, dalam kitabnya Al-Maslahah, At-Tufi dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas dan mempunyai ingatan kuat. Ingatan kuat dan kecerdasan adalah faktor penting dalam belajar. Karena, ingatan merupakan gudang penyimpanan data dan informasi yang penting. Sedangkan kecerdasan sangat berguna untuk pengembangan keilmuan.

Ditambahkan, Muhammad Mustafa Syalabi, dalam bukunya Ta'lil al-Ahkam, disamping cerdas dan mempunyai ingatan yang kuat, At-Tufi juga dikenal dengan cara berpikirnya yang rasional dan ia penganut berpikir bebas.

Dalam berpikir bebas ini, At-Tufi disejajarkan dengan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Al-Qayyim. Karena itu, Syalabi menyebut ketiga ulama tersebut (At-Tufi, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu al-Qayyim), sebagai trio penganut berpikir bebas dari mazhab Hanbali. Diduga, cara At-Tufi dalam berpikir bebas itu karena pengaruh dari gurunya, Ibnu Taimiyah.

Dari petualangan At-Tufi menuntut berbagai disiplin ilmu di atas, menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu. Syalabi menyebut At-Tufi sebagai seorang ulama yang luas ilmunya.

Najamuddin At-Tufi, dikenal sebagai seorang ulama yang luas pengetahuannya. Tak heran, ia menguasai berbagai bidang ilmu. Seperti ilmu fiqih, tafsir, hadis, sharaf, nahwu dan lain sebagainya.

Ia juga banyak menulis buku dan kitab, sesuai dengan disiplin ilmunya. Mulai dari Alquran dan hadis, ilmu ushuluddin (teologi), fiqih, ushul fiqih, bahasa, serta sastra. Di antara karya-karyanya antara lain Al-Iksir fi Qawa'id at-Tafsir, Al-Isyarat al-Ilahiyat la al-Mahabis Al-Ushuliyah, Mukhtasar al-Ma'alim, Qudwat Al-Muhtadin ila Maqasid ad-Din, Halal al-'Aqdi fi Ahkam al-Mu'taqid, dan Al-Azab al-Wasib 'ala Arwah an-Nawasib.

Selain itu, ia juga menulis sejumlah kitab lainnya, seperti Mukhtasar ar-Raudah al-Qudamiyah, Syarh Mukhtasar ar-Raudah al-Qudamiyah (tiga jilid), Mukhtasar al-Hasil, Az-Zari'ah ila Ma'rifat Asrar Asy-Syariat, Ar-Ryad an-Nawazir fi al-Asybah wa an-Naza'ir, Muqaddimah fi Ilm Al-Fara'id, Tuhfat Ahl al-Adab fi Ma'rifat Lisan al-Arab, Mawaid al-Haisi fi Syi'ri Imri' al-Qais, dan lain sebagainya.

Dari sejumlah karya At-Tufi dalam berbagai disiplin ilmu tersebut, enam kitab di antaranya dijadikan referensi oleh Mustafa Zaid dalam bukunya Al-Maslahat fi at-Tasyri'i al-Islami wa Najamuddin at-Tufi. Keenam karya tersebut adalah Al-Iksir fi Qawaid at-Tafsir (bidang tafsir), Mukhtasar ar-Raudat al-Qudamiyah dan syarah-nya (dalam bidang ushul fiqih), As-Sa'qaf al-Gadabiyah fi Ar-Radd 'ala Munkari al-Arabiyah (dalam bidang sastra), Mukhtasar at-Turmudzi (dalam bidang hadis), Syarh al-Arba'in Nawawiyah (dalam bidang hadis), dan Al-Isyarat al-Ilahiyat ila al-Mahabis al-Ushuliyah (dalam bidang Alquran).

Pada tahun 714 H, At-Tufi menunaikan ibadah haji, dan tahun berikutnya (715 H), ia berhaji lagi. Kemudian kembali ke Syam dan bertempat tinggal di Palestina, sampai meninggalnya pada tahun 716 H.

republika.co.id